Tuesday, September 24, 2013

Hidup Untuk Sehat

Lagi rame dietnya Dedy Corbuzier ya sekarang? Banyak orang juga yang mulai tergiur untuk ikut mempraktekkan program diet sang mentalist kenamaan ini. Jenis diet ini memang sudah dibuktikan keberhasilannya oleh Dedy Corbuzier. Saya pernah membaca tentang program diet ini dan ada beberapa poin yang saya setuju, salah satunya dengan puasa. Dalam sebuah hasil penelitian dikatakan bahwa puasa selama kurang lebih 12 jam dapat mengembalikan keseimbangan metabolisme dalam tubuh. Namun tentang dihilangkannya sarapan, saya tetap tidak setuju. Maaf :D

Tapi bukan setuju atau tidak setuju yang akan saya tulis di blog amatir ini. Tapi tentang fenomena banyaknya orang yang ikut dalam program diet ini.

Seperti yang pernah saya tulis dulu, bahwa dalam menjalani gaya hidup, yang harus diubah adalah pola pikir terlebih dahulu. Kebanyakan orang melakukan diet hanya terfokus pada satu hal yaitu mengurangi bobot tubuh sebanyak-banyaknya. Padahal yang paling penting dari sebuah program diet adalah menjalankannya dengan cara yang benar dan tidak melupakan kesehatan badan.

Menjalani hidup sehat adalah yang terpenting karena berat badan akan ideal dengan sendirinya bila tubuh kita sehat.

Melalui pengamatan kecil tanpa data yang saya lakukan di lingkungan sekitar, kebanyakan yang melakukan diet ciptaan Dedy Corbuzier ini hanya karena mengikuti trend yang sedang ramai. Karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat "mainstream", maka ketika ada sesuatu yang baru dan terlihat keren bila diikuti, akan banyak orang yang terpengaruh.

Sah-sah saja menjalankan program diet ini. Toh Dedy Corbuzier pun berhasil dan tetap sehat serta segar bugar. Namun, alangkah baiknya bila sebelum menjalankan program ini, para pelaku harus benar-benar mempelajari dan mengerti benar cara serta kelebihan dan kekurangan, serta siap tidaknya badan kita menjalankannya. Jangan mengikuti sebuah program diet hanya karena sedang "in".

Saya jelas bukan orang yang harus menjalankan program diet dalam bentuk apa pun. Berat badan saya sepertinya sudah cukup ideal mengingat tinggi badan yang hanya 158cm. Tapi sekitar setahun yang lalu, saya melakukan pencarian dan akhirnya menyadari bahwa bukan hanya orang-orang yang berat badannya di atas ideal saja yang harus hidup sehat, tapi saya pun harus tetap menjaga kebugaran tubuh. Dan mulailah saya menjalani metode "Clean Eating". Sebuah metode yang biasa dijalani para vegan dan vegetarian dalam mengatur pola makan. Meskipun saya adalah penganut Islam, saya adalah pengagum cara hidup Budha Sidharta Gautama beserta para pengikutnya yang sangat menghormati alam dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam mengatur pola makan.

Satu hal yang saya alami adalah mulai tidak tega memakan makanan yang berasal dari sumber hewani. Namun saya tetaplah omnivora yang masih belum bisa meninggalkan ayam dan seafood. Namun hampir setahun ini saya tidak menyentuh makanan dari hewan berkaki 4 termasuk produk olahannya seperti susu sapi, keju dan yogurt.

Seperti yang banyak diketahui orang di sekitar saya, saya adalah orang yang sangat mengagumi tumbuh-tumbuhan. Dalam setahun ini, hampir 80% makanan yang masuk ke dalam tubuh saya adalah plant based. No diet. Karena memang diet sangat tidak saya butuhkan. Yang saya dan tubuh saya butuhkan adalah menjalani pola hidup sehat salah satunya dengan Clean Eating. Karena yang menjadi pedoman saya adalah sebuah kalimat, "Take care of your body, it is the only place you have to live in".

Tubuh kita bukanlah tempat sampah yang menjadi tempat penampungan semua jenis makanan. Tubuh kita juga bukan benda mati yang bisa kita perlakukan semau kita. Tubuh kita adalah satu-satunya tempat yang kita miliki di dunia. Tugas kita adalah menghormatinya dengan tetap menjaga kondisinya dengan baik.

Tiga poin penting yang selalu saya terapkan dalan Clean Eating adalah :
- Mengurangi konsumsi makanan.berlemak, terutama dari lemak hewani.

- Mengurangi refined sugar yang biasa terdapat dalam kue atau cake yang terbuat dari gula putih.

- Perbanyak asupan bahan makanan dari tanaman atau plant based.

Dan yang paling penting dari semua jenis gaya hidup termasuk diet adalah tidak lupa untuk teratur olahraga. Percuma saja diet ketat bila tidak pernah olahraga. Seperti menanam bunga di musim kemarau dan tidak pernah disiram. Layu.

Ada yang mengatakan bahwa saya menyiksa diri saya dan tidak menikmati hidup dengan pola hidup yang saya lakukan selama ini. Padahal justru ini adalah cara saya dan tubuh saya menikmati dan menghormati hidup. You guys won't believe kalau saya bilang saya akan tersenyum girang sendirian saat menikmati green smoothies yang saya buat. Mungkin bagi banyak orang, meminum sayuran yang dicampur dengan buah serta memakan sayuran mentah hampir setiap hari adalah cara menyiksa diri. But heaven is so close to me when I makan sayuran mentah dan meminum minuman yang kata orang aneh tersebut.

Tapi yang paling penting adalah saya tahu betul apa yang saya lakukan dan tahu apa yang akan terjadi pada tubuh saya bila berhenti.

Maka, sebelum memulai sesuatu yang baru apalagi berhubungan dengan tubuh yang seharusnya kita hormati ini adalah mengetahui terlebih dahulu apa yang akan kita lakukan. Jangan biarkan tubuh kita menderita hanya karena kita ingin memiliki berat badan ideal dll. Hargai dan hormatilah tubuh kita, karena inilah satu-satunya yang kita punya.

Keep Healthy and Keep RAWk!!!

Sunday, September 8, 2013

I Will Find A Way

Saya adalah jenis orang yang ketika punya kemauan tidak dapat ditahan. Saat saya ingin pergi ke sebuah tempat, saya akan pergi walaupun hujan deras atau jalan kaki sekalipun. Saat saya menginginkan sebuah benda, saya akan berusaha mendapatkannya meskipun pada akhirnya harus membuat sendiri benda tersebut bila memang tidak terjangkau oleh kantong saya.

Seperti juga saat ini, saya tertarik untuk belajar bahasa dari negeri tirai bambu, Cina. Bahasa ini sebenarnya sangat familiar di Indonesia, walaupun mungkin yang sering terdengar oleh kita adalah bahasa daerah, seperti Hokkian dan bukan bahasa Mandarin yang menjadi bahasa resmi. Tapi bahasa yang satu ini sangat tidak asing di negara kita.

Keinginan saya untuk belajar bahasa Mandarin semakin kuat hari demi hari. Tapi hari demi hari pula, niat saya tersebut makin semakin terhalang oleh masalah klasik yang selalu hadir setiap saya punya sebuah kemauan. Yak, uang.

Beberapa kali saya melihat beberapa universitas, salah satunya kampus tempat saya pernah menuntut ilmu di bidang pariwisata beberapa tahun lalu, untuk mencari peruntungan saya melanjutkan kuliah di bidang yang saya inginkan tersebut. Saya agak bahagia ketika membaca kemungkinan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Cina bila mampu menyelesaikan kuliah D3 tersebut dalam kurun waktu tepat 3 tahun. Saya memang bukan orang dengan otak cemerlang, pun bukan orang dengan kemampuan menangkap sesuatu dengan cepat. Tapi saya menjamin diri saya adalah orang mau bekerja keras.

Tapi ternyata kerja keras saja belum cukup. Niatan untuk melanjutkan kuliah bahasa Mandarin harus tertunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Iya, kebahagiaan saya saat melihat tulisan "beasiswa ke Cina" harus berganti dengan senyum yang "capedeh" saat melihat rincian biaya yang harus dibayarkan ketika pertama masuk dan setiap semesternya. Enough said, I'll try another way.

Ketika pulang kampung lebaran kemarin, Bapak saya menyarankan untuk mengikuti les khusus Mandarin. Dan saya pikir itu adalah salah satu cara terbaik yang harus saya lakukan. Dan saat kembali ke Jakarta, saya mulai mencari tempat kursus Mandarin. Sekitar 5 tempat kursus saya hubungi. Bahkan saya sempat menghubungi teman saya yang sekarang tinggal di Taipei untuk menanyakan tempat dia belajar dulu. Di setiap tempat yang saya hubungi, hal pertama yang saya tanyakan adalah biaya. Sebagus dan selengkap apapun tempat tersebut, tidak akan pernah saya masukkan dalam list bila biayanya tidak ramah, karena saya tidak akan pernah bisa berdamai dengan uang. Dan dari semua tempat tersebut, tidak ada satupun yang cocok dengan kantong saya.

Cara kedua belum berhasil. Iya belum berhasil, bukan tidak berhasil, karena siapa tau suatu saat nanti saya bisa kursus atau bahkan melanjutkan kuliah seperti yang saya mau.

I know, I can't deal with money yet. Uang memang agak kurang suka dengan saya sekarang. Dan sepertinya kurang betah berlama-lama bersama saya. Tapi saya tak akan pernah kalah dengan uang. As I always said, "I don't have enough money to pay, but I have enough mind to think". Saya masih punya otak, yang meskipun tidak jenius, untuk berpikir. Saya bisa belajar sendiri. If you wanna get something, you will find a way. And just wait until money fall in love with you.

Dengan berbekal handphone android versi paling menye-menye dan sering jadi ledekan orang saking jeleknya, saya install beberapa aplikasi belajar bahasa Mandarin sederhana. Hp saya yang kata orang jadul pun nyatanya sangat berguna dan membantu dalam hal ini. Saya tonton beberapa video belajar bahasa Mandarin di youtube. Lagi-lagi, menggunakan hp jadul ini. Dan ketika operator fotokopi di kantor saya melihat saya tergila-gila dengan bahasa Mandarin, beliau memberikan sebuah buku panduan belajar bahasa Tionghoa hasil fotokopi dari seorang karyawan keturunan Cina di kantor. Saya kurang tau apakah bahasa Mandarin dan Tionghoa sama atau tidak, tapi yang jelas buku tersebut sangat membantu proses ini.

Lalu dengan keinginan yang semakin kuat, akhir bulan lalu saya sisihkan sedikit uang gaji saya yang setara dengan gaji teman-teman buruh itu (atau lebih rendah mungkin) untuk membeli buku dan kamus yang saya butuhkan. Saya sangat berterimakasih pada @WindyAprisia yang membantu memilih buku dengan isi dan HARGA yang pas untuk saya.

Dan sekarang, saya selalu menyisihkan waktu 15 menit sebelum tidur khusus untuk mempelajari isi buku tersebut dan menghapal 10 kata setiap harinya. Berat memang. Karena tanpa adanya guru yang membimbing, artinya saya harus menggunakan otak saya yang seringkali bermasalah dalam menangkap pelajaran ini secara maksimal. Lebih berat lagi karena saya harus belajar dalam keadaan lelah setelah seharian penuh "bekerja" di kantor. Tapi saya harus segera mematahkan julukan sebagai makhluk Tuhan paling selo dengan belajar setiap hari.

Satu bab dari buku tersebut akhirnya, dengan kerja keras, bisa masuk ke kepala saya. Dan 50 kata sudah mampu saya ingat, meskipun tidak sesuai target. Karena seharusnya saya bisa menghapal lebih dari 50. Tapi ini adalah proses, and I know I am on my way there.

Semoga uang cepat mau bersahabat dengan kehidupan saya. Syukur-syukur kalau mau jatuh cinta sama saya. Masa orang nggak ada yang jatuh cinta sama saya, terus uang juga nggak mau damai. Kok mesakke banget uripku (oke, ini surhat -__-" ).

Untuk kalian yang mempunyai kesempatan, waktu serta kemampuan financial yang mendukung, tetaplah belajar. Ambil kesempatan tersebut selagi ada. Karena ilmu yang kita dapatkan tidak akan hilang seperti wangi sabun yang tidak akan bertahan setelah dipakai. Kita mungkin adalah orang yang bodoh, tapi jangan jadi orang bodoh yang kebangetan. Jangan ngisin-isini. *kitaaaaaaa?*

Tetap belajar, walaupun sesulit apapun rintangannya. And make sure we are on the right path.

"... I will find a way, to breathe this dream everyday." - I'll Find A Way, Letto

Tuesday, August 27, 2013

F4, Cinta Pertama Yang Tak Terlupakan

Sambil ditemani ciuman mesra dari nyamuk dan lagu-lagu dari sebuah boyband asal Taiwan, mari menulis lagi...

Sebagai orang yang mengalami masa remaja di awal tahun 2000an, saya dulu pernah berpikir bahwa laki-laki tampan dan charming adalah laki-laki yang rambutnya di-rebonding. Kalau saya sebutkan itu di depan remaja jaman sekarang, mungkin orang pertama yang pertama kali melintas di kepala adalah Agung Hercules. Rambut lurus sebahu dengan biceps antem-able. Tapi bukan Agung Hercules orang yang sedang akan saya tulis. Tapi 4 orang dari daratan Cina, tepatnya dari Taiwan. Iya, F4.

Jauuuuuuh sebelum ada boyband-boyband dari Korea yang digilai remaja putri saat ini, yang 'wabah'nya sudah menyebar ke hampir seluruh belahan bumi, sudah ada lebih dulu sebuah grup yang sanggup menghipnotis ribuan anak muda bernama F4.

Mereka adalah Jerry Yan, Vic Zhou, Ken Zhu dan Vanness Wu. 4 orang pria yang ketika itu menjadi ikon anak muda pada masa itu.

Semua bermula dari sebuah serial tv fenomenal berjudul Meteor Garden. Tidak usah dijelaskan sinopsis dari serial tersebut. Yang jelas, serial tersebut berkisah tentang percintaan anak muda dengan segala intriknya.

Ketika itu, banyak sekali remaja putri, tidak hanya di Indonesia, tetapi hampir di semua wilayah benua Asia, terutama Asia Tenggara, menjadi begitu fanatik dengan grup yang satu ini. Grup, iya, agak susah sebenarnya menyebut mereka dalam sebuah nama kesatuan. Untuk menyebut mereka boyband, mungkin agak kurang pas karena mereka bukan murni sebuah grup yang menyanyikan lagu-lagu. Yang jelas mereka adalah grup idola yang memiliki pengaruh sangat besar bagi hidup banyak remaja pada saat itu, salah satunya adalah saya.

Jujur, pertama kali menonton serial Meteor Garden di episode pertama, saya agak kesal dengan gaya dan dandanan Jerry Yan atau Yan Cheng Shu yang di serial tersebut memerankan sebagai Dao Ming Shi. Sungguh gaya dan dandanan yang aneh binti ajaib. Celana yang agak ketat di bagian paha, kemeja dengan motif yang susah dimengerti yang juga ketat, dan ikat kepala. Apalagi mereka berempat di serial tersebut digambarkan sebagai kelompok berpengaruh di kampus yang agak arogan karena orang tua mereka adalah pendiri kampus tersebut (orang tuanya tukang bangunan? Maybe).

Saya sendiri lebih jatuh cinta pada seseorang dengan kemeja putih lengan panjang dengan rambut lurus sebahu. Yak, dia adalah Hua Zhi Lei alias Vic Zhou alias Zhou Yu Min alias Zaizai. Dialah orang yang masih beritanya masih saya ikuti sampai sekarang.

Pada waktu itu, pasti banyak sekali perempuan yang ingin punya rambut panjang lurus sepinggang dan punya motor sendiri serta menengadahkan kepala saat menangis agar air mata tidak keluar. Banyak yang ingin seperti Shancai, yang diperankan oleh Barbie Xu. Perempuan yang pada akhirnya malah jadi pacar Zaizai di kehidupan nyata :|

Bagi saya, F4 adalah cinta pertama. Karena mereka adalah orang-orang yang pertama kali saya idolakan di masa remaja saya. Jauh sebelum saya tau Shintaro Ikeda, Jason Mraz, Jan O. Jorgensen dan Lee Yong Dae. F4 adalah artis yang mengisi keseharian banyak orang termasuk saya.

Saat pulang kampung di Idul Fitri kemarin, saya sempat pergi ke atas plafon rumah bagian dapur yang dulunya adalah tempat saya menyembunyikan diri sambil makan siang dan menghadap ke arah selatan melihat atap-atap rumah tetangga yang tertutup pohon-pohon di halaman mereka. Saat ini "the chamber of secret" itu sudah difungsikan sebagai gudang. Di sana, saya menemukan banyak sekali kenangan masa remaja. Mulai dari buku-buku sd, poster-poster pemain sepakbola, tulisan-tulisan yang mungkin adalah cerpen yang saya tulis semasa sd dan smp, serta beberapa hal tentang F4.

Saya juga menemukan sebuah tulisan di sampul buku ppkn sd kelas 5, yaitu, "I want to study hard, so  I can be a human". Entah apa maksud dari tulisan itu. Am I an alien? Or a Martian? Probably.

Benda paling berharga yang saya temukan di sana adalah setumpuk kertas putih yang diatasnya ditempeli gambar-gambar personil F4. Beberapa ada yang dilem menggunakan nasi. Saat itu saya yang memang tinggal di kampung tidak selalu memiliki lem, even lem kertas. Kalau cat minyak malah saya punya banyak
:D

Salah satu bukti bahwa F4 adalah cinta pertama saya yaitu hampir semua cover buku pelajaran saya adalah gambar F4. Dan ada beberapa gambar Agnes Monica dan Roger Danuarta -_______-"

Awal tahun ini, untuk memulai sebuah festival tahun baru Cina, sebuah stasiun tv membuat kejutan besar bagi penggemar F4 yaitu menyatukan mereka dalam satu panggung. Betapa bahagianya penggemar F4 dari banyak negara yang mungkin sekarang banyak yang sudah berkeluarga. Atau bahkan punya anak.

Ketika video reuni manis tersebut diunggah ke youtube, saya langsung meluncur dan alhasil mata saya basah karena terharu mendengar lagu-lagu yang merupakan soundtrack dari serial Meteor Garden 1 ataupun 2.

Mereka berempat sudah dewasa :')

Satu-satunya orang yang menurut saya tidak berubah adalah Jerry Yan. Sedangkan Vanness, Xiao Tian dan Zaizai terlihat lebih dewasa.

Di konser itu terlihat banyak penonton yang meneteskan air mata haru karena bahagia.

Saya sih tetap takjub sama Zaizai. Walaupun Jerry Yan yang tetap sangat "Meteor Garden", tapi orang yang paling menarik tetaplah Zhou Yu Min.

Saat mereka atau salah satu dari mereka bermain di sebuah film atau serial drama, saya kadang agak sulit membedakan karakter mereka. Ketika tahun 2006, Zaizai bermain di drama Silence, dia memerankan seorang pria introvert yang mengidap penyakit mematikan. Ketika dia menangis, saya seperti ingin bilang, "Do the handstand!!" karena saya ingat quote terkenal dari Hua Zhi Lei di MG, yaitu, "If you are about to cry, do the handstand. So your tears won't fall down", 'till finally I realize that it was the different drama :D

Di serial Mars (Zhan Shen) yang bintang utamanya adalah Zaizai dan Barbie Xu, saya kadang-kadang berpikir, saat sedih Chen Ling (Zaizai) berubah menjadi Lei. Dan saat adu argumen, Han Qi Luo (Barbie Xu) sangat "Shancai".

Meteor Garden juga merupakan awal mula saya sangat percaya pada drama Asia. Pesan moral yang sangat bisa diambil dan menjadi bahan pertimbangan saya untuk percaya adalah bahwa setiap perempuan, walaupun perempuan biasa, tidak cantik dan tidak kaya, akan tetap menemukan laki-laki idamannya. Maka dari itulah awal saya sangat mempercayai drama Asia dan menjadi salah satu dari 3 hal yang sangat saya percaya, selain zodiak dan alien di jagad raya.

Sekarang saya sedang mendengarkan lagu Liu Xing Yu. Dan saya berharap malam ini saya bisa bertemu Hua Zhi Lei atau Zaizai di dalam mimpi indah.

Zhai Jiaaaaaan....

Sunday, August 25, 2013

3 Hal Yang Saya Percaya

Selain Allah swt beserta segala Firman-Nya dan orang tua saya, dalam hidup ini hanya ada 3 yang saya percaya.

Pertama, saya percaya zodiak. Zodiak sangat mengerti saya. Whatever people will say, saya tetap akan percaya zodiak.

Kedua, saya percaya alien itu ada dan mereka juga percaya bahwa kita juga ada dan saya yakin mereka juga sedang mengirim pesan untuk kita. Dan saya pun yakin, antena parabola adalah pendeteksi alien yang disamarkan menjadi antena televisi.

Yang ketiga, saya percaya pada drama asia. Di kebanyakan drama asia, gadis "biasa" selalu bisa mendapatkan laki-laki yang diidamkannya lalu hidup bahagia selamanya. Sebagai gadis "biasa", saya harus percaya itu.

Ya gitu aja sih.

Thursday, July 11, 2013

Raw Oatmeal Pudding

Sebagai salah satu dari banyak pemuja raw food, saya akan coba menuliskan sebuah resep yang saya temukan kemarin malam.

Resep puding ini sebenarnya lanjutan dari Chocomole yang sebelumnya sudah saya postingan di sini. Berawal dari kenaikan harga alpukat yang melonjak mengikuti naiknya harga bahan bakar minyak, maka beberapa hari yang lalu saya berpikir keras untuk mencari bahan lain pengganti alpukat, demi memenuhi hasrat saya untuk memakan puding sehat.

Lalu hari Minggu lalu bertemulah saya dengan pisang. Buah murah meriah yang bisa kita temukan di warteg dengan harga Rp. 1000. Kemudian saya berpikir bahwa tekstur pisang dan alpukat hampir sama dan pisang tidak membutuhkan pemanis tambahan seperti alpukat (pada Chocomole saya menggunakan kurma sebagai pemanis).

Maka saya campur pisang dan cacao powder di penghancur makanan yang dalam hal ini saya menggunakan food processor yang diberikan free saat kita membeli blender. Rasanya manis dan teksturnya menyerupai krim coklat.

Dan setelah berpikir beberapa hari, akhirnya saya bisa menyempurnakan pudding coklat saya. Seperti inilah resepnya :

Bahan :

- 2 pisang
- 2 sdm bubuk kakao
- 3 sdm oatmeal

Cara :

- Kupas pisang, potong-potong kecil dan masukan ke penghalus makanan.
- Tambahkan oatmeal dan bubuk kakao
- Proses dengan kecepatan tinggi hingga semua bahan tercampur dan lumat serta bertekstur lembut.
- Siap dihidangkan.

Untuk bubuk kakao, usahakan untuk mencari raw organic cacao powder. Namun bila tidak memungkinkan, carilah cacao powder yang tidak banyak mengandung campuran. Memang agak sedikit mahal dibandingkan dengan bubuk kakao biasa.

Selamat mencoba ^^

Sunday, June 30, 2013

Istora : Antara Nasionalisme dan Kegilaan

Nulis tentang Istora lagi mbak? Duh...

Iya, sampai hari ini diriku memang belum bisa move on dari gelaran Djarum Indonesia Open 2013 yang macam pesta rakyat meriahnya itu. Tiap hari Minggu masih berharap itu adalah final, atau berharap waktu semifinal terulang kembali. Tapi hari terus berganti dan kita harus menerima kenyataan bahwa Indonesia Open sudah berlalu, dan aku juga harus menerima kenyataan bahwa sampai sekarang tetap belum punya pacar lagi *koplingnya mbaaaak, kebablasen*.

Sebagai orang yang baru punya duit buat beli tiket, biasanya aku cuma bisa menikmati gegap-gempita Istora Senayan lewat tv dan nangis haru tiap liat betapa gilanya suporter Indonesia. Ini gila dalam hal positif ya, bukan gila macam suporter cabor sebelah yang seneng nyegat bis tim tetangga *disambit batu sama suporter oren*. Istora yang kata Jan O "a very incredible place", memang beneran tempat yang bikin orang yang mungkin nggak bener-bener suka dan merhatiin bulutangkis pun bisa jejeritan kesetanan saat berada di Istora menyaksikan pendekar bulutangkis bertanding.

Kursi vip yang di bayanganku itu tempat di mana suporter pendiam seperti aku duduk, ternyata sama dengan tribun kelas 1atau 2. Pecaaaahhhh....

Aku paling seneng waktu mc, si Steny Agustaf, minta penonton untuk bikin ombak. Pinggang yang tua renta ini sih agak linu ya pas disuruh berdiri-duduk-berdiri-duduk berkali-kali. Tapi pas liat lautan manusia yang membuat gerakan ombak dan menyadari kalau aku salah satu dari 'ombak' itu, rasanya langsung bahagia banget kayak dapet duit gocapan segepok.

Untuk kapasitas stadion yang sebenernya kalah jauh dari negara-negara lain seperti Malaysia atau even Singgepoh, Istora bisa ngasih keangkeran yang jauuuuuhhhhh lebih mengerikan dari negara manapun. Ya ane sih nggak pernah nonton secara langsung ke Malaysia atau Singgepoh ye. Boro-boro mau nonton ke luar negeri, Superliga sama Axiata Cup yang cuma di Surabaya aja kita nggak mampu *kitaaaak?*. Tapi pan kite punya internet ye bang, jadi bisa nonton di yutup dan mengamati keadaan penonton di sono.

Dan dari hasil stalking di instagram dengan search keyword #badminton dan #Leeyongdae, bisa dipastikan bahwa penonton di negara lain masih jinak. Contohnya aja yang masih anget Singapore Open SS. Aku liat foto-foto di instahramnya anak Singgepoh yang nonton langsung, dia bisa duduk di belakangnya rombongan Korea di kursi penonton yang salah duanya adalah Ko Sung Hyun dan Lee Yong Dae. Kayaknya sih masih sepi, mungkin masih babak pertama atau kedua. Yatapi di kursi penonton aja gitu, ngampar bareng penonton. Mau babak pertama atau babak kualifikasi sekalipun, itu kalo LYD berani duduk di kursi penonton di Istora yang sama aja cari matik. Lha Indonesia Open belum mulai, mereka baru nyoba lapangan dan latian aja udah sekompi yang nonton. Baru latian dan LYD masih tanding 2 atau 3 hari lagi padahal. Nggak tau itu suporter Indonesia maunya apa, lhawong cuma latian kok udah rame *geleng-geleng* *ketiban kaca*.

Kadang-kadang, dipikir-pikir itu penonton Istora pada sedeng semua sih. Bukan kadang deng, emang pada gila by default. Selain bibirnya yang pada kayak toa dan totalitas nonton yang nggak usah diragukan lagi, penonton Indonesia juga gampang banget ngasih dukungan ke pemain negara lain, asalkan nggak lagi ngelawan pemain Indonesia. Disenyumin atau didadahin sama pemain bule yang nggak tau namanya dan nggak tau dari negara manaaja langsung didukung. Pokoknya asal mereka ramah aja, pasti dapet dukungan dari bonek Istora. Makanya pemain-pemain ramah kayak Chris Adcock sama Gabby White pasti dapet banyak dukungan, dan nggak jarang pula dapet kado.

Penonton Istora memang menerapkan apa yang menjadi ciri manusia Indonesia, senang tersenyum dan ramah. Yatapi jangan harap situ pada dapet senyum dari kita kalo situ lawan pemain Indonesia. Zhang Nan/Zhao Yunlei aja grogi gitu lawan Ricky/Richi.

Yang bikin heran, babak pertama sampai perempat final yang digelar di hari kerja, kenapa bisa penuh begitu? Emang mereka nggak kerja? Nggak kuliah? Nggak sekolah? *anu mbak, permisi, lha situ nggak kerja kok nonton dari babak kedua? :|*. Tapi ya emang harusnya nggak heran sih, lha kayak yang dibilang tadi, baru latian aja, yang nonton udah seabrek. Padahal tiketnya naik jauh dari tahun lalu. Tiket vip babak kedua yang tahun lalu cuma gocap, taun ini jadi 125rebu aja gitu. Tapi sebanding sih sama apa yang didapet. Puasnya itu lho.

Perkiraanku pas final mungkin penontonnya nggak sepenuh semifinal karena wakil Indonesia di final cuma 1, itupun akan melawan pasangan ranking 1 dunia. Tapi nyatanya pemirsa, beuuhhh, itu lautan manusia makin banjir dan katanya sih tiket vip 95% terjual. 400rebu aja gitu, laku keras. Ini suporter bulutangkis makin kaya apa emang darah nekatnya semakin menjadi-jadi. Kalo aku sih sebagai kaum duafa, nyipain duit tiket udah dari setaun yang lalu. Nabung tiap bulan seratus ribu dan ternyata masih sisa banyak karena Alhamdulillah wa sukurillah, sebagai manusia yang sering menang kuis, aku dapet 2 tiket vip hrates dari Djarum Badminton untuk semifinal. Jadi sisa tabungannya bisa ditabung lagi untuk nonton taun depan, dengan catatan Indonesia Open taun depan aku belum bersuami, yo ra? :D

Buat pecinta bulutangkis yang nggak nonton langsung sih pasti nyesel ya, apalagi yang rumahnya di Yakarta. Karena kalaupun belum bisa beli tiket untuk vip, masih ada kelas 1 atau kelas 2 yang bandrol harganya masih didiskon. Aku juga mau sih nonton di kelas 2 yang nggak bikin kantong bolong, tapi mata silinderku nggak mau diajak musyawarah. Nanti kalo pantatnya LYD bentuknya silinder kan malah bahayak. Tapi pokoknya yang penting sih seru-seruan bareng. Mau nonton di vip, kelas 1 atau di kelas 2 yang letaknya di ujung berung, tetap dapet keseruan yang nggak akan didapet di manapun, di negara manapun.

Alhamdulillah sih taun ini bisa duduk di vip 3 hari, dari babak kedua sampai semifinal, karena kalau pas lagi sepi suara kita bisa kedengeran. Iya, ini mulai norak lagi. Waktu perempat final, aku nonton sendirian dan masih tetep teriak-teriak kayak yang di Istora tetangga dari kecil semua, padahal nggak ada satu pun yang kenal. Waktu itu sih manggil Chen Jin kenceng banget terus dianya nengok, terus orang-orang di sampingku juga nengok semua. Ben :|

Karena taun depan sponsornya bukan Djarum lagi, mungkin penyelenggaraan akan berbeza. Walaupun mungkin sponsornya masih sodaranya Djarum juga sih katanya. Tapi mungkin akan tetap meriah atau lebih mungkin, karena pertama kali jadi sponsor utama, jadi pasti kasih sesuatu yang beda. Kita tunggu aja. Btw, selamat tinggal DIO :'D

Jadi mari kita rajin bekerja dan giat menabung dari sekarang, supaya tahun depan bisa dateng lagi ke Indonesia Open mendukung pendekar-pendekar bulutangkis Indonesia berlaga, juga kesempatan melihat aksi pemain bulutangkis dunia yang biasanya cuma bisa kita lihat foto atau videonya di internet.

Jayalah Bulutangkis Indonesia!!!

Sunday, June 23, 2013

The Power of Alay-ness

     Ketika itu 15 Juni 2013. Suasana Istora sudah mulai sepi. Hanya ada sekitar 500an orang yang bertahan di dalam. Dua di antaranya adalah aku dan sahabatku, Fitria *haseeeeekk, udah kayak buku bahasa Indonesia belum?*.

     Harusnya ini masuk ke postingan "The Story of #NgIstora (part 4)". Tapi ini harus dibuat postingan tersendiri demi kebaikan dan kelangsungan umat manusia.

     Terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah membuat Istora lumayan sepi malam itu, terutama daerah tempat aku dan Fitria duduk. Hanya ada beberapa cewek-cewek seumuran aku dan Fitria (baca : abg), dan beberapa orang yang nggak sempat aku lihat. Match terakhir malem itu semacam bukan pertandingan bulutangkis, melainkan sebuah show dari boiben Korea yang akhir-akhir ini ramai digelar. Bayangpun, ada 4 orang pria berkulit porselen dan wajah alamak ganteng amat yak, siap untuk mengisi lapangan yang jaraknya hanya beberapa meter dari pandangan mata.

     Announcer udah bersuara, beberapa orang maju ke pinggir lapangan tempat para atlet yang akan bertanding lewat nantinya. Aku yang ingin menjadi manusia mainstream pun meloncati kursi untuk ikut berbaris di pinggir lapangan. Bermodalkan kamera henpon milik Pipit, aku nyalakan kamera video.

     Nama Yoo Yeon Seong dan Shin Baek Cheol dipanggil oleh announcer. Keluarlah 2 orang berbadan tinggi tegap dengan kulit yang bening sebening gelas belimbing. Mungkin mereka tiap hari mandi pake Tje Fuk atau minum pelitur 3 kali sehari.

     Sebagai orang norak *hidup noraaak!!!*, aku yang hidup di antara garis pengaharapan yang tak pernah padam ini, menjulurkan tangan ke depan, ke arah Yoo Yeon Seong dan Shin Baek Cheol. Dan yah, Shin Baek Cheol dan Yoo Yeon Seong ternyata merelakan tangannya bersalaman dengan gadis norak ini. Rasanya gimana rasanya? Halus kayak tepung aaaaakkk...

     Lalu dipanggillah orang yang ditunggu. Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae melangkah bak super model papan atas. Orang-orang di sampingku histeris dan menjulurkan tangan dengan norak lagi. Begitupun aku. Tapi mereka hanya tersenyum (terutama Ko Sung Hyun sih yang senyumnya lebar banget). Dan Gusti Pangeraaaan, itu komuknya Lee Yong Dae deket banget di depan muka ane. Dengan kumis tipis yang menghiasi bibirnya nggak terkontrol, and those biceps ooo em ji what the hell. Lee Yong Dae enak banget keliatannya ya Alloooh. Seger-seger manis gimana gitu. Dan Sung Hyun Oppa, badannya beuuhhhhh, ototnyaaaaaaah, pundaknyaaaah, betisnyaaaaaaaaahh, biceps-nyaaaaaaahhhh aaaaahh *pingsan*.

     Pipit terlihat ketawa ngekek dari atas kursi. Biarin, yang penting akoh udah salaman (--,).

     Pertandingan ini semacam pertandingan hiburan. Aku sih berharap match-nya rubber. Eh ternyata nggak. Sepanjang pertandingan, kami ditemani oppa-oppa Korea yang terdiri dari pelatih MD (yang pas quarter final dicegat cewek-cewek di pintu masuk diajakin foto), juga ada 2 atlet MD Korea yang masih kecil kayaknya, entahlah siapa namanya aku juga nggak hapal. Salah satunya Kang Ji Wook kalo nggak salah.

     Tim Korea lumayan rame juga ternyata. Rame ngetawain kami-kami yang sibuk dan nggak bisa nahan diri untuk nggak teriak ke makhluk halus yang ada di lapangan. Ini halus dalam arti yang sebenarnya.

     Pertandingan dimenangkan oleh Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae dalam dua set. Dan acara malam itu pun selesai. Tapi ke-norak-an dan ke-alay-an tidak selesai sampai di situ.

     Kami keluar Istora. Beberapa orang berkumpul di depan pintu masuk atlet. Kebanyakan tentu saja adalah kaum hawa. Tapi ada beberapa juga pria-pria khilaf yang ikut nunggu.

     Dengan harap-harap cemas, aku dan Pipit berdiri dengan pedenya di depan pintu masuk bis sambil ngobrol dengan pak sopir bis yang malah nyuruh kami ke hotel. Aku sih lebih pengen nyelinap ke dalem bis dan minta diculik dibawa ke Korea daripada harus nungguin di hotel. Tapi nyatanya, nggak ada satu pun dari pria-pria porselen itu yang mau nyulik aku :(

     Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya satu-persatu orang keluar. Dimulai dengan beberapa orang yang duduk di belakang kami saat di dalam. Suasana masih aman saat rombongan ini masuk bis. Lalu keluarlah Shin Baek Cheol. Hormon norakku membuncah. Dengan tekad dan hasrat yang meluap-luap, aku mendekat ke pintu bis dan nyolek tangannya Shin yang masih keringetan. Entah Pipit melakukan apa. Yang jelas suasana mulai kacau.

     Lalu porselen kedua keluar. Ko Sung Hyun dan Yoo Yeon Seong-nya akoh keluar dan masuk ke bis. Menurut laporan, Pipit sempat megang jaketnya Sung Hyun Oppa. Jaket? Iya jaket. Biarlah, lumayan. Aku sendiri harus puas hanya dengan megang tangannya Yoo Yeon Seong-nya akoh (LAGI).

     Keadaan mulai tak terkontrol gara-gara Ko Sung Hyun.

     Mereka sudah mengambil posisi masing-masing di kursi bis. Shin Baek Cheol duduk paling depan. Sung Hyun dan yang lain menempati kursi belakang. Tapi jagoannya belum muncul juga. Seperti biasa, ini memang selalu terjadi. Pemeran utama selalu muncul terakhir kayak polisi India.

     Setelah menunggu di bawah hujan badai, petir menyambar, tanah longsor, gempa bumi dan tsunami, akhirnya beberapa teriakan histeris bergemuruh. Beberapa orang dengan rompi kuning berjalan menuntun seseorang yang berjalan pasrah sambil menundukkan muka. Yah, dialah tersangka utama yang ditunggu. Suara histeris terdengar di mana-mana. Dan itu muka makin deket aja sama kita. Oh Tuhan, begitu indah ciptaan-Mu. Begitu halus dan sempurna buatan-Mu. Subhanalloh :')

     Semua orang berebut untuk memegang bagian badan dari Lee Yong Dae. Norak yo ben. Mumpung belum nikah yo ra?

     Aku dapet pipinya. Pipit dengan tanpa kasih sayang ngeremes biceps-nya dan langsung lonjak-lonjak kegirangan. Kalo pada mau tau kayak apa rasanya pipi Lee Yong Dae, rasanya halus dan kemlenyer, sampe sekarang aku masih bisa ngerasain dan ngebayangin sentuhan-sentuhan yang terjadi malem itu. Mumpung kami masih abg, jadi ya gpp lah ya.

     Sampai di dalam bis, LYD langsung diledekin temen-temennya. Dia cuma cengar-cengir salah tingkah.

     Sampe beberapa menit, bis belum jalan juga. Ternyata mereka nunggu si Yip Pui Yin jiayo. Ohhh God, I can kill myself and exchange my life with Yippy. Itu cewek sendiri di dalem bis yang isinya porselen semua pegimana rasanya cobaaaak? Ya Rosullll...

     Setelah Yippy masuk, pintu bis ditutup dan bis perlahan berjalan. Oppa ganteng kita semua duduk di pinggir jendela. Dia sempat senyum dan melambaikan tangan dengan diiringi oleh jeritan histeris oleh para Jamaah Al-Lee Yong Dae-iyah.

     Entah dirasuki oleh hantu darimana, aku dan Pipit langsung lari ke parkiran dan ngebut entah kemana. Tanpa helm dan peralatan perang, Pipit menjalankan motor bak kesetanan. Tujuan kami adalah satu, Hotel Atlet Century. Setelah muter-muter nyari tempat parkir, kami lari-larian ke lobby hotel untuk mencari pengharapan. Ya siapa tau aja, ye nggak?

     Tapi hari itu ternyata keberuntungan kami ternyata hanya sebatas sentuhan. Yippy yang satu bis dengan tim Korea ternyata sudah asik ngobrol dengan fans-nya di depan hotel. Berarti dimana oppa-oppa kita? Ya udah bobok atau mandi mungkin. Padahal kalo capek, kami juga rela suruh mandiin atau kalo ada yang masuk angin, aku ahli hal kerokan. Tapi sayang seribu juta kali sayang.

     Petualangan kami harus berhenti hari itu. Kami pulang dengan tangan yang tidak lagi hampa.

     Semoga tahun depan kami bisa berjumpa lagi dengan pasukan porselen ini. Sampai jumpa, Oppa
:*