Friday, December 6, 2013

Maafkan Saya, Pak Gita Wirjawan

Saya adalah orang yang tidak tau nama-nama orang-orang yang duduk di pemerintahan. Saya hanya tau nama presiden republik Indonesia. Selebihnya, saya hanya tau beberapa nama namun tidak tau jabatan yang mereka pegang.

Pun dengan seseorang bernama Gita Wirjawan. Saya baru tau nama Gita Wirjawan saat ada bursa pencalonan ketua umum PBSI.

Akhir tahun lalu, Gita Wirjawan bersaing dengan Icuk Sugiarto untuk memperebutkan kursi PBSI 1. Saat itulah saya baru menyadari bahwa Gita Wirjawan adalah menteri perdagangan. Seiring terpilihnya Gita sebagai ketua PBSI, semakin sering pula saya melihat wajah tampan milik beliau. Iya, Gita Wirjawan adalah salah satu pejabat di negeri ini yang memiliki penampilan mendukung. Badan tegap, wajah halus serta kharismanya memang membuat banyak orang akan terkesan padanya saat pertama kali bertemu atau melihat. Ditambah cara bicara yang elegan dan mampu memberikan semangat pada yang mendengarkan. Beliau mendapat nilai 90 untuk kesan pertama di mata saya.

Pertama kali saya bertemu Gita Wirjawan adalah saat final Indonesia Open SSP pertangahan Juni lalu. Beliau memberikan sambutan penghormatan pada legenda bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat, yang akan mengakhiri karirnya sebagai atlet pada hari itu. "Once a champion, always a champion", begitu kalimat akhir sambutan Gita Wirjawan untuk Taufik Hidayat. Saya menangis haru saat mendengar itu. Dari hati yang paling dalam, jujur, saat itu saya suka Gita Wirjawan.

Sekitar dua bulan kemudian, tepatnya di bulan Agustus 2013, 4 orang putra-putri terbaik Indonesia memberikan kado manis di hari kemerdekaan RI. Muhamad Ahsan/Hendra Setiawan serta Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil membawa pulang gelar juara dunia dari negeri Cina serta membuat seisi stadion berdiri hormat pada sang saka merah putih diiringi kumandang lagu Indonesia Raya.

Gita Wirjawan langsung terbang ke Cina saat tau 2 wakil Indonesia berhasil ke final kejuaraan dunia 2013. Beliau duduk bersama para atlet mendukung perjuangan pahlawan-pahlawan bulutangkis di karpet hijau.

Selesai sampai di sini? Belum. Akhir kejuaraan dunia adalah awal dari semuanya. Awal perubahan pandangan saya pada sosok kharismatik penuh wibawa, Gita Wirjawan. Ketika itu, beliau mulai sering tampil di media mendampingi para juara. Wajahnya wara-wiri di televisi mengisi berbagai acara. Semakin lama, sosok Gita Wirjawan sendiri lebih sering muncul dibanding sang juara. Ada yang salah? Tidak. Saya dan banyak penggemar bulutangkis jelas lebih ikhlas bila Gita Wirjawan yang lebih sering muncul dibanding para atlet juara tersebut. Karena semakin banyak yang mengenal atlet-atlet bulutangkis tersebut, semakin besar pula resiko mereka dicaci oleh publik saat mereka kalah. Saya akui, pikiran saya memang  agak menyusahkan. Saya ingin atlet bulutangkis Indonesia dikenal oleh masyarakat luas seperti layaknya masyarakat atlet sepakbola. Tapi di sisi lain saya juga tidak rela bila atlet tersebut banyak muncul di acara-acara tv yang kurang penting. Saya juga tetap tidak terima bila mereka diperlakukan seperti saat kejadian OG London dan Thomas-Uber 2012.

Saya akui, seluruh masyarakat Indonesia tau Indonesia mempunyai juara dunia bulutangkis baru salah satunya adalah karena peran aktif Gita Wirjawan yang gencar melakukan hubungan dengan media. Dan saya akui pula, program yang diusung PBSI di bawah Gita Wirjawan ini adalah program yang benar dan mulai menuai hasil. Tidak ada yang salah antara Gita dan organisasi bulutangkis yang dipimpinnya. Yang salah adalah ketika tiba-tiba beliau memanfaatkan moment besar seperti kemenangan di kejuaraan dunia untuk memperlancar niatnya di Pemilu 2014.

Anggaplah Gita Wirjawan adalah orang yang pandai memanfaatkan kesempatan yang ada. Semua orang yang mencalonkan diri menjadi presiden memang mencari cara agar dilihat baik oleh masyarakat. Siapa pun itu. Tapi semua cara yang masih mendapat pemakluman itu hancur ketika tiba-tiba beliau yang berkharisma ini muncul di acara musik abal-abal yang bahkan saya sebagai orang bodoh pun enggan untuk menontonnya. I mean, itu serius Gita Wirjawan yang saya kagumi selama ini? Di acara musik seperti itu? Tuhan, salah apa negara ini sehingga calon presidennya muncul di sebuah acara tidak bermutu seperti itu. Atau hanya saya yang salah baca info? Entahlah.

Semakin hari, ketidaknyamanan saya pada sosok yang selama hampir setahun saya kagumi ini mulai nyata. Terakhir adalah ketika beliau menggunakan banyak buzzer yang adalah para artis twitter atau selebtwit untuk mempopulerkan namanya di dunia twitter. Orang-orang yang tadinya sama sekali tidak pernah membicarakan atau menyebut nama Gita Wirjawan, bahkan saat beliau menunjukkan prestasinya dalam memimpin PBSI, seketika dengan serempak mengagungkan nama Gita Wirjawan setiap saat. Mereka yang biasanya mempromosikan produk susu beruang atau handphone keluaran terbaru, tiba-tiba memasukkan nama Gita Wirjawan dalam promonya. Dalam hal ini, karena saya pernah sangat mengagumi sosok Gita Wirjawan, saya merasa sedikit tidak rela melihat beliau disejajarkan dengan produk susu beruang kalengan.

Tidak ada masalah saat beliau ingin mencalonkan diri menjadi presiden. Gita Wirjawan adalah rakyat Indonesia yang punya hak untuk memimpin negara. Saya yakin beliau juga kompeten dalam hal kepemimpinan. Namun yang membuat masalah (setidaknya bagi saya) adalah cara beliau mempromosikan diri.

Promosi lewat twitter dengan dibantu buzzer yang saat mereka mempromosikan barang saja membuat gerah. Dipromosikan oleh orang-orang yang menurut saya bahkan belum lama tau siapa itu Gita Wirjawan. Malah jangan-jangan tidak tau kalo beliau adalah ketua PBSI.

Pencitraan yang digunakan sungguh membuat orang seperti saya yang tidak paham politik ini merasa tidak perlu menghabiskan waktu untuk masuk ke bilik suara di Pemilu 2014 nanti.

Sungguh wahai pak Gita Wirjawan, saya adalah orang yang sempat mengagumi Anda yang tidak "caper" di media. Bapak orang pintar, gunakan strategi yang lebih baik dan lebih nyaman dilihat mata. Jangan membuat nama Bapak jatuh jauh sebelum waktu pemilihan itu sendiri dimulai. Rakyat Indonesia bukan hanya penonton acara musik pagi abal-abal di stasiun tv swasta itu, Pak. Rakyat Indonesia juga tidak semuanya suka dengan cara promosi selebtwit di twitter yang hampir setiap twitnya adalah twit berbayar yang sangat membosankan dan memuakkan.

Pak Gita, Bapak tidak menggunakan billboard besar untuk bisa diterima langsung oleh masyarakat bulutangkis Indonesia. Bapak juga tidak membayar buzzer untuk memberitahukan bahwa Bapak hampir berhasil membawa PBSI. Saat itu Bapak menunjukkan semua prestasi dengan bukti. Indonesia berhasil memiliki juara dunia, itu salah satunya.

Sebelumnya saya sempat yakin akan memilih Bapak saat mendengar kabar Bapak akan mencalonkan diri sebagai presiden. Karena saya tau prestasi Bapak bersama PBSI. Tapi sekarang saya jadi lebih yakin untuk tidak memilih siapa pun di pemilu 2014 nanti. Tidak terkecuali Bapak Gita yang pernah saya idolakan. Saya memilih masuk dalam Golongan Putih.

Pak Gita, kalau Bapak sampai terpilih menjadi presiden nanti, tolong hentikan segala aktivitas norak yang pernah Bapak lakukan. Kalau Bapak tidak terpilih, kembalilah menjadi Gita Wirjawan seperti sebelumnya, Pak. Gita Wirjawan yang berkharisma dan berwibawa. Gita Wirjawan yang kata-katanya membuat saya menangis terharu. Gita Wirjawan yang walaupun tidak mengerti seluk-beluk bulutangkis, namun mampu membuktikannya dengan prestasi.

Jadi pak Gita, maaf, untuk sekarang, saya tidak lagi mengidolakan Anda. Saya kehilangan kenyamanan dengan banyak hal yang Bapak lakukan.

Tapi terimakasih, Pak. Karena Bapak sudah membuat saya yakin dari hati untuk tidak menghabiskan waktu di bilik suara tahun depan.


Thursday, December 5, 2013

Mencegah Lebih Baik Dari Mengobati

Saya adalah anak kost. Saya sudah kost sendiri sejak kelas X SMA. Seperti anak kost pada umumnya, mie instan adalah makanan favorit sekaligus dewa penyelamat saat kantong kosong karena kiriman belum datang.

Saya pernah berpikir bahwa saya tidak akan pernah bisa hidup tanpa Indomie. Mie kebanggaan bangsa Indonesia ini sebenarnya memang layak masuk ke dalam buku daftar nama-nama pahlawan. Rasanya yang nikmat dan didukung dengan harga yang terjangkau adalah pilihan pas bagi masyarakat Indonesia, terutama kaum rantau yang seharusnya dipelihara oleg negara ini. Tapi mie instan sebenarnya hanya manis di bibir, memutar kata, malah kau tuduh akulah segala penyebabnyaaaaa *mbak fokus mbak*. Benar, mie instan adalah makanan enak, tapi nikmat yang diberikan adalah kenikmatan sesaat yang mungkin saja bisa mendatangkan sesuatu yang membuat kita tidak nyaman nantinya.

Sebagai anak kost, saya berhasil lepas dari jerat kenikmatan sesaat dari mie instan. Sudah sejak pertengahan tahun saya mulai berhenti makan mie instan. Tadinya saya pikir saya tidak akan bisa lepas dari kecanduan mie instan tersebut, terlebih saya saat itu sedang sangat menyukai mie instan asal Korea yang bintang iklannya adalah seorang pria dengan bibir cemokot bernama Lee Yong Dae. Oke, maap, kalimat di atas untuk 17+. Tapi nyatanya saya bisa.

Mungkin tidak banyak efek yang saya rasakan ketika berhenti menyantap mie instan. Namun saya percaya, kalau saya melanjutkan mengkonsumsi makanan ini, efeknya akan saya rasakan nanti di masa depan. Karena kita hidup bukan hanya untuk hari ini, tapi kita juga hidup di masa depan. Apa yang kita tanam hari ini, akan kita panen di masa depan. Bila kita mengkonsumsi makanan yang baik, Insya Allah di masa depan kita juga akan merasakan tubuh yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Banyak yang menanyakan mengapa saya berhenti mengkonsumsi. Banyak pula yang berpendapat bahwa hidup yang hanya sekali ini akan sangat sia-sia bila kita menghindari banyak makanan. Bahkan ada yang bilang bahwa saya tidak menikmati hidup dengan memilih-milih makanan yang saya konsumsi.

Tapi menurut saya, inilah cara saya menikmati hidup, dengan memilih makanan yang baik untuk tubuh saya dan tidak sekedar memanjakan lidah dan mengenyangkan perut (juga menambah lemak jahat di badan).

Namun ini adalah pilihan masing-masing. Semua orang punya hak untuk memilih apa yang akan dimasukkan ke dalam tubuh.

Dengan berhenti mengkonsumsi mie instan, saya berusaha untuk membuat hidup saya lebih baik ke depannya. Semoga ini adalah salah satu cara yang benar untuk menjaga kesehatan yang telah diberikan Tuhan kepada saya.

Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?

Keep RAWk!!!

Thursday, November 28, 2013

nDesa Saya Masuk Wikipedia

Apa perasaan kalian kalau tempat kelahiran kalian ada di Wikipedia? Pasti biasa aja. Lhawong kebanyakan mungkin lahir di tempat yang ada di peta. Tapi lain dengan saya yang tempat kelahirannya selain sulit dijangkau juga susah buat dicari di peta.

Sejak semalam, saya lagi suka dengerin lagu Passenger Seat-nya Steven Speak. Karena dengerin lagu itulah saya akhirnya inget kalau ada videonya Vic Zhou dengan backsound lagu tersebut. Judul video tersebut "Vic Chou Driving To Yilan". Kalau mau lihat seperti apa video, silahkan cari di youtube.

Video itu adalah video berdurasi 4 menit 36 detik tentang perjalanan Vic mengendarai mobil ke Yilan (kampung halaman Vic). Tenang, saya bukan mau nyeritain tentang Vic Zhou kok. Selain orang yang ada di video tersebut, yang membuat saya sangat tertarik adalah karena tiba-tiba saya ingat bahwa jalanan menuju Yilan mirip dengan jalanan menuju rumah saya. Jalan raya yang diapit tebing dan laut.

Saya sebenarnya jarang lewat jalanan itu saat pulang, karena saya lebih memilih lewat jalan satu lagi, yaitu sebuah jalanan curam melewati bukit. Karena saat pulang (saya biasa mudik malam hari), ketika sampai di dusun bernama Kalipasir, saya akan melihat bukit yang masih diselimuti kabut pada waktu subuh.

Nah, karena ingat jalanan pulang di video itu, akhirnya saya ketik "Padangcermin" di google. Padangcermin adalah nama kecamatan tempat saya lahir.

Saat hasilnya keluar, ada satu yang membuat saya langsung tertawa gembira. Yaitu tulisan desa Gunungrejo di kolom Wikipedia. Saya buka dan saya makin tertawa karena ada nama-nama kepala desa dari awal terbentuk sampai sekarang. Yang membuat saya tertawa adalah karena nama-nama itu sangat akrab di telinga saya, karena mereka adalah teman-teman Bapak saya. Kenalkan, Bapak saya bernama bapak Wiyatmo. Seorang pria kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, yang memutuskan untuk pindah ke Lampung pada awal tahun '70an demi mencari masa depan yang lebih cerah, kemudian akhirnya menemukan seorang wanita bernama Jariyah yang merupakan anak ke-4 dari 8 bersaudara. Berkulit putih, bertubuh iwel-iwel dan bermata sipit. Tak kiro Ibuku ki Cina hahahaa...

Sebagai anak rantau yang hanya bisa pulang kampung setahun sekali, saya kurang paham tentang perkembangan nDesa saya. Saat pulang, memang tidak banyak yang berubah dari wajah tempat lahir saya, di samping warganya yang terlihat asing di mata saya. Karena yang tua semakin tua, yang kecil jadi dewasa.

Mungkin sebelum saya tulis tentang Desa Gunungrejo, saya akan cerita tentang dusun tempat saya lahir dulu. Namanya Gunungsari atau biasa disebut Is. Kata mbah kakukng saya sih disebut Is karena lokasi kampung kami di sebelah timur pabrik karet. Lokasi pabrik itu sendiri sekarang sebenarnya bernama Tamansari. Tapi tetap dikenal dengan sebutan "Pabrik", padahal sekarang nggak ada pabrik apapun di sana.

Setau saya (kalau belum berubah), kampung kami terdiri dari 3 RT. Saya tinggal di RT 2 dengan pak RT bernama pak Subur, yang juga adalah seorang transmigran dari Jawa Timur. Rata-rata warga di kampung kami adalah orang Jawa, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Hanya ada satu keluarga Batak, yaitu pak Margono dengan istrinya bu Marice, keluarga pemilik warung terbesar di kampung kami. Dan seorang keluarga Sunda yaitu abah Rojak, yang tinggal di dekat masjid kebanggaan warga Is, yaitu masjid Jami Al Ikhlas. Rumah saya berada di kawasan paling ramai untuk ukuran kampung kami. Dekat sekolah, dekat masjid dan dekat warung. Rumah saya berada di sebuah tanah yang lokasinya menanjak. Jadi dari halaman rumah, kami bisa melihat jalan raya (lagi-lagi, "raya" untuk ukuran kampung kami) serta gunung Gede, yaitu gunung yang berderet panjang di sebelah selatan. Nah, dibalik gunung itulah terletak Teluk Kiluan yang namanya termasyur itu.

Halaman depan rumah kami lumayan luas. Halamannya bukan dari tanah, tapi sudah rata disemen untuk keperluan menjemur kakao. Rata-rata rumah di kampung kami pasti mempunyai halaman yang disemen, karena mata pencaharian warga adalah bertani kakao.

Depan rumah kami adalah rumah pak Subur, sebelah utara adalah rumah pakde Maryan, sebelah selatan adalah rumah pak Ngadiyo, sedangkan di selatan agak menjorok ke belakang adalah rumah pak Paijo. Anak-anak pak Paijo inilah yang membantu saya berada di Jakarta. 3 dari 5 anak pak Paijo bekerja sebagai pegawai pabrik di Balaraja. Selama mendaftar kuliah, saya tinggal bergantian di rumah mereka. Dulu saat kuliah, ketika kekurangan uang dan kiriman belum datang, salah satu dari mereka yang membantu. Selain keluarga pak Paijo, anak-anak dari pak Jumiko (teman Bapak dari Jawa yang juga tetangga) juga selalu menolong saya di masa-masa kuliah. Terimakasih semuanya, saya seperti ini juga karena kalian semua :')

"Hidup yang paling nyaman adalah di desa", begitu kata Ibu saya. Orang yang hidup di desa (dalam hal ini adalah kampung saya) sesusah apapun pasti bisa makan 3 kali sehari. Tempat di mana orang-orang tidak perlu dipaksa untuk makan sayur adalah di desa.

Saat musim paceklik, kakao hanya berbuah sedikit dan kadang brekele (buahnya tidak bagus), orang-orang masih bisa makan dengan tenang. Mungkin mereka tidak bisa membeli bahan makanan dari warung atau pasar, tapi akan tetap selalu ada sayuran yang bisa dipetik dari halaman tetangga. Ada pepaya di belakang rumah tetangga, daun singkong, bayam dan kawan-kawan. Dan semua cuma-cuma alias free tanpa diminta bayaran.

Saya sangat bersyukur karena saya lahir dan besar di kampung terpencil seperti Is. Dari sanalah saya belajar cara hidup yang benar. Dari sanalah saya mengenal tata krama. Dari sanalah saya tau bagaimana harus berjalan di jalan yang benar. Dari sana juga saya tahu apa itu gotong royong dan membantu sesama tanpa pamrih. Dan yang membuat saya lebih bersyukur adalah karena saya lahir di keluarga bapak Wiyatmo.  Keluarga yang mewajibkan anak-anaknya menempuh pendidikan minimal SMA. Di mana pendidikan seakan kurang begitu penting di kampung kami. Karena itulah saya dengan bangga menuliskan nama "Wiyatmo" di belakang nama saya yang pastinya adalah nama kampung.

Satu yang sangat saya kagumi dari kampung kami adalah langitnya. Baik pagi, siang, sore atau malam, langit di kampung kami adalah langit paling menakjubkan yang pernah saya lihat. Saat pagi berwarna oren, siang berwarna biru jernih, sore berubah menjadi jingga keunguan, dan puncaknya adalah saat malam. Ribuan bintang akan terlihat jelas seperti kita sedang berada di pesawat luar angkasa. Saat menghadapan ke selatan, akan dengan jelas terlihat rasi bintang Gubuk Penceng yang membentuk seperti layang-layang raksasa. Selain itu, hampir setiap rumah menggunakan parabola, yang saya percaya adalah satelit yang digunakan warga untuk berkomunikasi dengan makhluk dari planet lain.

Kamu mau kelapa muda, tinggal petik. Kamu mau buah mangga, ada. Kamu mau pisang, silakan ambil. Kamu mau buah salah, tinggal minta ke tetangga. Semuanya ada, hanya jodoh yang tidak saya temukan di kampung saya hahahahaaa...

Nah, ketika sebuah desa terpencil seperti tempat saya ini bisa masuk Wikipedia, tidak heran kalau saya sangat gembira. Bahkan saya punya potongan koran yang memuat berita tentang desa saya yang saya temukan di koran yang saya beli untuk duduk di kapal saat pulang dari kampung. Sekarang masih menempel rapi di lemari.

Semoga suatu saat nanti, saya bisa kembali menghabiskan masa tua saya di desa. Mengingat masa kecil saat saya masih berlarian bertelanjang dada dengan sendal jepit atau bertelanjang kaki. Semoga...

Friday, November 15, 2013

ζˆšδΌŸζ˜“

Entah saya harus mulai dari mana. Karena saya mau mengkhayal di postingan ini.

Sudah lama saya mau menulis tentang laki-laki ini. Seorang pria berumur 25 tahun yang menjadi pewaris perusahaan bernama Yi Yang Group. Dialah Qi Wei Yi.

Qi Wei Yi sekarang sudah meninggal. Dia meninggal sebelum Natal tahun 2006. Meninggalkan banyak kenangan pada banyak orang yang mengenalnya, saya salah satunya.

Banyak kenangan tentang Qi Wei Yi yang bisa membuat saya tiba-tiba tersenyum sendiri atau bahkan menangis sendiri bila mengingatnya. Dia adalah sosok yang selalu terlihat dingin, serius dan mempunyai target. Tapi pada kenyataannya, dia adalah orang yang berhati hangat namun kesepian.

Dia meninggal karena kanker hati yang di deritanya. Dia tahu tentang penyakit itu 3 bulan sebelum dia meninggal. Dan dalam waktu 3 bulan itulah, hidupnya menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan bagi saya. Bahkan menemani saya menjalani kehidupan sehari-hari.

Qi Wei Yi pernah bilang bahwa orang-orang baik yang meninggal akan pergi ke planet Mars, Lucky Star. Dia juga mengajarkan bagaimana isyarat tangan untuk Lucky Star. Dan saat merasa sedih, gugup atau ruwet, saya selalu mengaitkan kedua tangan saya membentuk Lucky Star. Maka segala kegundahan hati akan hilang.

Tadi pagi, sepulang dari lari pagi, saya pergi ke Pasarminggu. Keadaan pasar agak kurang mendukung sepatu saya. Hujan semalam membuat keadaan pasar menjadi becek. Tapi saya tetap berjalan mengelilingi pasar.

Sambil ditemani suara Qi Wei Yi yang menyanyikan lagu Shou Xi De Wen Rou, saya berjalan. Berharap Wei Yi berdiri sambil memamerkan senyumnya yang khas. Menunjukkan giginya yang gingsul dan lesung pipi serta mata yang sedikit terpejam saat tertawa. Saya dekati beberapa penjual daun bawang yang ada. Karena terakhir saya melihat dia di pasar adalah saat menawar daun bawang.

Tapi setelah berputar-putar, saya tetap tidak menemukan Qi Wei Yi. Saya pun tau, saya tidak akan menemukan Qi Wei Yi di mana pun. Karena Wei Yi sudah ada di hati saya. Saya tidak perlu mencarinya.

Natal tahun ini, akan menjadi Natal ke-7 semenjak kepergiannya.

Sekarang dia pasti ada di Lucky Star. Berkedip setiap malam, mengetahui bahwa saya merindukannya. Menunggunya membalas kode dan isyarat tangan yang selalu saya kirimkan.

Dia pergi ke planet Mars. Sayangnya dia lupa, saat pergi ke planet Mars, tidak ada kendaraan untuk kembali ke bumi. Qi Wei Yi telah kembali ke rumahnya di Lucky Star. Di sini, saya akan terus mengingatnya sebagai orang yang pernah memberikan kenangan indah dalam hidup saya.

Berbahagialah, Qi Wei Yi. Suatu saat kita pasti bertemu lagi.

































Begitulah kira-kira khayalan saya di siang yang mendung ini.

Thursday, November 14, 2013

Hua Ze Lei

“There are two types of regret in
this world. One is losing the person
you love. The other is seeing your
beloved lose happiness"

“we could stop our tears from flowing if we stand upside down.”

Saturday, November 2, 2013

Tuhan Sang Maha Tak Terduga

"Where there is a will, there is a way", begitu kata pepatah lama. Kalimat ini pertama kali saya baca di sampul buku tulis Sinar Dunia (SiDu) ketika SD, yang ketika itu saya artikan menjadi, "Dimana di sana adalah akan, di sana adalah jalan". Tapi ketika saya mulai sedikit tau bagaimana cara berbahasa Inggris, saya akhirnya mengerti bahwa maksud dari kalimat mutiara tersebut adalah "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan".

Kalimat yang entah pertama kali diucapkan oleh siapa ini adalah kalimat yang sangat benar adanya. Tuhan memang Maha Mengetahui. Saat salah satu dari makhluk-Nya memiliki impian, maka perlahan tapi pasti, Dia membuka jalan, meskipun itu dengan cara yang kadang sepele.

Saya pernah menulis di blog ini beberapa waktu yang lalu tentang keinginan saya untuk bisa menguasai bahasa Mandarin. Sampai sekarang memang saya belum kesampaian untuk mengikuti pelajaran secara resmi seperti melanjutkan kuliah di jurusan bahasa Mandarin. Karena jangankan untuk melanjutkan kuliah, melihat biaya kursus bahasa Mandarin saja saya sudah ketar-ketir. Mungkin dengan gaji saya sekarang, saya bisa membayar uang kursus bahkan uang kuliah sekalipun, dengan resiko saya hanya makan sekali sehari dengan porsi setengah dan berangkat ke kantor sambil ngamen biar gratis hehehe...

Tapi Tuhan tidak akan menciptakan manusia tanpa akal. Karena itulah keistimewaan manusia, diberi akal.

Seperti yang juga saya tulis di tulisan saya beberapa waktu lalu, saya selalu menyempatkan waktu untuk belajar bahasa Mandarin secara otodidak. Setiap malam sebelum tidur, yang saya lakukan adalah mempelajari apa yang ada di buku petunjuk yang saya miliki. Kadang saking bingungnya saya sampai berkeringat. Tapi Tuhan juga tidak pernah membiarkan saya bingung terlalu lama. Karena tidak mungkin ada pertanyaan tanpa jawaban. Oleh karena itu saya yakin, diciptakannya sebuah aplikasi bernama wechat adalah saya satu rencana Tuhan untuk saya. Iya, wechat. Ada fitur di aplikasi tersebut bernama 'drift bottle' yang memungkinkan penggunanya untuk berkirim pesan dan berteman dengan pengguna dari negara lain. Dan beberapa teman saya di wechat berasal dari negara-negara daratan China. Mereka adalah tempat saya bertanya ketika saya bingung tentang bahasan di buku panduan saya.

Selain belajar sendiri, saya juga rajin menonton serial drama Taiwan dari dvd bajakan yang saya beli Rp. 5000/keping. Bahasa yang digunakan di serial drama Taiwan memang agak berbeda dengan bahasa Mandarin yang menjadi bahasa resmi. Tapi saya juga bingung di mana perbedaannya.
Kadang saya sengaja mematikan subtitle di drama tersebut. Dan itu lumayan membantu.

Alhamdulillah, berkat belajar sendiri selama kurang lebih dua bulan ini, saya sudah bisa menulis sekitar 65 karakter. Meskipun masih kaku dan kadang masih harus berpikir beberapa detik saat membaca. Tapi saya bahagia.

Dan tadi siang, saya bahagia sekali. Mungkin bagi orang lain, kebahagiaan saya ini sepele. Tapi untuk saya, ini semacam menjalani ujian semester dan hasilnya memuaskan.

Jadi tadi siang saya pergi ke supermarket di sebuah mall kebanggaan masyarakat Pejaten dan sekitarnya untuk membeli beberapa barang. Mall yang dulunya hanya berisi mahasiswa Unas dan anak-anak sekolah Gonzaga ini sekarang sudah lebih ramai dan menjadi tempat tujuan para expatriat yang tinggal di sekitar Pejaten dan Kemang.

Tadi ketika saya antre di kasir, saya berdiri di belakang 2 orang bermata sipit dan berkulit putih yang ngobrol menggunakan bahasa yang sangat familiar bagi saya. Beberapa kali saya dengar kata, "meiyou" dan "shi a". Saat dua orang tersebut selesai membayar, salah satu dari mereka bertanya pada kasir. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan. Tapi karena tampaknya mereka bertiga sama-sama bingung, akhirnya saya tertarik untuk mendengarkan. Dan ternyata 2 orang China tadi sepertinya tidak mengerti bahasa Inggris. Beberapa kali saya mendengar mereka mengucap "sutien" sambil membuat isyarat tangan seperti orang sedang mengipas sesuatu.

Saya dalam hati mengingat-ingat arti kata "sutien" yang mereka ucapkan. Dan saya akhirnya 'ngeh' bahwa 'sutien' yang mereka maksud adalah Shu Dian (书店) atau toko buku. Mungkin isyarat tangan tadi adalah membuka buku.

Saya akhirnya memberanikan diri ikut nimbrung dengan bertanya, "Shu Dian?". Iya, saya bertanya pada mereka. Dan saat mereka bilang iya, akhirnya saya jawab "zai san ceng", yang artinya di lantai 3. Entahlah, saya juga bingung itu toko buku hitungannya di lantai 3 atau lantai 1. Karena saya bingung dengan cara pengelola pusat perbelanjaan menomeri lantai.

Ketika mereka mengucap "xiexie" dan pergi saya langsung merasa bahagiaaaaaaaaaa sekali. Akhirnya apa yang saya pelajari ada gunanya juga.

Walaupun hanya mengucap beberapa kata, rasanya saya sudah menjadi orang paling bahagia sedunia saat itu. Memang ini bukan pertama kali saya coba menggunakan bahasa ini secara langsung, karena saya pernah menawarkan minum pada tamu dari Malaysia di kantor -yang bahasa Inggrisnya bikin pusing- dengan bahasa Cina. Yang saat dijawab saya juga ternyata tetap pusing dan tidak mengerti mereka mau minum apa :D

Seperti yang saya tulis tadi, bagi orang lain, jelas kejadian tadi siang sangat sepele dan tidak terlihat letak hal yang membuat bahagia. Tapi Tuhan Yang Maha Lucu memang sering membuat saya tersenyum bahkan tertawa sendiri karena bahagia. Karena Dia tau, tapi menunggu. Mungkin tadi saat saya berjalan di eskalator sambil menarik napas bahagia, di atas sana, Tuhan juga sedang tersenyum bahagia karena salah satu hadiah-Nya membuat makhluk ciptaan-Nya bahagia. Terimakasih, Tuhan :)

Tuesday, October 22, 2013

Razia Topeng Monyet

Pagi ini saya liat foto di halaman utama koran Media Indonesia. Di foto tersebut, terlihat 3 orang satpol pp menggiring seorang laki-laki setengah baya yang bertelanjang kaki dengan kaos kumal kebesaran. Mukanya tanpa ekspresi. Kosong.

Foto tersebut melengkapi berita tentang razia topeng monyet di Jakarta. Gubernur Jakarta sendiri sudah menetapkan larangan terhadap topeng monyet. Selain dapat menularkan rabies, topeng monyet juga berdampak pada eksploitasi hewan itu sendiri.

Jelas memang hal tersebut sangat benar adanya. Saya sendiri sama sekali merasa tidak ada yang lucu saat menonton topeng monyet.

Saya sayang binatang. Tapi hanya kucing dan ayam-lah binatang yang paling dekat dengan saya. Binatang paling dekat dengan yang terakhir saya miliki adalah seekor ayam jantang turunan Bangkok bernama Samsu yang meninggal sebelum puasa kemarin. Sebenarnya itu bukan ayam saya, karena Samsu tinggal di Lampung. Keponakan sayalah yang menjaganya sampai terakhir kali dia bernapas.

Meskipun saya menyayangi binatang, saya tidak akan turun ke jalan untuk ikut kampanye perlindungan binatang. Saya hampir yakin, saya tidak akan pernah melakukan hal itu karena saya masih harus mengurusi perut saya yang juga harus diberi makan.

Bukannya saya anti-pati terhadap kampanye perlindungan binatang. Saya tetap cinta binatang. Saya tidak akan pernah menyiksa binatang. Bahkan saya memutuskan berhenti minum susu sapi karena tidak tega mengingat payudara sapi ditarik-tarik. Padahal menurut info, memerah susu sapi adalah cara agar payudara sapi tidak sakit. Tapi tetap saja tidak doyan daging dan susu sapi serta hewan berkaki empat lainnya.

Saat melihat foto dan membaca berita razia tadi pagi, saya justru merasa iba pada bapak pemilik monyet tersebut. Jelas perasaan iba saya ini akan ditentang oleh banyak aktivis pecinta binatang.

Mereka memang salah karena telah memperlakukan binatang tidak sesuai kodratnya. Tapi, apa pekerjaan mereka setelah ini? Aktivis?