Wednesday, November 7, 2012

The Juniors!!!






Welcome Home, Champions!!!

     4 November 2012. Sepertinya biasa, bangun kesiangan adalah kebiasaan buruk yang tidak pernah bisa saya hilangkan di saat weekend. Pukul 08.43 WIB, begitu kata jam di handphone saya. Kecewa karena niat dari semalam sebelum tidur adalah bisa nonton Spongebob Squarepants pagi ini, serial favorite yang hanya bisa saya saksikan saat weekend.

     Seperti biasa, saya memencet remote tv dan membiarkan tv menyala tanpa saya perdulikan acaranya.

     Seperti ada sesuatu yang saya lupakan pagi ini. Saya ambil botol minum di samping tempat tidur, lalu meminumnya. Saya ambil kacamata, memakainya kemudian membuka buku catatan kecil di atas meja dan membuka lembar demi lembar. Tidak ada jadwal ketemu teman hari ini. Saya kemudian mengutak-atik handphone, tidak ada panggilan dari Bapak atau Ibu saya yang jauh di Lampung sana. Kemudian saya putar lagu-lagu Jason Mraz yang selalu menemani hari-hari di kosan sambil terus mengingat-ingat apa yang saya lupakan.

    Belum selesai lagu Bella Luna milik Jason Mraz, tiba-tiba apa yang saya lupakan mampir di kepala. Yah, final final World Junior Championship 2012. Saya melihat deretan foto-foto atlet bulutangkis favorite saya di tembok kamar. Ada satu foto yang berisi dua anak muda dengan memegang piala sambil tertawa. Mereka adalah Arya Maulana Aldiartama dan Edi Subaktiar. Pasangan inilah yang diharapkan banyak orang menjadi kandidat terkuat juara dunia junior tahun ini. Namun sayangnya, merek harus dijegal pasangan China di perempat final.

     Whoever but not China or Malaysia. Begitulah prinsip dasar yang dianut hampir rata-rata pecinta bulutangkis Indonesia. Malaysia, negara tetangga yang apabila bertanding di Istora Senayan selalu menjadi bulan-bulanan para pecinta bulutangkis.

     China, mereka adalah "penjegal" langkah, tidak hanya atlet Indonesia, tapi juga atlet dari negara lain. Meskipun pepatah "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China" ada benarnya juga. Bukan belajar ke negeri China tapi belajar pada kedisiplinan mereka serta mental juara yang mereka miliki. Tapi kadang memang ekspresi dingin mereka yang seperti robot sering membuat gemes dan ingin melepaskan batere di punggung mereka. Setelah mengalahkan juara bertahan di mixed team,Malaysia, di perempat final, saatnya berjuang melawan China. Dan atlet China tetaplah manusia yang bisa juga lelah dan kalah. Kalaupun mereka robot, mereka juga bisa kehabisan batere. Maka di semifinal, dua pasangan ganda campuran junior kita yang tersisa, mampu menaklukkan benteng kuat The Great Wall of China. Alfian Eko Prasetya/Shella Devi Aulia dan Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktavianti mampu memenangkan pertandingan dengan rubber game. No tv, no live stream, hanya ada live score. Namun itupun cukup membuat jantung saya yang tidak dirancang untuk menahan dag-dig-dug terlalu lama ini berdetak kencang dan hampir lepas mur-nya. Hati saya memang fragile. Okesip. Dan akhirnya, "tirai bambu" tersibak, tembok besar China berhasil ditembus gempuran putra-putri nusantara. Terciptalah All Indonesian Final di mixed double. Dunia saya jadi warna-warni, badan saya ringan (kalo ini memang karena saya kurus :D ), semua orang di kantor saya sapa, dan lagu Rocket Man milik Elton John terngiang-ngiang di telinga saya. Saya pergi ke luar angkasa :) Kembali ke final. Saya segera menuju ke TKP. Bukan terbang ke Jepang tapi membuka lama tournamentsoftware.com dan mengikuti live score. Pasangan ganda putri China sepertinya di ambang kekalahan. Dan benar saja, mereka kalah rubber game dari pasangan Korea. Timeline saya pun seketika ambyar. Sepertinya banyak yang senang dengan kekalahan ini. So I am :) Dan inilah yang ditunggu-tunggu, XD Final, Alfian Eko Prasetya/Shella Devi Aulia vs Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktavianti is the court. Something like final Sirnas, eh? Jayaraya vs PB Djarum. We'll see, which one will be the best. Setelah menunggu selama 29 menit, akhirnya lahirlah sang juara dunia baru. Skor 21-17 21-13 mengukuhkan pasangan PB Djarum ini sebagai juara dunia baru. Alfian Eko Prasetya gagal mempertahankan gelarnya tahun lalu yang direbut bersama Gloria Emmanuel Wijaya. "Obama" kecil berhasil mengangkat piala kehormatan. Dengan berkalung merah putih, tawanya sumringah. Dan lagi-lagi, mata saya berkaca-kaca menahan haru. Air hangat pun akhirnya mengalir dari balik kacamata saya. Obama kecil yang ramah dan baik hati itu berhasil mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Memang, menjadi juara dunia junior bukan jaminan seorang atlet akan sukses saat menapaki level senior. Tapi ini adalah modal awal untuk menatap jalan panjang yang ada di depan. Jalan panjang yang entah penuh kerikil tajam, batu sandungan, duri atau malah mulus seperti jalan tol. Seperti apapun jalan yang akan dilewati, tetap jaga keseimbangan. Jangan mudah puas dengan apa yang sudah diraih. Di aas langit masih ada langit yang lain. Di atas cakrawala masih ada jagad raya yang tak terbatas luasnya. Di atas satu kemenangan, masih banyak kemenangan lain yang menunggu untuk dijemput. Jalan panjang itu siap dipijaki jiwa-jiwa muda putra-putri nusantara. Kamu, iya kamu Edi Subaktiar, selamat menempuh jalan panjang yang terbentang di depan. Tapakilah jalan yang menunggu itu dengan semangat yang tak pernah padam dan doa yang tak henti terucap. Sekali lagi, "Fly, Edi. Fly!!!" Nb: 2 foto ini adalah nazar dan twit saya yang menjadi kenyataan :)))

Sudah Waktunya Pulang (Pendapat Tentang Bulutangkis Indonesia)

    Semalam saya membaca sebuah tulisan di blog milik jurnalis tabloid TopSkor, Putra Permata Tegar Idaman, tentang pendapatnya mengenai prestasi junior Indonesia di World Junior Championship yang baru 3 November lalu. Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktavianty membuktikan dirinya sebagai ganda campuran junior terkuat di dunia dengan mengalahkan rekan senegaranya sendiri, Alfian Eko Prasetya/Shella Devi Aulia.

    Edi Subaktiar yang sejatinya adalah peraih medali emas di ajang Asian Youth Championship 2012 di nomor ganda putra bersama Arya Maulana Aldiartama. Melati sendiri adalah juara Jerman 2012 di nomor ganda putri bersama Rosyita Eka Putri Sari. Di kejuaraan dunia junior ini, mereka juga bermain di nomor spesialisasi mereka, yaitu ganda putra dan ganda putri. Edi dan Arya merupakan ganda junior nomor satu dunia dan Melati serta Rosyita pun masuk dalam daftar 10 besar dunia. Di nomor ganda campuran pun, Edi dan Melati menghuni deretan 10 besar dunia. Jadi?

     Ada begitu banyak atlet di Indonesia yang sebenarnya menyimpan bakat-bakat di nomor selain dari apa yang menjadi spesialisasinya. Contohnya adalah Liliyana Natsir. Siapa yang berani memungkiri prestasi Liliyana di nomor ganda campuran? Bersama Nova Widiyanto, Liliyana sudah berhasil mengantongi banyak gelar yang di antaranya adalah 2 kali juara dunia dan medali perunggu olimpiade Beijing 2008. Bersama Tontowy Ahmad, Liliyana juga berhasil "memecah telor" penantian selama lebih dari 30 tahun di turnamen bulutangkis tertua di dunia, All England, untuk nomor ganda campuran. Setelah pasangan Christian Hadinata/Imelda Wiguna, baru di tahun 2012, akhirnya Tontowy dan Liliyana mampu mempersembahkan gelar prestisius tersebut yang akhirnya mengantarkan mereka sebagai ganda campuran terbaik negeri ini.

     Selain piawai bermain di sektor ganda campuran, Liliyana juga tidak diragukan saat bermain di nomor ganda putri. Bersama Vita Marissa, Liliyana berhasil menyelamatkan muka Indonesia di Indonesia Terbuka 2008 dengan mengalahkan ganda putri Jepang. Tidak ada yang bisa menyangkal prestasi Liliyana di kancah perbulutangkisan internasional.

     Sistem, semua kembali pada sistem. Aturan kepengurusan PBSI periode 2008-2012 yang tidak memperbolehkan atletnya bermain di dua nomor membuat bakat-bakat itu seakan sia-sia. Bakat yang kemungkinan masih bisa dieksplor itu akhirnya hanya tersimpan tanpa pernah diasah. Sebenarnya apa salahnya membiarkan para atlet untuk mencoba bermain di dua nomor sekaligus?

    Kita bisa belajar banyak dari China. Zhao Yunlei berhasil mengawinkan medali olimpuade 2012. Bersama Tian Qing, ganda putri sekaliber mereka dapat dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya hingga akhirnya berhasil merebut medali emas. Di nomor ganda campuran, bersama kekasihnya,  Zhang Nan, dia berhasil menghentikan perlawanan kompatriotnya, Xu Chen dan Ma Jin di partai final. Dua sektor dan dua-duanya berhasil. Seharusnya kita belajar banyak dari mereka.

    Di Indonesia sendiri, sebut saja Pia Zebadiah. Pia saat masih menjadi anggota pelatnas bermain di ganda campuran bersama Fran Kurniawan Teng dan diproyeksikan menjadi penerus Nova Widiyanto/Liliyana Natsir, sampai akhirnya memutuskan untuk resign dari pelatnas dan memilih untuk kembali ke klub dan berkarir profesional. Saat ini Pia bermain di dua nomor, ganda putri bersama Rizky Amelia Pradipta dan ganda campuran bersama kakaknya yang juga peraih medali emas olimpiade Beijing, Markis Kido, yang sudah lebih dulu memutuskan keluar dari pelatnas tahun 2010.

     Prestasi Pia/Rizky sendiri terbilang melaju pesat. Hanya dalam beberapa bulan, Pia/Rizky yang sebelumnya tidak masuk peringkat 50 besar, saat ini sudah masuk dalam daftar 20 besar dunia, bahkan melewati peringkat kompatriotnya di pelatnas, Anneke Feinya Agustine/Nitya Krishinda Maheswari.

     Di nomor ganda campuran, Pia/Kido juga berhasil menjuarai turnamen sekelas Gran Prix di Vietnam medio Agustus lalu.

     Lalu, akankah kepengurusan baru di PBSI akan membawa angin segar yang dapat membuat bakat-bakat terpendam akan muncul kembali?

     Di Indonesia, negeri yang tidak pernah kehabisan bakat ini, seharusnya tidak wajar bila terjadi kemerosotan prestasi di bulutangkis. Indonesia adalah negara bulutangkis, meskipun media tidak terlalu memperhatikan. Kita dapat melihat berbagai macam turnamen bergengsi dunia yang menggunakan nama orang Indonesia, seperti Sudirman Cup, Suhandinata Cup (WJC Mixed Team), serta Bimantara Cup (WJC Individual). Hal ini membuktikan bahwa Indonesia pernah mempunyai masa keemasan dan menjadi negara yang disegani dalam bulutangkis. Sekarang Indonesia berada pada titik nadir kemerosotan prestasi. Bakat-bakat alami yang dimiliki negeri kaya potensi ini seakan tidak lagi disegani.

    Lalu, semua salah siapa? Pemerintah, PBSI, atlet atau malah kita yang terlalu sering menjelek-jelekkan prestasi atlet tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi? Yang jelas, bukan saatnya bagi kita untuk saling menyalahkan. Sudah saatnya bagi kita untuk bersatu, beejuang bersama-sama melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, yaitu mengembalikan prestasi bulutangkis yang pernah ada di genggaman kita.

    Pemerintah jelas harus mulai ikut serta dalam hal ini. Bukan berarti harus mencampur aduknya dengan politik. Jangan sampai dengan turut sertanya pemajuan bulutangkis, pada akhirnya malah menjadikan terjadinya kekacauan seperti seperti yang terjadi pada sepakbola Indonesia. Kasihan para atlet yang sudah berjuang demi bangsa dan keluarganya pada akhirnya harus luntang-lantung menunggu nasib karena kisruh organisasi induk mereka.

     Pemerintah bertugas men-support, tidak hanya bulutangkis, tapi juga olahraga lain yang ada di Indonesia. Support yang harus dilakukan adalah memberikan dana pembinaan yang cukup bagi para atlet yang rela mengorbankan masa muda mereka untuk berusaha mengharumkan nama bangsa, tanpa mencampuri semua dengan segala hal yang berbau POLITIK. Berikan jaminan hidup di hari tua yang membuat atlet lebih bersemangat dan lebih fokus dalam berlatih. Jangan lagi ada atlet yang bernasib seperti Tati Sumirah yang bahkan tidak memiliki rumah.

    Angin segar yang dihembuskan kepengurusan baru PBSI semacam memberikan harapan baru bagi bulutangkis Indonesia. Nama-nama mantan atlet nasional seperti Susi Susanti, Ricky Subagja, Christian Hadinata, serta Rexy Mainaki yang berhasil diajak "pulang" dan menjadi Kabid Binpres, menyiratkan bahwa sebentar lagi, kita akan kembali siap tempur bersaing di level yang seharusnya kita berada, kembali ke level dunia. Tentunya selain itu juga harus ada pembibitan bakat-bakat muda di daerah harus terus digali dan dikembangkan.

     Atlet, mereka harus memiliki daya juang serta mental yang lebih besar dari sebelumnya. Mereka harus berorientasi pada prestasi. Berpikir bahwa mereka hanya bertanding untuk menang, menang dan menang. Siapa pun lawannya.

     Dan kita, penikmat dan pecinta bulutangkis Indonesia, dapat ikut turut serta dalam memajukan dan mengembalikan prestasi dengan cara terus mendukung para atlet serta para pengurus. Jangan mencaci para atlet yang kalah saat bertanding, jangan menghina saat prestasi seorang atlet menurun, jangan hanya bisa berteriak saat menang, tapi juga tetap mendukung saat di bawah. Terutama apabila yang menghina dan mencaci adalah orang yang tidak terlalu olahraga ini.

     Sekarang, mari kita dukung pengurus PBSI yang baru untuk bisa memberikan kebijakan-kebijakan yang lebih bijak, yang salah satunya adalah mengijinkan atletnya untuk bisa bermain rangkap. Dan mari kita bersama-sama berdoa agar tongkat kejayaan bulutangkis  bisa kembali ke rumah yang sudah seharusnya menjadi rumah, yaitu Indonesia.


Lilis Wiyatmo

   

[photo source : google]


Surat Pagi

Dear kamu,

Pagi ini ditemani tulisan-tulisan di blog Aan Mansyur, Falling in Love at the Coffee Shop - Landon Pigg, dan secangkir minuman jahe hangat, saya kembali mengingat kamu. Kamu yang pernah menggenggam tangan saya dengan begitu erat di suatu malam Idul Adha di sepanjang jalan Kalibata sekitar setahun yang lalu.

Entah kenapa saya harus mengingat kamu. Entah kenapa pula saya harus menulis surat ini untuk kamu. Selama setahun lebih kamu meninggalkan saya tanpa sedikit pun kata atau sekedar salam perpisahan. Saya sempat tidak bisa terima dengan perlakuan kamu. Saya juga sempat mengatakan bahwa dunia tidak adil bagi kisah cinta saya. Sampai akhirnya saya menyadari, bahwa kamu bukan satu-satunya yang bisa saya harapkan. Bahwa Tuhan saya akan dengan murah hati mengirimkan seseorang yang benar-benar bisa menerima dan menyayangi saya apa adanya.

Di surat ini, saya ingin menuliskan beberapa hal yang belum pernah saya ceritakan padamu. Saya ingin mengatakan bahwa saya sudah memaafkan kamu, walaupun mungkin kamu tidak merasa bersalah telah meninggalkan saya tanpa berpamitan.

Mungkin saat kamu memutuskan untuk mninggalkan saya, kamu punya selusin alasan yang mungkin juga, apabila kamu ceritakan pada saya sebelum kamu pergi, akan membuat saya lebih menerima kenyataan bahwa kamu memang bukan orang yang tepat untuk saya. Seandainya kamu lebih berterus terang waktu itu, mungkin saya tidak memendam perasaan benci pada kamu selama setahun terakhir ini.

Pagi ini, setelah membaca sebuah tulisan di blog milik penulis dari Makassar, M Aan Mansyur, saya berpikir bahwa inilah waktu yang tepat bagi saya untuk melupakan semua yang telah kamu lakukan pada saya. Saya memutuskan untuk menghapus semua hal yang pernah membuat Ibu saya bersedih karena melihat anak perempuannya ditinggal pergi oleh orang yang digadang-gadang akan memberikan pundaknya pada saat saya butuh tempat bersandar. Saya memutuskan untuk menghapus semua hal tentang kenangan, tentang sakitnya ditinggalkan, tentang sakitnya memiliki hati terlantar, tentang sakitnya digantungkan, tentang semua hal yang berkumpul membentuk sesuatu bernama kamu.

Saya akan selalu berdoa semoga kamu selalu membuat keputusan yang tepat disetiap jalan yang kamu pilih. Tuhan akan menerangi jalanmu selama kamu masih mengingat-Nya. Biarkan semua kenangan yang pernah tertulis menjadi satu bab cerita di buku kehidupan saya. Saya tidak akan lagi mengatakan keburukan kamu dan betapa sakitnya saya saat kamu tinggalkan. Karena saya sudah tahu bahwa semua sakit yang saya rasakan adalah berawal dari saya sendiri. Saya milih kamu, saya ditinggalkan kamu, saya harus siap menerimanya. Mungkin pertemuan adalah perpisahan yang tertunda.

Terakhir sekali, terimakasih atas semuanya. Terimakasih telah mengisi satu bab dalam buku hidup saya. Terimakasih telah memberikan pengalaman yang amat sangat berharga untuk saya. Semoga kamu selalu bahagia di mana pun kamu berjalan, apapun yang kamu lakukan dan dengan siapa pun kamu nantinya. Jangan sakiti hati Ibu dari anak-anak perempuan lain ya :)

Selamat pagi dan mari saling memaafkan...

Untuk Laut dan Senyumnya (surat 2)

Dear kamu,

Kopi yang aromanya pekat mengisi otakku
Menggeser topik lain yang sebelumnya berlaga
Aroma kafein samar menghadirkan senyummu
Beserta lengkungnya yang sederhana

Tak terkira betapa garis itu mengalahkan lengkung warna-warni milik pelangi
Lengkung senyun itu lebih hangat dari sinar matahari yang hadir setelah hujan

Dear kamu,

Bila ada waktu bacalah ini dengan lengkung senyum itu
Maka aku akan tidur sambil tersipu saat mengetahuinya

Tetaplah tersenyum dalam heningmu
Agar ramainya hati tetap terkendali seperti aroma kopi.

15-1-2012

Obama or Obama?

Siang tadi, timeline twitter saya ramai membicarakan tentang presiden Amerika, Barack Obama. Entahlah, katanya sih sedang dilangsungkan pemilihan umum di sana. Lhakok ujug-ujug ada pemilu saya ya bingung. Seperti biasa, setiap ada tulisan atau berita tentang Obama, tangan saya selalu terasa gatal. Gatal ingin cepat-cepat komen. Tapi komen saya pasti melenceng. Obama yang ada di pikiran saya adalah Obama yang lain. Yang ada di pikiran saya adalah Edi Subaktiar yang biasa dipanggil Obama. Gara-gara keramaian di timeline, saya jadi iseng cari foto Barack Obama di google. Saya download beberapa foto. Kemudian saya cari foto Edi Subaktiar di album foto handphone saya. Fyi, album foto saya penuh dengan foto Edi. Akhirnya saya dapatkan foto yang saya cari. Foto dengan gaya paling mirip dengan foto Barack Obama. Kemudian saya menuju ke aplokasi photogrid di hp saya. Saya satukan foto mereka. Yak, saya tertawa sendiri saat melihat hasilnya. Saya sangat tidak tahan untuk tidak mengirimkan foto itu kepada si tokoh yang ada di foto. Saya kirim foto itu ke Obama. Iya, ke Obama. Bukan Obama dari Menteng, tapi Obama dari Petamburan. Saya kirim foto itu melalui whatsapp messenger kepada Edi sambil mnulis, "Ternyata kamu memang beneran mirip Obama ya :D". Tidak berapa lama, Edi membalas dengan menulis,"hahahaaha, dapet aja mbak." Lalu saya balas lagi,"Sekarang pilih, Edi, mau jadi atlet apa presiden? Jangan semuanya, kasian yang lain." "Aku jadi atlet aja mbak, yang lain aja yang disuruh jadi presiden, beneran." Balas Edi lagi. Setengah baru baca balasan Edi yang di atas setengah jam kemudian karena lupa hahahaa... Kemudian saya balas lagi,"Yaudah kamu jadi presidennya atlet aja ya. Deal." Lalu balas Edi lagi,"Oke mbak, aku mau hhahahahaa..." Kemudian saya hening. Edi lagi selo sepertinya. Dia mau jadi presiden atlet. Saya kembali kerja dan memilih tidak melanjutkan karena biasanya nanti dia nanya ini itu dan saya bingung jawabnya. Jadi, yaudah gitu doang sih wahihihi Hidup Edi!!!

Mars

Berkelap-kelip Mars di ruang timur

Tabur mimpi sempurna di kisi kelelahan

Sudut kantukku hangat ditimpa kerlipnya

Kalutku menguap dibawa hangat yang buatku tenang bagai tanpa dosa

Mars, tersenyum bawaku terbang

Mars, alam mimpi sempurna

Taman angan maha sempurna

Kebun cinta tanpa derita

Padang bunga tanpa kekerasan dan dosa

Yang ada hanya cinta, mimpi, dan surga

Mars, kirimi aku selalu sinar redup yang gaungkan keindahan dan kedamaian...