Saturday, March 16, 2013

Live Up, Write Down

     It's Saturday night. It should be the right time to hang out with our boy/girlfriend or just coffee-ing while listening to the local band who covering The Beatles' songs. I don't do both of them. I don't have boyfriend now and I don't have any plans to leave my comfort bed.

     I prefer to write something on my journal. Yes, this blog is my modern journal book.

     I like writing. I wrote all of the things I wanna write. Poems, quotes, recipes, and/or everything that I found along the street. Writing is my way to keep my brain awake.

     Writing keeps me thinking that I still always have a place to tell with. Sometimes, I don't tell what I feel because I'm not asked or just because I don't need to tell. And in this place, in my modern journal, I can tell everything I felt without worrying about the comments from others. It's different when I write what I feel on twitter or facebook or something else, I feel safe to write here.

     By writing, I do believe that the world is wide. And wild. I can write the story about the people in the other world side. I can tell about the unknown person. I can many things. Everything.

     I wrote a poems when fell in love with my ex-boyfriend. I wrote a short-story when I was with him. I wrote an emotional note when he broke me up. And I wrote a note while sending a grateful feeling to not to be with him.

     Writing is about story telling. I wonder when I am 60 or 70, I just sit on my sleepy chair and read this journal to my grandchilds. Telling that their grandma has many stories to tell.

     And at that, my grandchilds probably will read this note and I will smile or even laugh by reading this with them :))

Happy New You, A Jason Mraz's Note

Suddenly all time and space feel as
if they’ve collided with you;
something new.
You are the future; and each step I
take awake in 13 seems no
different from those I make in my
dreams.
Every moment I am deeper in this
dreaming, believing it’s reality I am
seeing.
No longer is the dream outside of
me. Everything is and lives as and
within every part of me.
I am grateful to be alive; grateful
to have spun around the sun once
again and won in wanting this
fragile flesh to survive.
I am grateful for what I learn;
having this brain, body, and ego
kicked; many times burned.
I am solid in the heart; awake to
new love and new ideas; anxious to
start.
I am reliable, pliable, and strong;
designed to be hard working,
poetic and of song.
I am everything I ever dreamed I’d
be; the ‘wondering if’ is now true.
I bow in awe and gratitude; as well
as in service. Happy New You.

Wednesday, March 13, 2013

I Choose To Be With Them. What About You?

     Saya sebenernya udah nahan-nahan untuk nggak nulis ini sejak 3 hari kemarin. Karena, seperti biasanya, kalau saya nulis tentang ini biasanya saya agak kebawa emosi. Tapi hari ini, saya udah janji untuk nggak emosi dan nggak nulis "kasar" lagi karena banyak alasan yang membuat kadar emosi saya akhir-akhir ini berkurang. Thank you to Mother Nature for making a balance body and soul maker called yoga.

     Minggu, 9 Maret 2013 GMT+0 atau Senin dinihari waktu Indonesia, sebuah kabar amat sangat menggembirakan *seharusnya* untuk rakyat Indonesia. Yah, seharusnya hal itu menjadi kabar baik bagi Indonesia. Saya malam itu meneteskan air mata haru untuk kesekian kalinya karena hal ini. Siapa yang tidak terharu dan meneteskan air mata bangga kalau 2 orang manusia -yang tidak terlalu dikenal masyarakat- berhasil mempertahankan gelar prestisius sekelas All England, 2 tahun berturut-turut.

     Malam itu, tidak banyak orang tahu tentang hal ini. Saya yakin, mereka pasti punya alasan sendiri mengapa harus tidak tahu kabar menggembirakan sebesar ini. Bukankah sudah biasa bila banyak orang di Indonesia tidak tahu kabar baik dari banyak bidang selain sepakbola? Lihat saja juara olimpiade sains yang berhasil memenangkan event-event besar internasional, adakah yang mengingat? Kalah dihinakan, menang dilupakan. Begitulah SOP yang berlaku.

     Masih jelas di ingatan saat tim Thomas-Uber Indonesia gagal di perempat final tahun lalu. Cercaan, hinaan, cacian dan makian bertebaran di mana-mana. Padahal sebelumnya Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir juga memenangkan gelar All England setelah beberapa tahun gelar besar tersebut tidak pulang ke Indonesia. Terakhir gelar juara All England direbut oleh pasangan Chandra Wijaya/Sigit Budiarto di awal tahun 2000-an.

     Masih ingat pula ketika Indonesia gagal mempertahankan tradisi emas Olimpiade yang sudah didapat sejak pertama kali bulutangkis dipertandingkan di OG tahun 1992. Masyarakat mencerca, menghina dan di twitter, banyak sekali orang yang tiba-tiba berubah menjadi orang yang seakan-akan tahu banyak tentang olahraga ini dengan tiba-tiba 'kultwit' mengenai sejarah emas bulutangkis yang tentunya diakhiri dengan hinaan pedas pada para punggawa bulutangkis Indonesia yang berlaga di olimpiade.

     Saya yakin mereka juga tidak akan pernah menginginkan kekalahan seperti itu. Saya tidak nafsu makan selama 3 hari waktu itu.

     Dan lagi, pagi ini saya menemukan seseorang di linimasa saya yang berkicau kurang lebih seperti ini, "oh, pasangan ganda campuran Indonesia juara All England ngalahin juara Olimpiade dari Cina ya? Kok sepi?". *inhale....exhale.....*

     Dalai Lama prohibits me to get angry or think badly about others. And Budha teachs me how to be grateful to the universe. Meskipun tidak banyak orang yang tahu, I'm so grateful to my BIG GOD for opening their eyes. Akhirnya mereka, at least, bisa dan mau membaca tentang kabar gembira ini.

     Malam itu, saya dan para pecinta bulutangkis lainnya -yang saya yakin sama seperti saya kurang tidur selama seminggu- bersiap menunggu detik-detik menegangkan saat di mana Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, dua dari puluhan ribu putra-putri terbaik Ibdonesia, untuk berjuang dengan senjata raketnya masing-masing meruntuhkan tembok Cina.

     Malam itu, ribuan orang Inggris di Birmingham datang dan ikut meneriakkan nama Indonesia, ikut mendukung perjuangan atlet Indonesia di negeri jauh. Lagu "Garuda Di Dadaku" dikumandangkan oleh sekumpulan mahasiswa Indonesia yang selalu hadir setiap tahunnya. Pada saat bersamaan, puluhan ribu masyarakat Indonesia asyik menyaksikan pertandingan sepakbola antara Chelsea kontra Manchester United. Siapa yang melarang mereka menyaksikan pertandingan klub sepakbola kesayangan mereka? Tidak ada. Siapa yang mewajibkan mereka menonton pertandingan bulutangkis? Juga tidak ada. Itu hak mereka.

     Yang jadi masalah adalah ketika bangsa Indonesia menjalankan SOP "Kalah dihinakan, menang dilupakan".  Bagi saya ini bukan tentang apa yang disebut nasionalisme. Terlalu berat untuk saya membicarakan hal tersebut. Ini hanya tentang bagaimana seharusnya bangsa Indonesia mengingat dan memperlakukan manusia-manusia yang telah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Dan sekali lagi, ini bukan hanya tentang atlet-atlet bulutangkis, tapi lebih umum, juga para juara-juara yang telah membuat Indonesia dikenal baik di mata dunia.

     People have their own opinions, and this is mine. It's the right time for us to say goodbye to the indifferent mind to the people who have made some good news about our lovely country.

Much Love,
Lilis Wiyatmo

    

    

    

   

    

     Saya sebenernya udah nahan-nahan untuk nggak nulis ini sejak 3 hari kemarin. Karena, seperti biasanya, kalau saya nulis tentang ini biasanya saya agak kebawa emosi. Tapi hari ini, saya udah janji untuk nggak emosi dan nggak nulis "kasar" lagi karena banyak alasan yang membuat kadar emosi saya akhir-akhir ini berkurang. Thank you to Mother Nature for making a balance body and soul maker called yoga.

     Minggu, 9 Maret 2013 GMT+0 atau Senin dinihari waktu Indonesia, sebuah kabar amat sangat menggembirakan *seharusnya* untuk rakyat Indonesia. Yah, seharusnya hal itu menjadi kabar baik bagi Indonesia. Saya malam itu meneteskan air mata haru untuk kesekian kalinya karena hal ini. Siapa yang tidak terharu dan meneteskan air mata bangga kalau 2 orang manusia -yang tidak terlalu dikenal masyarakat- berhasil mempertahankan gelar prestisius sekelas All England, 2 tahun berturut-turut.

     Malam itu, tidak banyak orang tahu tentang hal ini. Saya yakin, mereka pasti punya alasan sendiri mengapa harus tidak tahu kabar menggembirakan sebesar ini. Bukankah sudah biasa bila banyak orang di Indonesia tidak tahu kabar baik dari banyak bidang selain sepakbola? Lihat saja juara olimpiade sains yang berhasil memenangkan event-event besar internasional, adakah yang mengingat? Kalah dihinakan, menang dilupakan. Begitulah SOP yang berlaku.

     Masih jelas di ingatan saat tim Thomas-Uber Indonesia gagal di perempat final tahun lalu. Cercaan, hinaan, cacian dan makian bertebaran di mana-mana. Padahal sebelumnya Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir juga memenangkan gelar All England setelah beberapa tahun gelar besar tersebut tidak pulang ke Indonesia. Terakhir gelar juara All England direbut oleh pasangan Chandra Wijaya/Sigit Budiarto di awal tahun 2000-an.

     Masih ingat pula ketika Indonesia gagal mempertahankan tradisi emas Olimpiade yang sudah didapat sejak pertama kali bulutangkis dipertandingkan di OG tahun 1992. Masyarakat mencerca, menghina dan di twitter, banyak sekali orang yang tiba-tiba berubah menjadi orang yang seakan-akan tahu banyak tentang olahraga ini dengan tiba-tiba 'kultwit' mengenai sejarah emas bulutangkis yang tentunya diakhiri dengan hinaan pedas pada para punggawa bulutangkis Indonesia yang berlaga di olimpiade.

     Saya yakin mereka juga tidak akan pernah menginginkan kekalahan seperti itu. Saya tidak nafsu makan selama 3 hari waktu itu.

     Dan lagi, pagi ini saya menemukan seseorang di linimasa saya yang berkicau kurang lebih seperti ini, "oh, pasangan ganda campuran Indonesia juara All England ngalahin juara Olimpiade dari Cina ya? Kok sepi?". *inhale....exhale.....*

     Dalai Lama prohibits me to get angry or think badly about others. And Budha teachs me how to be grateful to the universe. Meskipun tidak banyak orang yang tahu, I'm so grateful to my BIG GOD for opening their eyes. Akhirnya mereka, at least, bisa dan mau membaca tentang kabar gembira ini.

     Malam itu, saya dan para pecinta bulutangkis lainnya -yang saya yakin sama seperti saya kurang tidur selama seminggu- bersiap menunggu detik-detik menegangkan saat di mana Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, dua dari puluhan ribu putra-putri terbaik Ibdonesia, untuk berjuang dengan senjata raketnya masing-masing meruntuhkan tembok Cina.

     Malam itu, ribuan orang Inggris di Birmingham datang dan ikut meneriakkan nama Indonesia, ikut mendukung perjuangan atlet Indonesia di negeri jauh. Lagu "Garuda Di Dadaku" dikumandangkan oleh sekumpulan mahasiswa Indonesia yang selalu hadir setiap tahunnya. Pada saat bersamaan, puluhan ribu masyarakat Indonesia asyik menyaksikan pertandingan sepakbola antara Chelsea kontra Manchester United. Siapa yang melarang mereka menyaksikan pertandingan klub sepakbola kesayangan mereka? Tidak ada. Siapa yang mewajibkan mereka menonton pertandingan bulutangkis? Juga tidak ada. Itu hak mereka.

     Yang jadi masalah adalah ketika bangsa Indonesia menjalankan SOP "Kalah dihinakan, menang dilupakan".  Bagi saya ini bukan tentang apa yang disebut nasionalisme. Terlalu berat untuk saya membicarakan hal tersebut. Ini hanya tentang bagaimana seharusnya bangsa Indonesia mengingat dan memperlakukan manusia-manusia yang telah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Dan sekali lagi, ini bukan hanya tentang atlet-atlet bulutangkis, tapi lebih umum, juga para juara-juara yang telah membuat Indonesia dikenal baik di mata dunia.

     People have their own opinions, and this is mine. It's the right time for us to say goodbye to be indifferent mind to the people who have made some good news about our lovely country.





Much Love,
Lilis Wiyatmo


    

    

    

   

    

Sunday, March 10, 2013

A Good News From Birmingham!!!

     EUREKA!!!!!
Indonesia, Indonesia, Indonesia. Semalam adalah malam terindah yang saya alami di tahun 2013 ini. Bukan, saya bukan sedang mengalami malam pertama atau mendapat lotre. Saya bahagia karena akhirnya, yak, akhirnya Indonesia berhasil mengantongi gelar juara dari turnamen bulutangkis tertua di dunia, All England.

     Sejarah baru ditulis dengan tinta emas. Dialah Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir, putra-putri terbaik ibu pertiwi yang berhasil mengukir gelar juara All England di sektor ganda campuran dua tahun berturut-turut.

     Era baru dimulai. Jajaran baru pengurus PBSI yang dimotori oleh Gita Wirjawan mulai menunjukkan tajinya. Bahtera ini mulai kembali berlayar. Saya menangis haru, semalam.

     Bermain melawan pasangan China peraih medali emas Olimpiade London, Tontowi dan Liliyana tampil bagaikan ular lapar. Diam namun tajam. Owi yang biasanya tampil menggebu-gebu dan kadang agak terburu-buru malam tadi lebih tenang. Liliyana, yang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya, memberikan blocking-blocking yang cantik di depan net.

     Dan hasilnya, mereka bisa menjawab tantangan serta anggapan miring banyak orang tentang prestasi bulutangkis Indonesia.

      Tak perduli apa kata orang, dan tak perduli siapa pun menpora yang sekarang menjabat, putra-putri terbaik bangsa menunjukkan semangat juang tinggi untuk negara mereka, Indonesia.

     Kapan lagi kita bisa mendengar lagu 'Garuda Di Dadaku' berkumandang lantang di Eropa. Kapan lagi nama Indonesia digaungkan dengan penuh penghormatan oleh bangsa lain. Kapan lagi kita bisa melihat kerumunan manusia dari negeri yang jauh di sana berebut menyalami dan meminta foto atau sekedar tanda tangan dari putra-putri ibu pertiwi. Yak, semalam semua terjadi begitu indah.

     Dan selain kemenangan Tontowi serta Liliyana, kabar gembira juga datang dari Greysia Polii yang berhasil terpilih sebagai BWF Athletes Commission yaitu perwakilan atlet yang memiliki suara dan pendapat di kursi BWF.

     Such a beautiful day, isn't it?

     Semoga prestasi-prestasi di pembuka tahun ini akan terus berlanjut dan memacu atlet-atlet lain untuk menggapai prestasi setinggi-tingginya. Amin!!!

   


Thursday, March 7, 2013

When Money Talks

     Gelaran Yonex All England Open Championship 2013 sudah berlangsung sejak Selasa, 5 Maret lalu. Banyak kejutan tersaji di turnamen bulutangkis tertua di dunia yang diadakan di Birmingham, Inggris ini.

     Sejak hari pertama, terjadi banyak kejutan dimana banyak pemain yang diunggulkan bertumbangan. Sebut saja Super Rajiv, alias Rajiv Ouseph. Atlet andalan tuan rumah yang harus berjuang dari babak kualifikasi harus gugur di final kualifikasi di tangan pemain India, Sourabh Varma.

     Hari kedua, babak pertama, kejutan kembali tersaji. Siapa sangka sang alien juara olimpiade London 2012 yang juga juara bertahan All England 2012 harus packing lebih cepat karena di babak pertama dikalahkan oleh Bae Yeon Ju asal Korea. Selanjutnya giliran atlet Indonesia, Lindaweni Fanetri yang menjadi giang killer dengan mengalahkan atlet berperingkat tiga, Wang Yihan, dua set langsung. Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae serta Du Pengyu juga menjadi korban selanjutnya dengan takluk di tangan atlet unseeded (bahkan yang ngalahin KSH/LYD malah saya nggak apal namanya). Du Pengyu sendiri dikalahkan Chou Tien Chen, atlet Taipei yang beberapa waktu lalu menjadi pahlawan bagi PB Musica Champion saat Superliga.

     Di hari kedua, kejutan kembali tersaji. Unggulan pertama ganda putra, Mathias Boe/Carsten Mogensen, harus kandas di tangan ganda muda China. Juga unggulan tiga ganda campuran asal Malaysia yang harus mengakui keunggulan Fran/Shendy.

     Atlet-atlet Indonesia bisa dibilang bermain lebih baik dari tahun lalu. Tommy Sugiarto mampu "membalas dendam" pada Gao Huan yang tahun lalu mengalahkannya di babak pertama, dan kali ini, lagi-lagi, the reliable one harus menjadi andalan Indonesia di sektor tunggal putra setelah SDK mengundurkan diri karena cedera saat melawan Jan Ostegaard Jorgensen di babak kedua.

     Total ada 8 wakil Indonesia di babak quarter final. Dan sebagai negara dengan spesialisasi ganda campuran, Indonesia menempatkan 4 wakil ganda campuran.

     Apa yang terjadi dengan atlet Indonesia memang apa yang kita harapkan. Perjalanan mulus atlet Indonesia di All England kali ini merupakan pembuktian bahwa Indonesia sudah memulai lagi. Rexy Mainaki vs Li Yong Bo, I said.

     Perjalanan masih panjang, namun hasil yang didapat hingga babak perempat final ini adalah bukti dari semuanya. Kali ini kita semua harus percaya saat uang berbicara.

     Saya yakin semangat atlet Indonesia ini adalah salah satu efek dari sponsor individu untuk para atlet yang nilainya ratusan juta bahkan ada yang mencapai milyaran. Atlet lebih termotivasi untuk mengukir prestasi lebih tinggi lagi di kancah internasional.

     Jangan diartikan bahwa atlet bulutangkis Indonesia mata duitan atau semacamnya. Para atlet yang berjuang membawa nama bangsa akan lebih fokus dan tenang. Tidak ada kekhawatiran akan masa depan karena mereka menghabiskan masa muda untuk membela negara dan melupakan pendidikan mereka. Memang ada beberapa atlet yang juga sukses dalam bidang pendidikan seperti kakak beradik, Bona Septano dan Pia Zebadiah. Namun tidak sedikit pula mereka yang terpaksa harus mengabaikan pendidikan demi menjadi atlet.

     Dalam hal ini, langkah baik Gita Wirjawan untuk membuat sponsor individu untuk para atlet serta tidak menggunakan dana negara untuk anggaran PBSI seharusnya ditiru cabang olahraga lain terutama sepakbola, yang masih sering menunggak pembayaran gaji pemain.

     Mungkin, bila atlet sepakbola dimakmurkan, maka prestasi sepakbola Indonesia pun akan naik dengan sendirinya. Trust me, it works to badminton.

     Semoga dengan kemenangan di babak awal ini, merupakan signal positif bagi perkembangan bulutangkis Indonesia. Semoga Indonesia bisa mengukir prestasi di All England tahun ini. Mari kita doakan bersama...

    
    

    




Saturday, March 2, 2013

The Reliable One, Tommy Sugiarto!!!

     Hiyaaaakkkk, akhirnya Indonesia menempatkan wakil di final German Open GPG. Dialah Tommy Sugiarto, putra dari legenda bulutangkis Indonesia, Icuk sugiarto, yang berhasil menjadi "tulang punggung" di ajang ini.

     Tidak salah ketika beberapa waktu lalu seorang jurnalis bulutangkis menyebut bahwa Tommy adalah atlet yang selalu bisa diandalkan. Reliable. German Open GPG adalah turnamen resmi pertama bagi Tommy setelah kembali bergabung ke pelatnas Januari lalu. Menjadi satu-satunya atlet Indonesia di semifinal, Tommy berhasil menundukkan bintang berpengalaman dari Thailand, Boonsak Ponsana dalam pertarungan dua set langsung.

     Perjalanan Tommy ke final terbilang mulus, Tommy tercatat belum pernah kehilangan satu set pun alias selalu menang dalam dua game. Di perempat final, Tommy berhasil mengalahkan Rajiv Ouseph, pemain peringkat 34 keturunan India warga negara Inggris.

     Prestasi Tommy Sugiarto di German Open GPG tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Tommy bisa memenuhi target dari PBSI yang menargetkan semifinal baginya. Tahun lalu, Tommy berhasil mencapai semifinal sebelum akhirnya dikalahkan oleh Super Dan yang akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Simon Santoso di final.

     Di final yang akan digelar esok hari, Tommy sudah ditunggu oleh pemain ranking 2 dunia asal negeri tirai bambu, Chen Long, yang baru saja melibas kompatriotnya, Qiao Bin dengan skor telak, 21-8 21-11.

     Semoga saja, besok, Tommy berhasil membuktikan bahwa dirinya memang patut diandalkan oleh bangsa Indonesia. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jadi, mengalahkan Chen Long dan menjuarai German Open GPG sangat mungkin terjadi.

     Semoga Tommy Sugiarto makin bisa diandalkan dan prestasinya akan menyamai bahkan melebihi ayahandanya di masa lalu.

    Go Tommy Go Tommy Go!!!!