Friday, September 14, 2012

Saya Reinkarnasi Gatotkaca


Jadi waktu SMP kelas 3, saya dan seorang teman saya pernah diramal oleh seorang guru matematika. Namanya pak Marga Mulya Handaka, biasa dipanggil pak Margo. Sumpah demi ikan sarden, saya nggak pernah nyambung kalau pak Margo ngajar. Waktu itu saya masuk sekolah siang. Pas jam istirahat, saya dan Puji, teman saya iseng menemui pak Margo di ruangannya. Tapi kami Cuma ngobrol lewat jendela.Ngobral-ngobrol-ngobral-ngobrol, tetiba pak Margo nanya weton kami. Tau weton kan? Iya, hari lahir Jawa. Jumat legi, kata Puiji. Lalu pak Margo ngeliat telapak tangan kiri Puji, baca garis tangannya. Lalu pak Margo bilang, katanya Puji akan bingung setelah lulus SMA, antara mau kuliah atau nikah. Dan dia akan menikah muda. Kekuatan dia ada di telunjuk kanannya. Saya ketawa ngikik bareng genderuwo se-NKRI waktu itu. Saya mikir, “Buat apaan kekuatan di telunjuk? Ngupil?” Abis itu pak Margo nanya weton saya, Sabtu Pahing, jawab saya. Dia menghitung jumlah weton saya dan langsung bilang,”Ini jumlah paling tinggi di antara semua weton, 18. Puji aja Cuma 14.” Itu saya nggak nyambung apa maksudnya. Kemudian dia melakukan hal yang sama pada telapak tangan kiri saya, membaca garis tangan. “ Kamu kalau nikah bakal jadi orang kaya, soalnya ada pertemuan rejeki antara kamu dan suami. Tapi kamu nikahnya masih lama, nggak secepet Puji.” Saya bersorak waktu itu, karena saya nggak cepet nikah kayak Puji. Tapi pas saya inget lagi sekarang, saya langsung “DHEEEGGGGG”. Saya jomblo,Bung. Dan saya takut. Jodoku piye Tuipppssss???? Terakhir, dia bilang sambil melotot,” Jangan pake telapak tangan kanan kamu buat nampar orang, terutama laki-laki.Bahaya.Brajamusti!!!” Saya nggak mudeng, Cuma angguk-angguk, geleng-geleng dan pegel. Dia melanjutkan, “Trah Pendowo Limo.” Kemudian selesai. Saya tau Pandawa Lima, tapi yang saya tau waktu itu ya sekedar yang saya dengar dari Bapak saya. Pandawa itu sepupuan sama Kurawa, tapi nggak akur. Anggotanya ada 5, Puntadewa, Werkudara, Permadi, Nakula-Sadewa. Dan pengetahuan saya tentang mereka ya begitulah, Cuma sedikit. Percaya nggak percaya sih, namanya ramalan ye kan, ya nggak. Sampai tiba-tiba waktu saya sibuk ngurus pendaftaran kuliah di Jakarta, saya denger kabar, lebih tepatnya curhatan dari Puji, dia bilang pengen kuliah, tapi emaknye nyuruh nikah. Dia bilang kalau dia bingung banget. Dia waktu itu cerita sambil hampir nangis. JENG JENG JENG….. Saya deg-degan, tapi pasti Puji nggak sadar waktu itu, satu ramalan pak Margo benar. Ada kali setaun saya kuliah di Jakarta, saya dikasih tau kalau Puji mau nikah, karena yah…begitulah. Anak muda jaman sekarang, suka ngeduluin waktu, ada sesuatu di perut Puji ketika itu, makanya dia nikah, TET TERET TEREEEEETTTT Saya makin deg-degan, ini ramalan pak Margo yang kedua. Oke, percaya nggak percaya. Cuma masalah kekuatan di jari telunjuk itu yang masih bikin saya pengen ngikik di jembatan ancol. Saya belum nikah, jadi belum ketauan ramalannya bener apa nggak. Terus ya emang saya nikahnya nggak secepet Puji. Tapi ya semoga saya bisa beneran jadi orang kaya pas udah nikah nanti. Yo ra??? Terus karena kebetulan saya udah kenal internet dan alangkah mudahnya saya bisa dapetin buku, saya baru tau dengan lebih ditel tentang tentang cerita Mahabarata, cerita pewayangan lah lebih tepatnya. Ya kan katanya saya ada trah Pandawa, hahaha… jadi selama ini pede-pede aja, merasa saya ini titisan dari Dewi Wara Srikandi. Soalnya selama ini saya yakin bologokin kalau Srikandi itu zodiaknya Gemini. Nah loh? Oke. Selain itu, dia anak perempuan bungsu dari 3 bersaudara, 2 perempuan 1 laki-laki. Lha apa nggak sama plek itu to yaaa??? Hahaha Saya pengen jadi pemain bola waktu kecil, Srikandi pengen jago manah. Tuh kan, kurang plek apa coba hayo??? Tapi terus say abaca biografinya seorang pria dari trah Pandawa di Wikipedia. Dia anak dari Werkudara atau Bima. Bima menikahi wanita keturunan raksasa, namanya Arimbi. Terus punya anak cowok, dikasih nama Jabang Tetuko. Saya sering denger sih tentang nama ini dari bapak. Nah, si Jabang Tetuko ini waktu lahir pusernya nggak mau puput, nempel terus. Akhirnya, singkat cerita dia dibawa ke kahyangan, lalu oleh para Dewa dia dimasukkan ke Kawah Candradimuka, dilempari pusaka-pusaka. Kemudian dia keluar sebagai seorang yang sakti mandraguna tapi baik hati. Ototnya dari kawat, tulangnya dari besi. Dan dia bisa terbang tanpa sayap. Sangar po ra Tuip? Lah pas ada perebutan kekuasaandi kerajaan emaknya, dia dikasih takhta buat jadi raja. Tapi paman-pamannya ada yang pro dan kontra. Terus dua orang pamannya berantem, satunya dukung dia, satunya nggak. Tapi dua-duanya akhirnya pada mati karena berantem. Pamannya yang kontra namanya Brajadenta, roh dan kekuatannya masuk ke tangan kirinya. Dan pamannya yang pro, roh dan kekuatannya masuk ke telapak tangan kanan. Nama pamannya itu BRAJAMUSTI!!! JREENNNGGGGG Saya sempet pelototin telapak tangan kanan saya, ya apa bener tangan ini ada Brajamusti-nya? Saya malah ngekek lagi. Dan Anda tau siapa si Jabang Tetuko itu sodara-sodara? DIA GATOTKACA PEMIRSA, GATOTKACA!!! Ya masa saya udah seneng-seneng nyangka kalau saya titisannya Srikandi, emalah Gatotkaca  Hadoh, jagat dewo bethoro… Etapi yang lebih absurd lagi adalah satu, ngapain saya niat banget ngerasa saya ini datang dari dunia Wiracarita Pewayangan? Padahal paling banter saya ini keturunan dari pembantunya Tribuana Tunggadewi dari Majapahit. Yang ini serius, beneran emang buyut dari buyutnya buyut saya adalah PEMBANTU dari Tribuana Tunggadewi  Hidup saya emang selo banget, jadi sempet menelusuri yang model begini…

Tentang Kamu Setelah Hujan


Dia mengenakan kemeja biru yang digulung di bagian lengan hingga ke siku,serta celana bahan hitam yang masih meninggalkan garis bekas disetrika.Penampilannya berbeda dari ketika dulu aku sering melihatnya.Rambutnya pendek cepak dan diberi sedikit gel yang aromanya memaksa bulu hidungku untuk berdiri. Rokok yang tinggal tersisa separuh masih terjepit di tangan kanannya sambil sesekali mampir ke bibir untuk dihisap. Asap yang timbul mengelilingi seputaran kepalanya. Udara sejuk mengaliri tubuhku yang dibalut sweater kuning tebal. Aroma hujan masih tersisa, masih sama seperti aroma hujan yang tercium ketika aku bertemu dengannya di sebuah tempat makan, sore itu. “Hai…”, sapaku ragu-ragu sambil memberanikan diri menepuk pundaknya dari belakang. Kepalanya menoleh ke belakang, ke arahku, menawarkan mata yang pernah sangat lekat menemani hari-hariku. “Hai, sini duduk.” katanya sambil menarik sebuah kursi untukku. Dia meletakkan rokok yang sudah hamper habis dihisapnya ke dalam asbak di atas meja di depan kami. “Aku pesenin kopi hitam,ya. Kamu masih suka kopi hitam, kan/” tanyanya melanjutkan. Aku hanya mengangguk. Hening. Sepuluh menit berlalu dalam dian sampai ketika akhirnya seorang pelayan dating meletakkan dua cangkir kopi hitam di atas meja. “Apa kabar?” tanyanya memecah diam. “Aku tau semua orang akan menanyakan hal yang sama seperti yang baru kamu ucapkan ketika baru bertemu setelah berpisah lama. Tapi aku yakin kamu punya pertanyaan lain yang lebih bermakna selain sekedar “apa kabar”.” jawabku panjang lebar sambil meletakkan cangkir kopi yang baru aku minum di atas meja. Dia tersenyum, menyeruput kopinya dan menyandarkan punggungnya di kursi. “Kamu tetap sama, nggak berubah.” lanjutnya menimpali. Akumenundukkan kepala, menatap jari-jari tanganku dan akhirnya berhenti di jari manis yang dilingkari cincin berwarna putih. Aku memang tetap sama seperti dulu, tak pernah berubah kecuali aku yang memang sudah mengikrarkan janji di depan penghulu. *** Kopi hitam di depanku masih tersisa separuh, mendingin tertiup angina sore setelah hujan. Kami kembali terdiam, seperti pertemuan yang sudah-sudah. Aku merasakan tatap matanya menusuk-nusuk ulu hati, sampai ke sumsum tulang belakangku. Melunturkan rindu yang sudah membeku bersama waktu-waktu yang aku jalani selama pernikahanku. “Aku bahagia dengan pernikahanku dan aku sedang hamil tiga bulan sekarang. Dan akan melahirkan anak yang pasti akan meramaikan rumah kami.” Ceritaku mencoba membuka kekakuan. “Oh ya/ Selamat ya, istriku baru saja melahirkan empat bulan yang lalu,” Suaranya melemah datar. “ aku tau kamu pasti sangat bahagia.” Lanjutnya. “Ya, aku bahagia. Tapi suamiku selalu bilang bahwa masih ada kamu di mataku. Dia selalu menangkap senyummu di mataku.” Aku menundukkan kepala menghindari mata yang tatapnya pasti akan kembali menusuk hatiku. “Aku selalu bingung, kenapa kita tidak bisa bersama?” tanyanya memekakkan gendang telingaku, menyampaikan lewat urat syaraf dan mengarahkannya ke kelenjar air mata, membasahi retina mataku, walaupun dia bertanya begitu pelan. Aku merasakan lidahku kaku dan tak berfungsi. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa menjawab pertanyaan itu, karena aku pun sudah sangat sering menanyakannya pada diriku sendiri, tapi jawabannya nihil. *** Aku masih sangat ingat pertemuan pertamakudengannya di suatu sore, hujan baru saja reda ketika itu. Sama seperti saat ini. Bahkan aku harus berjingkat saaat berjalan untuk menghindari genangan air. Senyum itu masih sama. Hangat seperti matahari jingga yang beranjak tenggelam sore itu. Senyum itu adalah senyum yang mengembang ketika pesta pernikahanku digelar tiga tahun lalu. Aku sendiri malah tidak mampu datang ke pernikahannya meskipun aku sudah lebih dulu menikah. Aku menyadari, aku sangat pengecut. Aku bahkan tidak mampu menolak kehadirannya yang selalu datang setelah hujan, seperti pelangi. Yah, dia adalah bayangan yang tetap hadir meski saat bibirku sedang bertemu dengan bibir suamiku. “ Aku ke toilet sebentar,ya.” Pamitku sambil bersiap berlari meninggalkannya.Tangan kokohnya sigap menggapai tanganku. “Kenapa kamu selalu berlari meninggalkanku/” tanyanya pelan. Matanya sendu. Aku menarik nafas panjang. “Karena aku terlalu pelan setiap berjalan, apalagi untuk mengimbangi jalanmu. Tapi nyatanya, saat berlari, aku terlalu cepat untukmu.” Jawabku smabil berlalu. Tangannya terlepas pelan, seakan tetap ingin menahanku. *** “Sore… Aku tak pernah berharap akan ada hari ini. Karena terlalu berat ketika pada akhirnya matahri esok akan muncul dan aku mendapati diriku terbangun dengan ketergesaan menyingkirkan rinduku padamu. Kita sudah terlalu lama diam memaku membuat rindu menjadi beku. Mungkin kisah ini akan berakhir segera, entah esok, lusa atau malah tak akan pernah bisa diakhiri. Yang aku tau, aku pernah ingin pulang ke hatimu, namun ternyata hatimu bukan rumahku. Kamu, pulanglah bersama kisah yang entah kenapa harus digariskan untuk kita. Aku ingin kita bersyukur bahwa kita tidak harus bersama. Karena kita tahu, ketika bersama, jiwa kita akan tetap merasa terasing dan sendirian. Maka, lagi, pulanglah bersama kisah ini. Pulanglah bersama hujan yang telah reda. Ingatlah Tuhan kita dan janji-janji kita pada-Nya.” Aku lipat kertas puith yang aku minta dari seorang pelayan sebelum aku masuk ke toilet dan memenuhi kertas itu dengan tulisan yang sudah sejak lama ingin aku katakana, tapi tak pernah bisa. Lalu aku buka dompetku, aku ambil sebuah foto yang sudah tersimpan di situ sejak bertahun-tahun yang lalu. Aku keluar dari toilet dan kembali menemuinya. Alku pegang tangan kanannya dan aku letakkan kertas itu di atasnya. Dengan lemas, aku beranikan diri menatap mata itu. Mata luar biasa dalam dan tak pernah sanggup aku salami. “Sore yang Indah. Terimakasih untuk sore yang Indah setelah hujan dari kamu.” Aku paksakan untuk memberanikan senyum terbaik yang aku miliki. Denagn gontai, aku melangkah meninggalkannya terpaku di atas temapt duduk.. Hening. *** Hujan kembali turun ketika matahari bersembunyi di kamarnya. Jendela aku biarkan terbuka agar angina dapat masuk dengan leluasa untuk menemaniku yang hanya berteman secangkir kopi hitam. Minuman yang sebenarnya sangat tak baik untuk janin di kandunganku. Tapi ini minuman yang selalu berhasil mengingatkanku tentangnya. Kuraba perutku. Suamiku telah menanamkan benih di dalamnya, dan aku harus menjaganya. Tiba-tiba ponselku bergetar, tertera namanya di kotak masuk pesan. “Satu yang akan aku sedihkan setiap sore setelah hujan, adalah tak akan ada lagi senyummu dari seberang jalan.” Hening. *** Setiap sore setelah hujan, masih bisa aku lihat senyummu di seberang jalan, dengan mata yang menatap dalam, mata yang bayangannya tak akan pernah hilang. Setiap sore setelah hujan, akan aku bawa baying matamu hingga kehidupan selanjutnya. SELESAI

Fly, Edi. Fly!!!


Edi Subaktiar, sebuah nama yang terdengar asing bagi orang-orang yang jauh dari bulutangkis. Bahkan bagi saya, nama ini pun baru terasa dekat beberapa bulan terakhir ini.

 Iya, dialah atlet bulutangkis junior besutan PB Djarum yang berhasil menyabet gelar Juara Asia Boy’s Doubled 2012 di Korea pertengahan tahun lalu.

 Datang tanpa embel-embel unggulan, Edi, yang kala itu berpasangan dengan Arya Maulana Aldiartama, berhasil membawa medali juara dengan perjuangan 3 set yang dramatis. Semangat muda mereka yang menyala sering membuat saya berkaca-kaca dan merinding karena saya merasa yakin bahwa Indonesia punya satu lagi harapan di masa mendatang.

 Datang dari Sidoarjo, jawa Timur, Edi muda membawa segepok harapan bagi masa depannya, juga masa depan dunia bulutangkis Indonesia. “Tidak ada yang tidak mungkin”, begitu dia pernah berkata di sebuah video.

 Dan memang akan sangat mungkin suatu saat, Edi, entah bersama siapa pun nanti dia berpasangan, akan berhasil merebut kembali supremasi tertinggi bulutangkis milik Indonesia. Semangat kuat dan tingkah laku yang baik adalah salah satu poin plus yang dia miliki.

 Meskipun sudah bergelar juara Asia Junior, tidak ada kata sombong terbersit dari wajahnya. Saya memang baru beberapa kali bertemu dengan sosok muda ini dan beberapa kali pula berkomunikasi melalui whatsapp messenger.

Namun dari hanya beberapa kali itu saya sudah yakin dengan mantap bahwa inilah bibit unggul yang harus dirawat oleh Indonesia. Jangan sampai bakat-bakat seperti ini kemudian tertelan oleh keserakahan politik yang memang biasanya selalu saja mewarnai dunia olahraga Indonesia.

 Edi saat ini sedang berusaha belajar untuk terbang. Sayap-sayapnya sedang berkembang untuk bersiap mengepak di udara. Di pundaknyalah Indonesia kelak bisa menitipkan harapan untuk kembali mengibarkan merah putih di tiang tertinggi dunia.

 Edi, sang “Obama” berhati lembut yang dengan senyum malu-malunya selalu berkata bahwa orang tua adalah segalanya baginya. Orang tua yang telah melepasnya untuk berjalan sendiri meninggalkan kampung halaman menyusuri jalan panjang yang akan membawanya ke sebuah tempat bernama masa depan cerah.

Teruslah rawat sayap-sayapmu, Edi. Bawa merah putih terbang mengangkasa bersama kepakmu mengitari dunia.

 Fly,Edi. Fly!!!

 Jakarta, 13 September 2012 07:50

Tuesday, September 11, 2012

Kepada Venus...


Kepada Venus yang berkedip saat fajar, masih ingat aku? Perempuan yang waktu menitipkan surat padamu untuk seseorang di Mars. Sudahkah kau sampaikan padanya? Apa katanya? Tidakkah dia membalas suratku? Ah, sudahlah, tak apa bila dia tak membalasnya. Suatu saat bila kau melintas di dekat orbitnya, teriakkan sesuatu, Venus. Sampaikan aku sangat merindukan seseorang di sana. Katakanlah untuk datang ke bumi, secepatnya...

Sunday, July 1, 2012


Sebenarnya ga tau mau nulis apa, karena memang udah lama ga ada ide untuk nulis sesuatu. Lagian, saat punya ide menulis pun, hasilnya tiap dibaca ulang pasti malu sendiri. Ceritanya tadi pagi, setelah diomelin Bapak via telpon karena ga olahraga, saya yang dari semalem baru tidur ayam setengah jam akhirnya memutuskan untuk ngutak-atik hp.taskrin saya yang tulisannya suka mental serta penyebab typo nomer satu ini. Buka twitter cuma ada Agrippina. Adek manis pemain bulutangkis yang beberapa hari jadi target operasi mention rauwis-uwis. Selain Agri, cuma ada beberapa orang yang kalau kata orang Jogja weekend butuh piknik alias terlalu serius. Bingung mau ngapain, akhirnya saya bukalah itu situs bernama youtube, sambil sesekali nunggu balesan mention dari Agrippina Prima Rahmanto. Sampai di youtube, saya tetap bingung mau liat apa. Karena setiap kehabisan ide hal yang selalu muncul dalam otak saya adalah hal-hal yang berbau bulutangkis. Mboh bulutangkis itu baunya kayak apa aku yo ra reti. Karena pemain bulutangkis yang sedang ada di kepala saya adalah Agrippina, maka saya ketik keyword,"Agrippina/Gideon". Sempet bengong juga liat permainan Agri/Gideon, yang saat saya liat tadi sedang melawan siapa itu yang waktu Indonesia Open dikalahin Kido/Hendra di QF kalo ga salah. Mainnya cepet, lincah dan defense-nya luar biasa. Saya langsung mikir, olimpiade Rio de Jeneiro nanti mereka akan dapat emas. Mari kita amini. Setelah bengong nganga liat video Agri/Gideon, saya bingung lagi. Maka saya ketiklah keyword "Lee Yong Dae", atlet Korea yang punya fans sehalulah itu. Beberapa kali dibuat ngakak liat video acara tv Korea di mana LYD menjadi guest star. Lalu ngetik lagi "Simon Santoso" yang rata-rata sudah saya tonton semua. Maklum saya kan calonnya :"> Tapu setelah dicari di selipan yutup, akhirnya saya nemu video wawancara SimSan di Axiata Cup yang bikin saya ngakak juga. SimSan yang mukanya lebih Cina dari Lin Dan ternyata logatnya Tegal banget. Saya jadi mas-mas tukang pecel ayam. Duh, tapi dalam keadaan apapun aku terima kamu apq adanya kok, Ko Simon :* Kemudian di related video, ketemu video wawancara Tommy Sugiarto yang ternyata suaranya cuempreng ga kayak Bapaknya :D Masih di related video, ternyata banyak video interview atlet di beberapa acara tv swasta nasional. Dan akhirnya, bertemulah saya dengan sebuah video berjudul "Vita &Lilyana (best friend forever)". Isi video tersebut adalah foto-foto Vita dan Butet di berbagai ajang serta saat kemenangan merekan di Indonesia Open 2008 setelah mengalahkan pasangan Jepang. Selain itu terselip pyla foto-foto mereka di berbagai baik dalam maupun luar negri. Dan backsound dari lagu tersebut adalah lagu milik Sherina Munaf berjudul Ku Di Sini. Dengan sangat lebay mata saya langsung merembes, saya senyum sambil teringat seseorang. Saya ingat kamu, iya kamu. Kamu yang saya suruh baca tulisan ini. Kamu yang pertama kali ketemu saya tanggal 3 Mei 2008 di sebuah lapangan di daerah Depok. Tadinya saya ga kepikiran akan bisa dekat sama kamu. Karena kamu, yang dulu saya pikir bernama Viarend, awalnya hanyalah seseorang yang sama seperti saya, menyuakai karya musisi dari Jogja bernama Letto. Tapi ternyata kamu adalah teman yang bisa saya ajak bicara tentang apa saja kapanpun wktunya. Dari video itu saya membayqngkan kita adalah mereka, mereka adalah kita. Saya yakin seyakin yakinnya kamu memilih jadi Lilyana Natsir walaupun saya lebih mirip *baik abaikan*. Sampai di sini sya bingumg inti dari tulisan ini. Yang jelas saya cuma mau bilang kalau kamu adalah teman terdekat saya. Teman saru saya :)) Ya pokoknya gitu lah. When you are in doubt, dengerin lagu di bekson video itu. Terus inget saya. Inget yang saru-saru juga gpp. Pokoknya selama belum ada teknologi bernama antisepik, kita haru tetap cari adek manis bibut unggul. Pokoknya selamanya saya mau jadi temen kamu, iya kamu.

Tuesday, May 29, 2012

Bila Kamu Sama


Suatu saat bila kamu sama, Duduklah di depanku, hisap rokokmu sambil kita bicarakan apa saja. Melihat langit yang menghitam ditiupi angin yang memaksa kita saling menggenggam tangan. Suatu saat bila kamu sama, rebahlah di pahaku, akan aku usap dahimu yang lelah. Berceritalah tentang apa saja. Tentang lelah, tentang kalah. Apa saja... Suatu saat bila kamu sama, sama seperti aku yang diam-diam menyimpan sebuah rasa, katakanlah sambil menghabiskan hisapan terakhir rokokmu, merasakan dingin yang membuat kita akhirnya menjadi baju penghangat satu sama lain... 29 Mei 2012

Sunday, May 27, 2012


Cuaca panas.Angin menggoyangkan daun dan dahan di samping rumah yang dindingnya terbuat dari papan.Seorang ibu paruh baya mengupas kacang tanah di sebuah tampah bambu sambil duduk di atas sebuah bangku kecil di samping rumahnya. Seekor ayam berbulu hitam berciat di antara tumpukan kulit kacang, memilah sambil berharap ada sebiji kacang ikut terbuang.Seorang bapak beruban separuh kepala menghisap dalam asap tembakau sambil menaikkan kedua kakinya ke sebuah bangku kayu panjang di belakang istrinya, ibu paruh baya.Bapak beruban separuh kepala bertelanjang dada, kulit legam menandakan cangkul dan sabit adalah sahabat setia. Kopi di gelas belimbing tak lagi mengepulkan asap.Tapi angin masih bergoyang ceria.Rumah berdinding papan dan berlantai tanah, menghadap ke pohon-pohon hijau mengkilat tertimpa cahaya matahari. Burung prenjak bernyanyi lagu-lagu beraliran seriosa diiringi orkestra suasana desa. Damai sekali.