Tuesday, August 27, 2013

F4, Cinta Pertama Yang Tak Terlupakan

Sambil ditemani ciuman mesra dari nyamuk dan lagu-lagu dari sebuah boyband asal Taiwan, mari menulis lagi...

Sebagai orang yang mengalami masa remaja di awal tahun 2000an, saya dulu pernah berpikir bahwa laki-laki tampan dan charming adalah laki-laki yang rambutnya di-rebonding. Kalau saya sebutkan itu di depan remaja jaman sekarang, mungkin orang pertama yang pertama kali melintas di kepala adalah Agung Hercules. Rambut lurus sebahu dengan biceps antem-able. Tapi bukan Agung Hercules orang yang sedang akan saya tulis. Tapi 4 orang dari daratan Cina, tepatnya dari Taiwan. Iya, F4.

Jauuuuuuh sebelum ada boyband-boyband dari Korea yang digilai remaja putri saat ini, yang 'wabah'nya sudah menyebar ke hampir seluruh belahan bumi, sudah ada lebih dulu sebuah grup yang sanggup menghipnotis ribuan anak muda bernama F4.

Mereka adalah Jerry Yan, Vic Zhou, Ken Zhu dan Vanness Wu. 4 orang pria yang ketika itu menjadi ikon anak muda pada masa itu.

Semua bermula dari sebuah serial tv fenomenal berjudul Meteor Garden. Tidak usah dijelaskan sinopsis dari serial tersebut. Yang jelas, serial tersebut berkisah tentang percintaan anak muda dengan segala intriknya.

Ketika itu, banyak sekali remaja putri, tidak hanya di Indonesia, tetapi hampir di semua wilayah benua Asia, terutama Asia Tenggara, menjadi begitu fanatik dengan grup yang satu ini. Grup, iya, agak susah sebenarnya menyebut mereka dalam sebuah nama kesatuan. Untuk menyebut mereka boyband, mungkin agak kurang pas karena mereka bukan murni sebuah grup yang menyanyikan lagu-lagu. Yang jelas mereka adalah grup idola yang memiliki pengaruh sangat besar bagi hidup banyak remaja pada saat itu, salah satunya adalah saya.

Jujur, pertama kali menonton serial Meteor Garden di episode pertama, saya agak kesal dengan gaya dan dandanan Jerry Yan atau Yan Cheng Shu yang di serial tersebut memerankan sebagai Dao Ming Shi. Sungguh gaya dan dandanan yang aneh binti ajaib. Celana yang agak ketat di bagian paha, kemeja dengan motif yang susah dimengerti yang juga ketat, dan ikat kepala. Apalagi mereka berempat di serial tersebut digambarkan sebagai kelompok berpengaruh di kampus yang agak arogan karena orang tua mereka adalah pendiri kampus tersebut (orang tuanya tukang bangunan? Maybe).

Saya sendiri lebih jatuh cinta pada seseorang dengan kemeja putih lengan panjang dengan rambut lurus sebahu. Yak, dia adalah Hua Zhi Lei alias Vic Zhou alias Zhou Yu Min alias Zaizai. Dialah orang yang masih beritanya masih saya ikuti sampai sekarang.

Pada waktu itu, pasti banyak sekali perempuan yang ingin punya rambut panjang lurus sepinggang dan punya motor sendiri serta menengadahkan kepala saat menangis agar air mata tidak keluar. Banyak yang ingin seperti Shancai, yang diperankan oleh Barbie Xu. Perempuan yang pada akhirnya malah jadi pacar Zaizai di kehidupan nyata :|

Bagi saya, F4 adalah cinta pertama. Karena mereka adalah orang-orang yang pertama kali saya idolakan di masa remaja saya. Jauh sebelum saya tau Shintaro Ikeda, Jason Mraz, Jan O. Jorgensen dan Lee Yong Dae. F4 adalah artis yang mengisi keseharian banyak orang termasuk saya.

Saat pulang kampung di Idul Fitri kemarin, saya sempat pergi ke atas plafon rumah bagian dapur yang dulunya adalah tempat saya menyembunyikan diri sambil makan siang dan menghadap ke arah selatan melihat atap-atap rumah tetangga yang tertutup pohon-pohon di halaman mereka. Saat ini "the chamber of secret" itu sudah difungsikan sebagai gudang. Di sana, saya menemukan banyak sekali kenangan masa remaja. Mulai dari buku-buku sd, poster-poster pemain sepakbola, tulisan-tulisan yang mungkin adalah cerpen yang saya tulis semasa sd dan smp, serta beberapa hal tentang F4.

Saya juga menemukan sebuah tulisan di sampul buku ppkn sd kelas 5, yaitu, "I want to study hard, so  I can be a human". Entah apa maksud dari tulisan itu. Am I an alien? Or a Martian? Probably.

Benda paling berharga yang saya temukan di sana adalah setumpuk kertas putih yang diatasnya ditempeli gambar-gambar personil F4. Beberapa ada yang dilem menggunakan nasi. Saat itu saya yang memang tinggal di kampung tidak selalu memiliki lem, even lem kertas. Kalau cat minyak malah saya punya banyak
:D

Salah satu bukti bahwa F4 adalah cinta pertama saya yaitu hampir semua cover buku pelajaran saya adalah gambar F4. Dan ada beberapa gambar Agnes Monica dan Roger Danuarta -_______-"

Awal tahun ini, untuk memulai sebuah festival tahun baru Cina, sebuah stasiun tv membuat kejutan besar bagi penggemar F4 yaitu menyatukan mereka dalam satu panggung. Betapa bahagianya penggemar F4 dari banyak negara yang mungkin sekarang banyak yang sudah berkeluarga. Atau bahkan punya anak.

Ketika video reuni manis tersebut diunggah ke youtube, saya langsung meluncur dan alhasil mata saya basah karena terharu mendengar lagu-lagu yang merupakan soundtrack dari serial Meteor Garden 1 ataupun 2.

Mereka berempat sudah dewasa :')

Satu-satunya orang yang menurut saya tidak berubah adalah Jerry Yan. Sedangkan Vanness, Xiao Tian dan Zaizai terlihat lebih dewasa.

Di konser itu terlihat banyak penonton yang meneteskan air mata haru karena bahagia.

Saya sih tetap takjub sama Zaizai. Walaupun Jerry Yan yang tetap sangat "Meteor Garden", tapi orang yang paling menarik tetaplah Zhou Yu Min.

Saat mereka atau salah satu dari mereka bermain di sebuah film atau serial drama, saya kadang agak sulit membedakan karakter mereka. Ketika tahun 2006, Zaizai bermain di drama Silence, dia memerankan seorang pria introvert yang mengidap penyakit mematikan. Ketika dia menangis, saya seperti ingin bilang, "Do the handstand!!" karena saya ingat quote terkenal dari Hua Zhi Lei di MG, yaitu, "If you are about to cry, do the handstand. So your tears won't fall down", 'till finally I realize that it was the different drama :D

Di serial Mars (Zhan Shen) yang bintang utamanya adalah Zaizai dan Barbie Xu, saya kadang-kadang berpikir, saat sedih Chen Ling (Zaizai) berubah menjadi Lei. Dan saat adu argumen, Han Qi Luo (Barbie Xu) sangat "Shancai".

Meteor Garden juga merupakan awal mula saya sangat percaya pada drama Asia. Pesan moral yang sangat bisa diambil dan menjadi bahan pertimbangan saya untuk percaya adalah bahwa setiap perempuan, walaupun perempuan biasa, tidak cantik dan tidak kaya, akan tetap menemukan laki-laki idamannya. Maka dari itulah awal saya sangat mempercayai drama Asia dan menjadi salah satu dari 3 hal yang sangat saya percaya, selain zodiak dan alien di jagad raya.

Sekarang saya sedang mendengarkan lagu Liu Xing Yu. Dan saya berharap malam ini saya bisa bertemu Hua Zhi Lei atau Zaizai di dalam mimpi indah.

Zhai Jiaaaaaan....

Sunday, August 25, 2013

3 Hal Yang Saya Percaya

Selain Allah swt beserta segala Firman-Nya dan orang tua saya, dalam hidup ini hanya ada 3 yang saya percaya.

Pertama, saya percaya zodiak. Zodiak sangat mengerti saya. Whatever people will say, saya tetap akan percaya zodiak.

Kedua, saya percaya alien itu ada dan mereka juga percaya bahwa kita juga ada dan saya yakin mereka juga sedang mengirim pesan untuk kita. Dan saya pun yakin, antena parabola adalah pendeteksi alien yang disamarkan menjadi antena televisi.

Yang ketiga, saya percaya pada drama asia. Di kebanyakan drama asia, gadis "biasa" selalu bisa mendapatkan laki-laki yang diidamkannya lalu hidup bahagia selamanya. Sebagai gadis "biasa", saya harus percaya itu.

Ya gitu aja sih.

Thursday, July 11, 2013

Raw Oatmeal Pudding

Sebagai salah satu dari banyak pemuja raw food, saya akan coba menuliskan sebuah resep yang saya temukan kemarin malam.

Resep puding ini sebenarnya lanjutan dari Chocomole yang sebelumnya sudah saya postingan di sini. Berawal dari kenaikan harga alpukat yang melonjak mengikuti naiknya harga bahan bakar minyak, maka beberapa hari yang lalu saya berpikir keras untuk mencari bahan lain pengganti alpukat, demi memenuhi hasrat saya untuk memakan puding sehat.

Lalu hari Minggu lalu bertemulah saya dengan pisang. Buah murah meriah yang bisa kita temukan di warteg dengan harga Rp. 1000. Kemudian saya berpikir bahwa tekstur pisang dan alpukat hampir sama dan pisang tidak membutuhkan pemanis tambahan seperti alpukat (pada Chocomole saya menggunakan kurma sebagai pemanis).

Maka saya campur pisang dan cacao powder di penghancur makanan yang dalam hal ini saya menggunakan food processor yang diberikan free saat kita membeli blender. Rasanya manis dan teksturnya menyerupai krim coklat.

Dan setelah berpikir beberapa hari, akhirnya saya bisa menyempurnakan pudding coklat saya. Seperti inilah resepnya :

Bahan :

- 2 pisang
- 2 sdm bubuk kakao
- 3 sdm oatmeal

Cara :

- Kupas pisang, potong-potong kecil dan masukan ke penghalus makanan.
- Tambahkan oatmeal dan bubuk kakao
- Proses dengan kecepatan tinggi hingga semua bahan tercampur dan lumat serta bertekstur lembut.
- Siap dihidangkan.

Untuk bubuk kakao, usahakan untuk mencari raw organic cacao powder. Namun bila tidak memungkinkan, carilah cacao powder yang tidak banyak mengandung campuran. Memang agak sedikit mahal dibandingkan dengan bubuk kakao biasa.

Selamat mencoba ^^

Sunday, June 30, 2013

Istora : Antara Nasionalisme dan Kegilaan

Nulis tentang Istora lagi mbak? Duh...

Iya, sampai hari ini diriku memang belum bisa move on dari gelaran Djarum Indonesia Open 2013 yang macam pesta rakyat meriahnya itu. Tiap hari Minggu masih berharap itu adalah final, atau berharap waktu semifinal terulang kembali. Tapi hari terus berganti dan kita harus menerima kenyataan bahwa Indonesia Open sudah berlalu, dan aku juga harus menerima kenyataan bahwa sampai sekarang tetap belum punya pacar lagi *koplingnya mbaaaak, kebablasen*.

Sebagai orang yang baru punya duit buat beli tiket, biasanya aku cuma bisa menikmati gegap-gempita Istora Senayan lewat tv dan nangis haru tiap liat betapa gilanya suporter Indonesia. Ini gila dalam hal positif ya, bukan gila macam suporter cabor sebelah yang seneng nyegat bis tim tetangga *disambit batu sama suporter oren*. Istora yang kata Jan O "a very incredible place", memang beneran tempat yang bikin orang yang mungkin nggak bener-bener suka dan merhatiin bulutangkis pun bisa jejeritan kesetanan saat berada di Istora menyaksikan pendekar bulutangkis bertanding.

Kursi vip yang di bayanganku itu tempat di mana suporter pendiam seperti aku duduk, ternyata sama dengan tribun kelas 1atau 2. Pecaaaahhhh....

Aku paling seneng waktu mc, si Steny Agustaf, minta penonton untuk bikin ombak. Pinggang yang tua renta ini sih agak linu ya pas disuruh berdiri-duduk-berdiri-duduk berkali-kali. Tapi pas liat lautan manusia yang membuat gerakan ombak dan menyadari kalau aku salah satu dari 'ombak' itu, rasanya langsung bahagia banget kayak dapet duit gocapan segepok.

Untuk kapasitas stadion yang sebenernya kalah jauh dari negara-negara lain seperti Malaysia atau even Singgepoh, Istora bisa ngasih keangkeran yang jauuuuuhhhhh lebih mengerikan dari negara manapun. Ya ane sih nggak pernah nonton secara langsung ke Malaysia atau Singgepoh ye. Boro-boro mau nonton ke luar negeri, Superliga sama Axiata Cup yang cuma di Surabaya aja kita nggak mampu *kitaaaak?*. Tapi pan kite punya internet ye bang, jadi bisa nonton di yutup dan mengamati keadaan penonton di sono.

Dan dari hasil stalking di instagram dengan search keyword #badminton dan #Leeyongdae, bisa dipastikan bahwa penonton di negara lain masih jinak. Contohnya aja yang masih anget Singapore Open SS. Aku liat foto-foto di instahramnya anak Singgepoh yang nonton langsung, dia bisa duduk di belakangnya rombongan Korea di kursi penonton yang salah duanya adalah Ko Sung Hyun dan Lee Yong Dae. Kayaknya sih masih sepi, mungkin masih babak pertama atau kedua. Yatapi di kursi penonton aja gitu, ngampar bareng penonton. Mau babak pertama atau babak kualifikasi sekalipun, itu kalo LYD berani duduk di kursi penonton di Istora yang sama aja cari matik. Lha Indonesia Open belum mulai, mereka baru nyoba lapangan dan latian aja udah sekompi yang nonton. Baru latian dan LYD masih tanding 2 atau 3 hari lagi padahal. Nggak tau itu suporter Indonesia maunya apa, lhawong cuma latian kok udah rame *geleng-geleng* *ketiban kaca*.

Kadang-kadang, dipikir-pikir itu penonton Istora pada sedeng semua sih. Bukan kadang deng, emang pada gila by default. Selain bibirnya yang pada kayak toa dan totalitas nonton yang nggak usah diragukan lagi, penonton Indonesia juga gampang banget ngasih dukungan ke pemain negara lain, asalkan nggak lagi ngelawan pemain Indonesia. Disenyumin atau didadahin sama pemain bule yang nggak tau namanya dan nggak tau dari negara manaaja langsung didukung. Pokoknya asal mereka ramah aja, pasti dapet dukungan dari bonek Istora. Makanya pemain-pemain ramah kayak Chris Adcock sama Gabby White pasti dapet banyak dukungan, dan nggak jarang pula dapet kado.

Penonton Istora memang menerapkan apa yang menjadi ciri manusia Indonesia, senang tersenyum dan ramah. Yatapi jangan harap situ pada dapet senyum dari kita kalo situ lawan pemain Indonesia. Zhang Nan/Zhao Yunlei aja grogi gitu lawan Ricky/Richi.

Yang bikin heran, babak pertama sampai perempat final yang digelar di hari kerja, kenapa bisa penuh begitu? Emang mereka nggak kerja? Nggak kuliah? Nggak sekolah? *anu mbak, permisi, lha situ nggak kerja kok nonton dari babak kedua? :|*. Tapi ya emang harusnya nggak heran sih, lha kayak yang dibilang tadi, baru latian aja, yang nonton udah seabrek. Padahal tiketnya naik jauh dari tahun lalu. Tiket vip babak kedua yang tahun lalu cuma gocap, taun ini jadi 125rebu aja gitu. Tapi sebanding sih sama apa yang didapet. Puasnya itu lho.

Perkiraanku pas final mungkin penontonnya nggak sepenuh semifinal karena wakil Indonesia di final cuma 1, itupun akan melawan pasangan ranking 1 dunia. Tapi nyatanya pemirsa, beuuhhh, itu lautan manusia makin banjir dan katanya sih tiket vip 95% terjual. 400rebu aja gitu, laku keras. Ini suporter bulutangkis makin kaya apa emang darah nekatnya semakin menjadi-jadi. Kalo aku sih sebagai kaum duafa, nyipain duit tiket udah dari setaun yang lalu. Nabung tiap bulan seratus ribu dan ternyata masih sisa banyak karena Alhamdulillah wa sukurillah, sebagai manusia yang sering menang kuis, aku dapet 2 tiket vip hrates dari Djarum Badminton untuk semifinal. Jadi sisa tabungannya bisa ditabung lagi untuk nonton taun depan, dengan catatan Indonesia Open taun depan aku belum bersuami, yo ra? :D

Buat pecinta bulutangkis yang nggak nonton langsung sih pasti nyesel ya, apalagi yang rumahnya di Yakarta. Karena kalaupun belum bisa beli tiket untuk vip, masih ada kelas 1 atau kelas 2 yang bandrol harganya masih didiskon. Aku juga mau sih nonton di kelas 2 yang nggak bikin kantong bolong, tapi mata silinderku nggak mau diajak musyawarah. Nanti kalo pantatnya LYD bentuknya silinder kan malah bahayak. Tapi pokoknya yang penting sih seru-seruan bareng. Mau nonton di vip, kelas 1 atau di kelas 2 yang letaknya di ujung berung, tetap dapet keseruan yang nggak akan didapet di manapun, di negara manapun.

Alhamdulillah sih taun ini bisa duduk di vip 3 hari, dari babak kedua sampai semifinal, karena kalau pas lagi sepi suara kita bisa kedengeran. Iya, ini mulai norak lagi. Waktu perempat final, aku nonton sendirian dan masih tetep teriak-teriak kayak yang di Istora tetangga dari kecil semua, padahal nggak ada satu pun yang kenal. Waktu itu sih manggil Chen Jin kenceng banget terus dianya nengok, terus orang-orang di sampingku juga nengok semua. Ben :|

Karena taun depan sponsornya bukan Djarum lagi, mungkin penyelenggaraan akan berbeza. Walaupun mungkin sponsornya masih sodaranya Djarum juga sih katanya. Tapi mungkin akan tetap meriah atau lebih mungkin, karena pertama kali jadi sponsor utama, jadi pasti kasih sesuatu yang beda. Kita tunggu aja. Btw, selamat tinggal DIO :'D

Jadi mari kita rajin bekerja dan giat menabung dari sekarang, supaya tahun depan bisa dateng lagi ke Indonesia Open mendukung pendekar-pendekar bulutangkis Indonesia berlaga, juga kesempatan melihat aksi pemain bulutangkis dunia yang biasanya cuma bisa kita lihat foto atau videonya di internet.

Jayalah Bulutangkis Indonesia!!!

Sunday, June 23, 2013

The Power of Alay-ness

     Ketika itu 15 Juni 2013. Suasana Istora sudah mulai sepi. Hanya ada sekitar 500an orang yang bertahan di dalam. Dua di antaranya adalah aku dan sahabatku, Fitria *haseeeeekk, udah kayak buku bahasa Indonesia belum?*.

     Harusnya ini masuk ke postingan "The Story of #NgIstora (part 4)". Tapi ini harus dibuat postingan tersendiri demi kebaikan dan kelangsungan umat manusia.

     Terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah membuat Istora lumayan sepi malam itu, terutama daerah tempat aku dan Fitria duduk. Hanya ada beberapa cewek-cewek seumuran aku dan Fitria (baca : abg), dan beberapa orang yang nggak sempat aku lihat. Match terakhir malem itu semacam bukan pertandingan bulutangkis, melainkan sebuah show dari boiben Korea yang akhir-akhir ini ramai digelar. Bayangpun, ada 4 orang pria berkulit porselen dan wajah alamak ganteng amat yak, siap untuk mengisi lapangan yang jaraknya hanya beberapa meter dari pandangan mata.

     Announcer udah bersuara, beberapa orang maju ke pinggir lapangan tempat para atlet yang akan bertanding lewat nantinya. Aku yang ingin menjadi manusia mainstream pun meloncati kursi untuk ikut berbaris di pinggir lapangan. Bermodalkan kamera henpon milik Pipit, aku nyalakan kamera video.

     Nama Yoo Yeon Seong dan Shin Baek Cheol dipanggil oleh announcer. Keluarlah 2 orang berbadan tinggi tegap dengan kulit yang bening sebening gelas belimbing. Mungkin mereka tiap hari mandi pake Tje Fuk atau minum pelitur 3 kali sehari.

     Sebagai orang norak *hidup noraaak!!!*, aku yang hidup di antara garis pengaharapan yang tak pernah padam ini, menjulurkan tangan ke depan, ke arah Yoo Yeon Seong dan Shin Baek Cheol. Dan yah, Shin Baek Cheol dan Yoo Yeon Seong ternyata merelakan tangannya bersalaman dengan gadis norak ini. Rasanya gimana rasanya? Halus kayak tepung aaaaakkk...

     Lalu dipanggillah orang yang ditunggu. Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae melangkah bak super model papan atas. Orang-orang di sampingku histeris dan menjulurkan tangan dengan norak lagi. Begitupun aku. Tapi mereka hanya tersenyum (terutama Ko Sung Hyun sih yang senyumnya lebar banget). Dan Gusti Pangeraaaan, itu komuknya Lee Yong Dae deket banget di depan muka ane. Dengan kumis tipis yang menghiasi bibirnya nggak terkontrol, and those biceps ooo em ji what the hell. Lee Yong Dae enak banget keliatannya ya Alloooh. Seger-seger manis gimana gitu. Dan Sung Hyun Oppa, badannya beuuhhhhh, ototnyaaaaaaah, pundaknyaaaah, betisnyaaaaaaaaahh, biceps-nyaaaaaaahhhh aaaaahh *pingsan*.

     Pipit terlihat ketawa ngekek dari atas kursi. Biarin, yang penting akoh udah salaman (--,).

     Pertandingan ini semacam pertandingan hiburan. Aku sih berharap match-nya rubber. Eh ternyata nggak. Sepanjang pertandingan, kami ditemani oppa-oppa Korea yang terdiri dari pelatih MD (yang pas quarter final dicegat cewek-cewek di pintu masuk diajakin foto), juga ada 2 atlet MD Korea yang masih kecil kayaknya, entahlah siapa namanya aku juga nggak hapal. Salah satunya Kang Ji Wook kalo nggak salah.

     Tim Korea lumayan rame juga ternyata. Rame ngetawain kami-kami yang sibuk dan nggak bisa nahan diri untuk nggak teriak ke makhluk halus yang ada di lapangan. Ini halus dalam arti yang sebenarnya.

     Pertandingan dimenangkan oleh Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae dalam dua set. Dan acara malam itu pun selesai. Tapi ke-norak-an dan ke-alay-an tidak selesai sampai di situ.

     Kami keluar Istora. Beberapa orang berkumpul di depan pintu masuk atlet. Kebanyakan tentu saja adalah kaum hawa. Tapi ada beberapa juga pria-pria khilaf yang ikut nunggu.

     Dengan harap-harap cemas, aku dan Pipit berdiri dengan pedenya di depan pintu masuk bis sambil ngobrol dengan pak sopir bis yang malah nyuruh kami ke hotel. Aku sih lebih pengen nyelinap ke dalem bis dan minta diculik dibawa ke Korea daripada harus nungguin di hotel. Tapi nyatanya, nggak ada satu pun dari pria-pria porselen itu yang mau nyulik aku :(

     Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya satu-persatu orang keluar. Dimulai dengan beberapa orang yang duduk di belakang kami saat di dalam. Suasana masih aman saat rombongan ini masuk bis. Lalu keluarlah Shin Baek Cheol. Hormon norakku membuncah. Dengan tekad dan hasrat yang meluap-luap, aku mendekat ke pintu bis dan nyolek tangannya Shin yang masih keringetan. Entah Pipit melakukan apa. Yang jelas suasana mulai kacau.

     Lalu porselen kedua keluar. Ko Sung Hyun dan Yoo Yeon Seong-nya akoh keluar dan masuk ke bis. Menurut laporan, Pipit sempat megang jaketnya Sung Hyun Oppa. Jaket? Iya jaket. Biarlah, lumayan. Aku sendiri harus puas hanya dengan megang tangannya Yoo Yeon Seong-nya akoh (LAGI).

     Keadaan mulai tak terkontrol gara-gara Ko Sung Hyun.

     Mereka sudah mengambil posisi masing-masing di kursi bis. Shin Baek Cheol duduk paling depan. Sung Hyun dan yang lain menempati kursi belakang. Tapi jagoannya belum muncul juga. Seperti biasa, ini memang selalu terjadi. Pemeran utama selalu muncul terakhir kayak polisi India.

     Setelah menunggu di bawah hujan badai, petir menyambar, tanah longsor, gempa bumi dan tsunami, akhirnya beberapa teriakan histeris bergemuruh. Beberapa orang dengan rompi kuning berjalan menuntun seseorang yang berjalan pasrah sambil menundukkan muka. Yah, dialah tersangka utama yang ditunggu. Suara histeris terdengar di mana-mana. Dan itu muka makin deket aja sama kita. Oh Tuhan, begitu indah ciptaan-Mu. Begitu halus dan sempurna buatan-Mu. Subhanalloh :')

     Semua orang berebut untuk memegang bagian badan dari Lee Yong Dae. Norak yo ben. Mumpung belum nikah yo ra?

     Aku dapet pipinya. Pipit dengan tanpa kasih sayang ngeremes biceps-nya dan langsung lonjak-lonjak kegirangan. Kalo pada mau tau kayak apa rasanya pipi Lee Yong Dae, rasanya halus dan kemlenyer, sampe sekarang aku masih bisa ngerasain dan ngebayangin sentuhan-sentuhan yang terjadi malem itu. Mumpung kami masih abg, jadi ya gpp lah ya.

     Sampai di dalam bis, LYD langsung diledekin temen-temennya. Dia cuma cengar-cengir salah tingkah.

     Sampe beberapa menit, bis belum jalan juga. Ternyata mereka nunggu si Yip Pui Yin jiayo. Ohhh God, I can kill myself and exchange my life with Yippy. Itu cewek sendiri di dalem bis yang isinya porselen semua pegimana rasanya cobaaaak? Ya Rosullll...

     Setelah Yippy masuk, pintu bis ditutup dan bis perlahan berjalan. Oppa ganteng kita semua duduk di pinggir jendela. Dia sempat senyum dan melambaikan tangan dengan diiringi oleh jeritan histeris oleh para Jamaah Al-Lee Yong Dae-iyah.

     Entah dirasuki oleh hantu darimana, aku dan Pipit langsung lari ke parkiran dan ngebut entah kemana. Tanpa helm dan peralatan perang, Pipit menjalankan motor bak kesetanan. Tujuan kami adalah satu, Hotel Atlet Century. Setelah muter-muter nyari tempat parkir, kami lari-larian ke lobby hotel untuk mencari pengharapan. Ya siapa tau aja, ye nggak?

     Tapi hari itu ternyata keberuntungan kami ternyata hanya sebatas sentuhan. Yippy yang satu bis dengan tim Korea ternyata sudah asik ngobrol dengan fans-nya di depan hotel. Berarti dimana oppa-oppa kita? Ya udah bobok atau mandi mungkin. Padahal kalo capek, kami juga rela suruh mandiin atau kalo ada yang masuk angin, aku ahli hal kerokan. Tapi sayang seribu juta kali sayang.

     Petualangan kami harus berhenti hari itu. Kami pulang dengan tangan yang tidak lagi hampa.

     Semoga tahun depan kami bisa berjumpa lagi dengan pasukan porselen ini. Sampai jumpa, Oppa
:*

Saturday, June 22, 2013

The Story of #NgIstora (part 5) "A Happy Tears For A Legend"

     16 Juni 2013 adalah hari bersejarah yang nggak mungkin aku lupain sepanjang hidup. Untuk pertama kalinya aku nonton final Indonesia Open secara langsung. Biasanya cuma mampu nonton di tv. Ya you know lah, masalah keuangan selalu menjadi penghambat nomer 1.

     Pagi hari, aku dan Fitria bertemu di depan Istora. Dimulai dengan mencari loket penjualan tiket kelas 1, foto-foto di lokasi-lokasi yang menarik, dilanjut dengan nyari sarapan di depan GBK. Fyi, soto ayam di depan GBK harganya 15rb. Seselai makan kami kembali ke Istora dan langsung menuju booth Yonex untuk mengambil kaos yang dibagikan gratis. Kemudian kami masuk ke tribun kelas 1 dan mencari tempat duduk paling wueanak.

     Jam 11, suasana mulai terasa meriah. Penampilan perkusi dan DJ mengawali dibukanya acara final hari itu. Tata cahaya luar biasa ditambah dengan kemeriahan penonton yang tetap hadir meskipun harga tiket yang melambung dan wakil Indonesia yang hanya 1 di final.

     Acara hiburan dilanjut dengan penampilan grup tari Rumingkang lalu dilanjut dengan kemeriahan grup musik Project-Pop yang menyanyikan beberapa lagu. Di tempat duduk khusus pemain, tampak keluarga besar Taufik Hidayat berkumpul mengenakan baju yang sama dengan aku pakai. Aku mulai merinding ketika melihat mereka, dan mataku mulai.panas saat Project Pop menyanyikan lagu "Ingatlah Hari Ini". Aku langsung menggandeng tangan Fitria yang duduk di sampingku.

     Perasaan dan emosiku campur aduk mendengar lagu itu dan mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya. Mataku tetap memanas dan puncaknya adalah ketika jajaran PBSI berkumpul di dekat podium. PBSI 1 melambaikan tangan dengan senyum manisnya ke arah penonton. Pak Gita Wirjawan memberikan sedikit kata sambutan yang nyatanya walaupun sedikit tetap membuat mataku makin panas. "Once Champion, Always A Champion" adalah kalimat yang membuat mataku membanjir tak tertahan. Yah, PBSI 1 memberikan ucapan terimakasih kepada  sang juara kebanggaan Indonesia yang hari itu akan melepas senjata dan meninggalkan medan perang yang selama lebih dari 17 tahun digelutinya. Dialah Taufik Hidayat. Si anak kontroversial yang namanya sangat dihargai oleh bulutangkis dunia. The Smiling Assassin yang mempunyai backhand smash lebih baik dari siapa pun.

     Sebuah video tentang TH diputar. Mataku masih belum mau berhenti mengalirkan airmata. Sampai ketika mc memanggil nama sang pahlawan diikuti dengan munculnya seorang pria berjaket merah yang tersenyum menahan air mata, mataku makin pecah. Perasaan sedih, bangga, terharu dan emosional bercampur menjadi satu.

     Taufik berdiri di depan mic, mengucapkan retirement speech-nya di depan publik Indonesia yang hadir di Istora waktu itu. Gemuruh tepuk tangan dan suara-suara yang memanggil namanya serentak hilang saat Taufik memulai kata-katanya. Wajah-wajah penuh haru tampak di sekitarku. Taufik berhasil menahan air matanya. Banyak orang menangis hari itu. Tangisan yang tentunya adalah campuran rasa sedih, terharu, terimakasih dan bangga karena telah menjadi saksi berhentinya sang legenda.

     Taufik mengakhiri pidatonya dengan ucapan terinakasih. Dan saat Taufik masuk, mc meminta penonton yang hadir untuk sama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Habis sudah mataku.

     Banyak penonton yang memakai kaos "We Love Taufik" termasuk aku. Tidak terkecuali para atlet baik nasional maupun internasional. Bahkan beberapa atlet Cina yang sudah kalah datang ke Istora hari itu. We DO love Taufik. Terimakasih, pahlawan. Terimakasih atas dedikasi dan prestasi yang telah kau berikan. We all wish a happy life for you. Thank you, mr. Taufik
:')

     Keharuan masih tersisa. Tapi pertandingan harus berlanjut. Match pertama adalah ganda putri antara Wang/Yu vs Bao/Cheng. Inget apa yang aku tulis di part 1? Orang yang foto sama aku dan Fitria berpotensi langsung juara terus atau langsung kalahan. Dan hari itu, Wang Xiaoli yang saat latihan di hari Minggu sempat foto sama aku, harus melepas gelarnya tahun lalu. Entah kekalahan ini permainan atau bukan, hanya Tuhan dan paduka Li Yongbo yang tau.

     Match kedua menggemuruh. Pertandingan antara Datok Lee Chong Wei vs Marc Zwiebler berlangsung sengit. Pada akhirnya Datok dapat memenangkan pertandingan dan berdiri di podium tertinggi. Penonton histeris ketika Datok menukar bajunya dengan milik Marc, kemudian menggantinya dengan kaos "We Love Taufik". Iya, Datok memang teman baik Taufik. Teman baik yang sekaligus 'musuh bebuyutan' di lapangan. Aku terharu lagi. Satu persatu maestro bulutangkis melepas senjata. Setelah Peter Gade, menyusul kemudian Taufik, mungkin selanjutnya Lin Dan dan Lee Chong Wei akan segera menyusul. Entahlah, tidak ada yang tau. Yang jelas, sebelum pensiun plis temuin aku sama Lin Dan, Ya Alloh :')

     Match ketiga adalah tunggal putri. Yang lagi-lagi harus menempatkan wakil dari negara tirai bambu, Li Xueri melawan mbak Yuliani Schenk dari Jerman. Kita menyaksikan sendiri, Hittler kalah dari Mao Tse Tung XD
Dua gelar untuk Cina.

     Match keempat adalah match palinh ditunggu oleh seluruh publik Istora. Lampu dimatikan. Hanya ada lampu sorot yang mengarah ke pintu keluar atlet. Beberapa penari berdiri di depan pintu. Musik gempita diperdengarkan. Another goosebump moment. Bulu-bulu kakiku berdiri. Dan mbak Fitria yang ga terlalu banyak teriak, sibuk ngurusin bulu tangannya yang berdiri.

     Nama Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae dipanggil. Jeritan histeris terdengar di mana-mana. Wanita-wanita berubah menjadi atraktif karena ada 2 anggota boyband yang berjalan sambil pamer otot dan bibir. Suasana makin kacau balau saat nama satu-satunya wakil Indonesia dipanggil. Muhamad Ahsan/Hendra Setiawan berjalan ke arah lapangan didampingi oleh benerapa penari yang memakai baju kelap-kelip.

     What a sensual match, hahahaa

     Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae seperti antiklimaks. Menghadapi Ahsan/Hendra mereka seperti tida berkutik. Defense mereka yang biasanya rapat, dapat dengan mudah ditembus. Dan smash halilintar mereka lebih meleset.

     Jari Ahsan sempat terluka dan berdarah di akhir-akhir babak kedua. Setelah sempat dihentikan, akhirnya pertandingan dilanjutkan dan akhirnya, satu-satunya wakil kebanggaan Indonesia berhasil menumbangkan satu-satunya wakil Korea. Tapi terimakasih Ko/Lee, karena kalian bermain luar biasa sepanjang turnamen, maka kami bisa tetap menyaksikan paha-paha semok dan otot gigit-able milik kalian sampai di partai puncak.

     Tribun tempat aku duduk mulai rusuh saat pembagian hadiah. Semua orang merengsek ke depan tidak terkecuali aku. Menyaksikan dari dekat karingat Ko Sung Hyun yang segede-gede jagung nempel di biceps-nya, bikin aku haus dan keroncongan. Kayaknya enak banget itu lengan atasnya Sung Hyun Oppa. Enaaaak~

     Pak Gita sempet nyuruh Sung Hyun/Yong Dae untuk dadah-dadah ke arah kami. Pak Gita memang paling tau deh *cium pak Gita*

     Dan you semua para wanita bisa bayangkan, di podium ada Hendra/Ahsan dan Sung Hyun/Yong Dae, ditambah pak Gita dan Ricky Subagja. Aaaahhhh heaven is so close to the earth :')

     Match terakhir adalah partai ganda campuran yang mempertandingkan antara Zhan Nan/Zhao Yunlei vs Ficher/Pedersen yang setelah melalui pertempuran alot, lagi-lagi gelar harus pergi ke Cina. Biarin deh, sesuka mereka. Buat hiburan karena sebentar gelar-gelar itu tidak akan pulang ke Cina melainkan ke negara kita, Indonesia. Amiiiiinnn....

     Sebelum pembagian hadiah, aku dan Fitria pergi meninggalkan Istora karena esok harinya kami harus kembali ke dunia nyata dan menjalankan aktivitas membosankan di kantor yang kaku. Kadang-kadang, dunia nyata memang lebih membosankan.

     Hari itu benar-benar hari bersejarah. Semuanya akan aku simpan di hati dan aku bawa untuk aku ceritakan pada anak cucuku nanti.

     Istora, sampai jumpa tahun depan.




          Be Nice, Be Love...

    

    

The Story of #NgIstora (part 4)

     Kabar gembira hadir dari twitter Djarum Badminton hari Jumat yang ngirimin direct message bahwa aku menang 2 tiket vip untuk semifinal. A luck is coming to a loyal supporter. Aku langsung ngasih kabar ke Fitria yang akan nonton bareng di hari Sabtu bahwa kami batal nonton di kelas 1 seperti rencana semula. Harga tiket semifinal dan final untuk vip memang ga berprikeanak-kosan. 350 dan 400 adalah angka yang bikin jantung senut-senut. Tapi karena rejeki ga akan kabur, maka kami tetep bisa nonton pantatnya Lee Yong Dae dalam jarak hanya beberapa meter saja. Segerrrr buooosss :))

     Pertandingan hari itu dimulai jam 11 untuk 2 pertandingan ganda putri, yang sialnya adalah Cinak semua. Aku sampai di sana sekitar jam 11. Telpon-telponan sama mas Djarumbadminton sepanjang jalan dan pake acara salah naik transjakarta adalah aktivitas pagi itu. Sampai di Istora, ternyata mas Djarum belum sampai, dan baru menghubungi lagi sekitar 15 menit kemudian. Fitria? Jelas belum sampai.

     Setelah ketemuan dengan mas Djarum, ternyata tiketnya belum ada. Aku disuruh duduk di sebuah booth dukungan yang kemudian aku ikuti karena iming-iming hadiah. Dengan hormon testosteron yang membuncah, aku ikut games yang caranya adalah teriak sekenceng-kencengnya di depan mic. Suara kita akan membuat sebuah kaleng berisi tulisan hadiah keluar. Dan karena suaraku yang seksi ini, aku hanya dapet gantungan kunci. Tapi aku tetaplah pemberani. Sendirian teriak dan dipotoin mas-mas bule potograper Badminton Photo.

     Beberapa waktu kemudian Fitria dateng dan ikutan games juga. Teriakannya sempurna, sempurna sekali (IIIIIN *uhuk-uhuk* DOOOO *uhuk-uhuk* NEEE *uhuk-uhuk* SIAAA *uhuk-uhuk*).

     Tiket masih tetap belum diberikan, mas Djarum menjanjikan untuk memberi tiket pada jam 12. Kemudian kami yang nasibnya masih di tangan mas Djarum pun masuk liat-liat area dalam Istora yang diubah menjadi shopping center. Mirip mall deh pokoknya, ditambah dengan mbak-mbak SPG yang kata Dwi keteknya item X))
Jam 12 mas Djarum nelpon. Kami keluar dan langsung ketemu untuk ambil tiket. Kemudian kami berpisah dan sampai sekarang tidak bertemu lagi. Btw, makasih mas. Nomerku masih disimpen, kan? hahahaa

     Sampai di dalem, match pertama antara Wang/Yu vs Ma/Tang ternyata udah selesai, dan sedang bertanding pasangan Cina lain yaitu Tian Qing/Zhao Yunlei vs Bao Yixin/Cheng Shu. Pertandingan lumayan seru. Walaupun bukan pemain Indonesia yang bertanding pun, penonton yang mulai memadati Istora sudah 'rusuh'. Belum ada pertandingan setelah 2 match ganda putri tadi. Namun ada beberapa hiburan dari beberapa artis dan yang paling menarik adalah hiburan dari 4 legenda bulutangkis Indonesia; Haryanto Arbi, Trikusharjanto, Sigit Budiarto dan Edi Hartono. Mereka sungguh menghibur dengan memainkan beberapa atraksi bulutangkis yang pas diliat malah jadi kayak komedi. Ada acara lempar-lempar kaos pas acara selesai. Lumayan itu yang dapet kaosnya Om Sigit. Victor, coy.

     Jam 2:30 match pertama dimulai. Istora mulai porak-poranda lagi saat nama Lee Chong Wei disebut oleh announcer. Kemudian makin hancur berkeping-keping ketika nama Dyonisius Hayom Rumbaka disebut. Aku bahagia banget nonton match ini. Andai itu itu Datok melawan TH, pasti akan lebih emosional.

     Selama ini aku sering nyebut Hayom rese' karena sering kalah di saat dibutuhkan. Tapi sepanjang pertandingan, sepanjang turnamen malah, Hayom tampil cemerlang. Hari itu, dia bisa memberikan perlawanan pada raja tunggal putra itu. Pada akhirnya memang dia kalah. Tapi, semua yang hadir langsung maupun yang menonton pasti tau bahwa itulah Hayom yang sebenarnya. Hayom yang dimiliki Indonesia. Momen mengharukan adalah setelah pertandingan, saat akan masuk ke dalam, Datok merangkul Hayom dan memberi advice sepanjang mereka berjalan. What a lovely Datok. Kata Fitria sih, Datok walaupun menang, nggak pernah bikin selebrasi berlebihan yang bikin orang kesel. Mungkin itu juga poin yang membuat dia dicintai di Indonesia. Once again, we love you, Datok.

     Istora kembali menggemuruh ketika nama juara All England 2x disebut. Owi/Butet bertanding melawan pemain dari negaranya suami akoooh, Joachim Ficher Nielsen/Christina Pedersen. Andai bukan lawan Indonesia, pemain Denmark pasti didukung habis-habisan oleh suporter Istora. Indonesia-Denmark memang jodoh, seperti aku dan Jan :")

     Sayang seribu kali sayang, pasangan kebanggaan Indonesia ini tidak bisa memberikan penampilan terbaik dan harus kalah 2 set langsung. Dari awal memang Owi/Butet seperti tidak 'lepas'. Bahkan di babak kedua mereka hampir kalah dari Fran/Shendy. Entahlah...

     Penonton di Istora mulai agak lemes dengan kekalahan Owi/Butet yang digadang-gadang menjadi juara. Namun nama Tommy dipanggil dan pecah lagi itu stadion. Suporter Istora memang suporter terganas di dunia. Semua orang sudah mengakui. Entah berapa macam lagu yang digubah menjadi yel-yel dan entah berapa orang yang serak setelah acara selesai *tunjuk diri sendiri*.

     Tommy berhadapan dengan Marc Zwiebler asal Jerman yang pada babak kedua mengalah Alamsyah yang bajunya kegedean itu. Dan sekali lagi, penonton Istora harus harap-harap cemas saat Tommy harus takluk 2 set langsung di tangan Marc.

     Tapi bukan penonton Istora kalo ga bisa berisik lagi. Sekhawatir apapun, yang namanya bibir makhluk Istora memang nggak ada matinya. Sampai sekarang aku masih suka merinding kalo inget. Dan harapan terakhir ada pada Ahsan/Hendra yang akan berhadapan dengan pasangan Rusia yang salah satunya bukanlah manusia asli, melainkan kloningan dari Jerapah, Ivan Sozonov/Vladimir Ivanov. I guess, dulu emaknya Ivanov ngidam tiang listrik mungkin atau hobi makan sup gedung pencakar langit, tingginya bisa kayak rumah susun gitu.

     Pertandingan menegangkan terjadi. Dan suara makhluk Istora belum habis. Dan pada saat akhir pertandingan, semua orang berteriak lega karena akhirnya Hendra/Ahsan bisa melaju ke final. Akhirnyaaaahhh...

     Pertandingan selanjutnya antara Julianne Schenk vs juara bertahan, Saina Nehwal. Dan aku baru tau ternyata 'Julianne' itu bacanya 'Yuliani'. Kok apik tulisane?
Tapi aku dan Fitria laper jadi kami keluar cari makan, dan juga banyak orang yang meninggalkan kursinya, karena memang wakil Indonesia sudah habis.

     Kami muter-muter cari makanan paling murah yang ada. Tapi ternyata bakso tahu-pun paling murah 25rb dan mendoan 2500. Mungkin pedagang di Istora sudah berkonspirasi dengan tukang hotdog di GOR Asia-Afrika *nyemil sosis 30 rebu*. Kami memilih makanan cepat saji dan memilih paket yang paling murah. Kemudian luntang-lantung kayak orang buta kehilangan tongkat karena ga dapet kursi.

     Selesai makan dan minum multivitamin yang dikasih gratis oleh mbak SPG, kami kembali ke dalam setelah sebelumnya pipis dulu *ini penting untuk ditulis*. Match tante Schenk vs Saina ternyata belum selesai.

     Secara mengejutkan, ternyata Saina harus menyerah dan melepas gelarnya tahun lalu. Schenk terduduk sambil menangis menutup mukanya saat poin terakhir di dapat. Aku terharu, lagi. Mboh aku kok terharuan banget. Schenk katanya memang lagi ada masalah sama PBSI-nya Jerman. Makanya di Sudirman Cup kemaren dia ga ikut.

     Match selanjutnya kembali diisi oleh bendera merah berbintang kuning, Zhang Nan/Zhao Yunlei vs Xu Chen/Ma Jin. Btw, nenek Ma alias Ma Jin bilang kalo penonton Istora kayak loud speaker. Dia ga sadar kalo suaranya cempreng kayak kaleng --"

     Xu Chen tampak ngeselin, Zhang  Nan tampak ganteng. Aku juga baru tau kalo Zhao Yunlei manggil Zhang Nan dengan "Nan", bukan "yang", "beb", "ay" atau semacamnya. Mungkin karena ada aku di situ jadi Zhang Nan ngelarang Yunlei manggil yang aneh-aneh *kabeh wae sriiii*.

     Pertandingan dimenangkan oleh Zhang Nan/Zhao Yunlei. Suaraku abis neriakin nama Zhang Nan. Ya mau gimana, salah siapa jadi orang kok manis. Siapa yang nggak wo ai ni cobak *eh pitikih?*

     Selanjutnya adalah match tunggal putri antara Li Xuerui vs Yip Pui Yin jiayo. Kenapa Yip Pui Yin jiayo? Fans-nya teriak gitu sepanjang pertandingan *gagal paham*. Pertandingan agak alot karena rendang belum mateng, dan teriakkan 'Yip Pui Yin jiayo' dan' go Yippi go Yippi go' bikin kuping budek. Sang alien akhirnya mampu melaju ke final dan akan bertemu dengan mbak Yuliani di final. Fiuuuhh akhirnya selesai juga. Dan Chen Jin tetep ramah.

     Eetttt, kata siapa udah selesai. Isrora boleh ga seramai di awal. Tapi cewek-cewek di Istora mulai tahan napas dan pasang kuda-kuda. Beberapa pemain Korea dan staf-nya -mungkin- duduk bench sebelah karena LYD/KSH vs SBC/YYS akan bertanding. Yang di lapangan boyband lagi pada pamer otot. Mata ya. Mata yang tadinya udah sepet jadi seger lagi. Bagai oasis di padang pasir. Cewek-cewek tanpa kendali. Ada cerita yang lumayan memalukan sebenarnya tentang ini, tapi diceritain nanti aja di postingan berbeda. Daripada merusak esensi ke-alay-an saya. Saya dan Fitria deng :D