Sunday, December 16, 2012

Aduh, Dek :")

     Sabtu, 15 Desember 2012.

     Jam 11 siang aku keluar dari kastil berpagar emas dan melangkah ke jalan raya. Sebuah alphard berwarna biru bernomor 61 menepi dan aku pun masuk. Di pertelon *halah* aku turun dan naik kendaraan yang lebih besar. Sebuah limousin berwarna orange kebuluk-bulukan dengan angka 75 di kaca depan berjalan membawaku ke sebuah tempat elite nan mewah di kawasan Jakarta Selatan, Blok M.

     Setelah mengalami kesulitan mencari pintu keluar Blok M Square dan diperiksa sekuriti bioskop, akhirnya aku berhasil keluar dan menepi di pinggir jalan untuk menunggu seseorang, yang waktunya terbuat dari getah pohon karet, selama kurang lebih satu jam. Perjalanan sesungguhnya pun dimulai. Dan inilah, persembahan dari hati, kisah dua orang putri dari negeri Narnia yang sedang mencari cinta.

                   *       *        *

     Pukul setengah dua kira-kira, Pipit membawaku ke sebuah tempat di daerah Senayan, tepat di samping hotel paling mulia se-Jakarta, Gor Asia-Afrika. Cuaca panas beud, suasana di Gor terpantau ramai lancar dan takdir yang tak bisa dipungkiri adalah saya tetap cantik dan anggun bak Dewi Kamaratih.

     Di tangga depan pintu masuk, kami disambut oleh cici Shendy Puspa Irawati, pasangan duet koko Fran Kurniawan Teng, serta dua orang hulubalang shirtless yang diduga adalah Kenas Adi Haryanto dan Seiko Wahyu Kusdianto. Entah mengapa mereka harus duduk di kanan-kiri pintu sambil bertelanjang dada. Tapi kami yang kuat iman ini tetap stekul, padahal sih dalem hati udah histeris dan pengen nemplok :O

Kemudian kami masuk ke dalam melewati hulubalang. Menurut pengalaman sebagai suporter kawakan dan berpengalaman, biasanya para punggawa PB Djarum, klub yang berhasil mencetak betis-betis segar nan rupawan, berkumpul di tempat duduk penonton tidak jauh dari pintu masuk. Dan benar, beberapa orang dengan merk Djarum *padakke rokok* duduk bergerombol. Pertama terpantau medical acupunturist Djarum atau lebih enaknya tukang urut *dibandem Takuya Horikawa* sedang duduk di antara -dua sujud- remaja putri yang juga ber-merk Djarum. Kami berhenti di belakangnya. Bersandar ke tembok sambil mata yang dibantu kaca cembung ini terus bergerilya. Kami geser beberapa langkah, berjalan sambil terus ngomyang sampai ketika seseorang menghadapkan mukanya ke arah keributan yang kami buat. Dialah Kevin Ersa yang duduk di samping papanya. Dia pasti nengok sambil mikir,"yaelah, dia lagi, dia lagi." Oke, Kevin, oke :|

  Kami tetap berdiri tidak jauh dari Kevin Ersa sambil memilih lapangan yang akan ditonton. Tidak berapa lama, tampak seorang remaja kurus tinggi yang betisnya hampir mantap sedang pemanasan. Aku pun panas liat dia *adus es nutrisari*.

      Dan lewatlah itu si Mr. Smile, Kevin Ersa. Jantung udah pengen lompat keluar pas Kevin lewat sambil nengok dan pasang muka senyum. Aku yakin dia apal banget sama kami karena sebelumnya kami pernah menimbulkan keributan pas duduk nonton di belakangnya dan kroninya yang seger-seger itu. Yang bikin muka abang ireng adalah pas lagi cengar-cengir ngeliatin senyum Kevin, si Yantoni yang badannya semok bin monton itu ternyata ngeliatin. Duh, cubit juga nih :*

     Sebagai suporter berdedikasi, kami duduk di depan lapangan 3, tempat Kevin/Yantoni bertanding. Sialnya kami duduk di antara gerombolan pendukung lawan.

     Seperti biasa, wanita-wanita cantik aduhai ini tidak terlalu fokus pada pertandingan. Mata kiri ke lapangan, mata kanan bergerilya. Sebagai bocahe jenderal Sudirman aku merasa berhasil. Yang bikin nggak fokus adalah badan semok Kevin dan Yantoni yang kata Pipit pas buat dipeluk. Aku fokus di bagian bawah punggung o_O.

     Pertandingan selesai, kami pindah ke depan lapangan 1 tempat Vita/Nadia vs Pia/Rizky bertanding. Ini semacam pertandingan internasional. Vita Marissa, coy. Tante yang tenaganya super penggemarnya buanyaaak banjeettt.

     Di sela-sela pertandingan, muncul seorang anak berkaos putih, bermata sipit dengan kacamata yang bikin kami jejeritan, gegulingan, kayang, split, dan nari jaipong tapi untung cuma dalem hati. Dialah Kevin Sanjaya Sukamulyo dengan wajah orientalnya. Bulutangkislah yang mengajarkan bahwa orang-orang Cinak dan keturunannya itu ternyata keceh mareceh juga.

     Mata kembali berkarya. Di pojokan tampak beberapa orang. Eh itu Yantoni, eh itu Kevin Ersa, eeeeeehhh itu Abu Bakar, eyaolooohhh itu...itu...itu.... *pingsan*

     Seseorang berkolor biru dan berkaps hitam lagi bagi-bagi duit mau jajan. Obamaaaaaa <3

     Aktor yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Cuma liat aja beta yang gugupan ini gemetar. Ngana tidak usah membayangkan, pegang hp saja beta tidak sanggup. Untung sekarang ambil air so dekat. Tubuh beta yang seksi semlohai ini luluh lantak hancur lebur seperti butiran debu. Dear Obama, aku kangen :*

      *Damn, dibikin gemeter sama anak kecil, Damn*

     Kemudian mereka pergi dan muncul lagi di balkon seberang lapangan sambil masing-masing membawa es durian *hiyeeekk*. Anak kecil memang suka jajan ya. Walaupun predikatnya juara dunia junior, badan gede kayak umur 25, tetep aja jajan dengan uang iuran. Jiwa anak-anak mereka itu yang bikin gemes. Aaakkk cini cini pangku mbak cini :">

     Pertandingan selesai lagi. Vita/Nadia menang. Dilanjut dengan pembagian hadiah secara simbolis dan sambutan sepatah dua patah kata dari pihak penyelenggara. Dilanjut dengan partai simpanan, duel ganda dewasa putra PB Djarum, Rendra Wijaya/Rian Sukmawan vs Kenas Adi Haryanto/Seiko Wahyu Kusdianto. Ini adalah pertandingan paling random yang pernah ada. Udah atletnya tuker-tukeran sepatu, masing-masing dapet kartu kuning, juga Rendra/Rian yang teriak "Woshaaahh" minta difoto sambil ngeledek refree. Dan bapak-bapak berkaos Djarum di belakangku heboh ketawa sendiri. Edi dan Yantoni duduk nggak jauh dari kami. Tapi sial selanjutnya adalah tempat kosong di sampingku yang dipersiapkan untuk diduduki Edi atau Yantoni atau minimal Jeka gitu malah diduduki seorang atlet yang kalo chat di fb kerjaannya #surhat mulu itu :/

     Dan rangkaian acara pun selesai. Kenas dan Seiko menjadi target operasi kami. Kami pun ucluk-ucluk keluar melewati Kevin Ersa yang duduk dengan mamanya. Hae tante *sungkem* :)) Kami menuruni tangga bak mempelai putri karena merasa diliatin sambil senyum oleh Kevin. Di depan tangga ada Ihsan. Pas lagi sibuk fotoin candid si Ihsan, dua sosok berkeringat tanpa baju muncul di depan idung. Kenas dengan otot-ototnya yang halus dan betis kuat yang bersertifikat SNI ditambah dengan Seiko yang dengan bulu-bulu lebat yang tumbuh di mana-mana mulai dari ketiak, kaki, tangan dan perut. Dan kesemuanya dibalut dengan keringat yang meleleh sepanjang badan. Maka terjadilah obrolan dua orang wanita yang kalo nonton film kategorinya bukan remaja atau BO lagi yang kalo diceritain di sini maka aku akan digetok lembaga sensor Indonesia. Preek, blog-ku koyo stensil :|

     Setelah itu ternyata ada pembagian hadiah lagi, kami masuk lagi, diliatin Kevin Ersa lagi. Kemudian berdiri nyender di-pundak Kevin- tembok belakang Kevin. Muncullah manusia manis bernama Arya Aldiartama. Abis ngambil hadiah, Arya lewat di depan kami tapi nggak berapa lama dia balik lagi. Kami siaga. Arya aku cegat diminta foto bareng. Kampretnya pas gantian fotoin Pipit tanganku tiba-tiba gemeter kena parkinson. Ah prek, dibikin gemeter sama anak kecil lagi.

     Edi tidak juga beranjak dari singgasananya. Kami putus asa dan niat keluar. Tapi tiba-tiba Kenas dengan betisnya lewat sambil bilang "misi" dan senyum. Akkkk ikut pulang yuk, Kenas :*

     Kesimpulannya adalah PB Djarum bukan hanya mencetak atlet hebat, tapi juga atlet yang sopan dan betis yang bikin ngiler. Udah dulu deh ya daripada pikirannya makin kotor. Daahhh neeekkkk...

  




Sunday, November 25, 2012

Media Sok Tau

     Sepakbola, tidak bisa dipungkiri, adalah olahraga terpopuler di dunia. Bahkan di negara sepakbola seperti Inggris, sepakbola adalah lahan bisnis menggiurkan yang sangat diminati para pengusaha.

     Kepopuleran sepakbola sudah menjadi hal yang umum di Indonesia. Meskipun prestasi timnas Indonesia tidak terlalu bisa dibanggakan dan peringkatnya masih masuk dalam jajaran di atas 100. Begitu pula dengan kualitas klub-klub yang ada di Indonesia, jelas tidak mencerminkan sebuah negara dengan prestasi yang patut dibanggakan.

     Keterbelakangan prestasi makin didukung dengan carut-marutnya organisasi induk yang memayungi sepakbola Indonesia. Pertikaian tiada akhir dan perebutan kekuasaan adalah berita membosankan yang menjadi headline media massa setiap harinya.

     Tapi sepakbola tetaplah olahraga yang memiliki magnet kuat tersendiri. Hampir semua lapisan masyarakat di seluruh penjuru dunia menyaksikan pertandingan sepakbola yang hampir ditayangkan setiap hari.

    

     Mungkin tulisan ini akan sangat tidak objektif saat dibaca mengingat posisi saya sebagai pecinta bulutangkis. Mungkin saya menulis ini pun didasari dengan ketidakmengertian yang ditambah dengan rasa iri saya pada berita-berita yang ada sangat mengagungkan sepakbola, meskipun prestasinya belum dapat dibanggakan.

     Saya suka sepakbola. Selain bulutangkis, sepakbola adalah olahraga yang dikenalkan dalam keluarga saya sejak dulu. Kakak laki-laki saya, juga kakak ipar saya, aktif bermain sepakbola. Bapak saya adalah salah satu orang yang hampir tidak pernah absen menjadi panitia saat ada turnamen sepakbola di daerah saya.

     Nama-nama seperti Bima Sakti, Sugiantoro, dkk adalah nama-nama yang tidak asing di rumah saya. Bahkan di kamar saya, terdapat poster Ahn Jung Hwan. Saya menyukai Ahn Jung Hwan jauh sebelum K-Pop ramai di Indonesia.

     Yang lalu membuat saya iri adalah media yang sangat rajin mem-blow up berita tentang sepakbola. Semua orang pasti masih ingat saat gelaran piala AFF 2010, kejayaan timnas Indonesia lolos dari fase grup menjadikan headline koran dan televisi penuh tentang berita tersebut. Para punggawa timnas diangkat ke atas langit seakan Indonesia sudah menjadi juara dari turnamen teesebut. Euphoria tanpa henti membuat semua orang seakan lupa bahwa lolos fase grup bukanlah akhir dari perjuangan, bahkan itu barulah langkah awal yang seharusnya menjadi titik tolak untuk menapaki pertandingan-pertandingan selanjutnya, yang tentunya lebih berat.

     Masih hangat juga di ingatan saat Sea Games 2011. Hampir sama seperti yang terjadi pada timnas piala AFF, timnas U-23 asuhan Rahmad Darmawan bermain gemilang di fase grup. Media, baik cetak maupun elektronik ramai menjadikan berita tersebut sebagai topik utama.

     Pada kenyataannya, kejadian yang sama persis terjadi. Partai final, baik AFF maupun Sea Games, menjadi anti-klimaks bagi tim Indonesia. Keduanya sama-sama harus kalah saat adu penalti dengan Malaysia. Saya menangis sambil memeluk bendera merah putih di pojokan kamar saat tim AFF kalah adu penalti. Dan hal itu terjadi lagi saat Kurnia Meiga gagal membendung tendangan pemain Malaysia saat adu penalti.

     Media tetap menjadikan berita tersebut sebagai headline. Tidak ada berita nyinyir sedikitpun. Malahan hampir di semua berita mengatakan bahwa Indonesia kalah terhormat.

     Keadaan tersebut berbanding terbalik dengan berita saat atlet Indonesia tidak berhasil mempertahankan tradisi emas bulutangkis, bahkan tidak mampu membawa satu medali pun dari cabang ini. Umpatan, cacian, berita nyinyir dan segala macam komentar buruk tertuju pada atlet bulutangkis Indonesia waktu itu. Apalagi saat terjadi insiden didiskualifikasinya 4 pasangan ganda putri yang salah satunya adalah pasangan Indonesia.

     Hal tersebut juga terjadi saat tim Thomas-Uber Indonesia hanya mampu mencapai perempat final.

     Komentar miring berseliweran di linimasa twitter. Saya tidak merasa emosi saat komentar tersebut datang dari orang yang mengerti bulutangkis. Tapi ketika tiba-tiba banyak orang-orang hobi kultwit yang padahal sumbernya mereka dapat dari google, bercuap-cuap seakan-akan mereka sangat mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada bulutangkis Indonesia.

     Saya sempat mem-block beberapa akun di twitter karena mereka berkomentar sok tau dan kebanyakan ditujukan kepada Taufik Hidayat dengan mengatakan bahwa TH hanya bisa membuat sensasi tapi nihil prestasi. Bitch, please!!!

     2012 adalah olimpiade kelima bagi TH. Dan pada olimpiade-nya yang kedua, TH berhasil memberikan emas bagi Indonesia. Kalian kemana? Kurang bahan di internet? Lagi pula Taufik Hidayat adalah pemain profesional yang bermain menggunakan biaya sendiri, tidak bernaung di bawah PBSI. It means dia tidak menggunakan uang kalian saat kalah.

     Harus diakui, London adalah olimpiade terburuk bagi Indonesia sejak bulutangkis masuk olimpiade di tahun 1992. Sejak itu, Indonesia tidak pernah absen membawa pulang emas. Tapi haruskah media memojokkan salah satu cabang olahraga yang paling banyak memberikan prestasi bagi negeri ini?

     Media lupa, saat mereka mengagung-agungkan sepakbola pada event Sea Games, bulutangkis adalah cabang olahraga pertama yang menyumbangkan emas lewat beregu putra dengan mengalahkan Malaysia 3-1.

     Dan ketika publik ramai menyaksikan semifinal sepakbola antara Indonesia vs Thailand, saya menjadi saksi Indonesia Raya berkumandang 4 kali di Istora Senayan. Indonesia hampir saja menyapu bersih emas andai saja Firdasari tidak kalah rubber game dari Ratchanok Intanon.

     Bulutangkis tidak butuh diterbangkan ke langit. Saya kira media hanya cukup dengan tidak usah memberitakan apabila hanya sanggup membuat berita negatif. Juga bagi masyarakat Indonesia yang tentunya cerdas, tidak usah terlalu banyak komentar kalau atlet yang dikenal hanya TH, yang bahkan sudah akan pensiun tahun depan. Kebanyakan orang Indonesia hanya tahu TH dan langsung menyimpulkan bahwa bulutangkis Indonesia sudah mati. Padahal ada nama-nama lain yang bahkan berhasil merebut gelar All England dan Juara Dunia Junior. Tapu siapa yang perduli dengan mereka setinggi apapun prestasinya.

Doa saya semoga olahraga Indonesia, tidak hanya sepakbola dan bulutangkis, maju dan berprestasi. Dan semoga masyarakat dan media Indonesia segera dijauhkan dari sifat sok tau dan banyak komentar tanpa berpikir isi komentarnya.

Lilis Wiyatmo
25 November 2012



Saturday, November 24, 2012

Pulang Ke Kotamu (4)

Cont~

     Pak Penyo menginstruksikan pada kami untuk ikut pak Arif lagi. Di depan, kami bertemu mas Ari dan mas Dhedot, pamit, salim dan pulang. Seperti biasa, mas Dhedot selalu bersalaman dengan mantap. Kenapa tidak foto dengan mas Dhedot dan mas Ari? Karena kami sudah berfoto dengan mas Ampuh. It's a wrap!!!

     Pak Arif mengantarkan kami sampai depan pagar yang ternyata masih terkunci rapat. Siapakah orang yang pernah memanjat tembok rumah CN yang tinggi banget saat subuh? Saya -_____-
Oke nggak usah dibahas.

     Kami pun akhirnya masuk ke kamar setelah kunci yang ternyata tersembunyi di suatu tempat ditemukan. Dan kami pun tidur dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya . Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta. Okesip.

                     *    *    *

Day 3, Last Day

     Saya terbangun di kolong tempat tidur dengan perasaan campur aduk. Dua hari ini saya tetap bertahan tidur di kolong. Sebagai alien saya akan merasa gagal bila tidur di tempat tidur.

     Saya merasa nggak ikhlas karena itu adalah hari terakhir kami di Jogja. Kami pun packing, mandi dan naik ke lantai dua untuk ngepel. Ah, bukan ngepel sih, tapi melanjutkan sesi foto-foto. Setelah itu kami pergi ke Malioboro (lagi, grrrrrr) untuk mencari oleh-oleh dan makan siang yang digabung dengan sarapan, lalu tiba lagibdi beskem sekitar pukul 12:00. Kami masih sempat tidur-tiduran sampai ketika Hayu dan Mia datang.

     Pukul 13:30, kami keluar kamar setelah membereskan semua barang-barang bawaan. Tidak lupa kami berpamitan pada Bapak penjaga rumah yang menyalami kami dengan ramah. Saya berjalan keluar dengan lemas saat sayup-sayup lagu Ruang Rindu terdengar. Saya langsung ndeprok di lantai. Metrika mingsek-mingsek . Damn!!! Windy kurang ajar sekali berani memutar lagu itu di saat seperti ini :((

     Kami pun berpamitan pada mas Koko yang baik hati dan rajin menolong kami berfoto. Sayangnya kami lupa berfoto dengan berfoto dengan beliau. Pak Penyo datang dengan dedeknya yang pemalu.

     Saya sedih lagi. Kenapa harus ada kosa kata bernama perpisahan? :(((

     Kami berjalan bersama-sama menunggu bis  sedangkan pak Penyo dan dedeknya yang pemalu menunggui di seberang jalan.

     Dan bis pun datang. Kami semua berpelukan. Tidak ada air mata jatuh. Saya mulai tau bahwa perpisahan diciptakan agar ada kata saling merindukan. Kami akan pulang. Tapi kami merasa bahwa kami seperti meninggalkan rumah sendiri.

     Selamat tinggal, Jogja. Kota di mana setiap orang bisa jatuh cinta. Kota tempat segala keramah-tamahan dan persahabatan dituai. Kota yang sederhana tapu bersahaja.

     Satu lagi saya tinggalkan potongan hati dan mimpi di kota ini.

     Terimakasih, Letto. Terimakasih, Pak Penyo. Terimakasih, mbak Peppie, mas Koko, pak Arif, teman-teman pLettonic Jogja dan semua yang ada di acara maiyahan malam itu. Terimakasih, rindu, cinta dan Jogja.

     Saya akan selalu merindukan Jogja dan segala isinya. Saya akan merindukan kamu. Iya kamu. Kamu yang sedang tidak berada di kotamu. Kamu yang saya tunggu setiap pagi di pintu masuk kantor. Kamu yang selalu diam namun diam-diam saya kagumi. Kamu yang setiap hari saya rindukan tanpa kamu menyadari. Kamu, pemilik lengkung senyum serupa.pelangi. Saya sudah pulang ke kotamu, tanpa kamu :')

     Kami pulang ke Jakarta secara terpisah. Saya dan Windy menuju.terminal Pasarminggu, Fitriabke Pulogadung dan Dwi ke Cileungsi. Metrika akan pulang keesokan paginya. Sedangkan Nabil malah sudah pergi ke Desa Brayut untuk menyaksikan Ngayogjazz.

     Hujan mengiringi kepulangan kami menuju Jakarta. Kota dengan segala kesemerawutan di balik kemewahan gedung-gedung tinggi. Kota paling menjengkelkan yang sangat kami cintai. Kota tempat kami hidup dan mengais rejeki.

     Jakarta, be nice please!!!

"walau kini kau t'lah tiada kan kembali

namun kotamu hadirkan senyummu abadi

ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi

bila hati mulai sepi tanpa terobati..."

Lilis Wiyatmo
24 November 2012

Nb: sengaja diselipkan foto Lee Yong Dae dan Shinaro Ikeda, agar kamu lebih bersyukur :D











Pulang Ke Kotamu (3)

Cont~

     Kemudian kami diajak muter-muter Malioboro. Saya cenderung bingung saat berada di Malioboro. Manusia yang entah dari mana asalnya tumplek blek jadi satu. Saya tetap ikut muter-muter karena saya yakin ada saudara saya dari planet Venus atau planet yang lain dalam lautan manusia tersebut. Karena biasanya golongan alien seperti kami akan nyelip-nyelip di antara kumpulan keramaian manusia. Jadi hati-hati, saat Anda berada di antara keramaian manusia, bisa jadi salah satu atau salah duanya adalah alien yang ingin mengambil alih bumi atau ingin mengambil sampel gen manusia untuk diteliti di planetnya. Camkan itu bero en sest *macak @rasarab*.

     Acara muter-muter dilanjutkan dengan foto-foto di trotoar. Saya dan Hayu sempat planking di tengah jalan, juga foto duduk rame-rame di tengah trotoar. Trotoar Jogja itu awesome sekali pemirsa. Kemudian foto-foto pun dilanjutkan. Kalian ada yang berani foto kayang di pinggir jalan Malioboro ga? Nggak? Cah cemen. Saya dong berani (--,).

     Sekitar pukul 11 malam kami kembali ke beskem. Mia dan mbak Rhien langsung pulang ke rumah masing-masing.

     Sesampainya di beskem, kami langsung ke kamar. Mbak Peppie sepertinya melanjutkan pekerjaan di lantai dua. Hayu ikut tidur bersama kami. Saya tidur di kolong karena kepanasan. Kenapa sudah ada ac masih panas? Ya namanya juga makhluk Venus :/

     
                  *    *      *

Day 2

     Pagi hari saya terbangun pukul 04:30. Yang lain masih terlelap, kecuali Dwi yang sepertinya memang tidak pernah tidur. Jangan-jangan dia juga alien :O

     Setelah semua mandi, kami menuju lantai dua. Rumah sepi, hanya ada mas Koko yang sedang....sedang apa ya?

     Sampai di lantai dua, kami siap dengan senjata masing-masing. Dwi dengan kain pelnya dan kami duduk manis di kursi masing-masing sambil nonton tv :). Dwi sibuk ngepel lantai sambil ngubek-ubek kardus. Dia melihat barang yang bisa dipindah-tangankan, seperti poster, kaos, dll dst dsb mensenke.

     Setelah Dwi selesai bersih-bersih, kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Agenda utama kami hari itu adalah mencari tiket pulang. Saya, Dwi, Fitria dan Windy pergi ke daerah Gamping untuk mencari tiket. Sedangkan Metrika diantar Hayu ke stasiun Lempuyangan untuk mencari tiket kereta ke Malang, yang dilanjutkan dengan Hayu yang langsung pulang ke kosan.

     Dari Gamping, kami langsung menuju ke Malioboro (lagi). Foto-foto (lagi). Agak siang, mbak Rhien dan Mia datang. Kami pun berkeliling. Fitria dan Dwi-lah yang paling aktif mencari oleh-oleh. Sedangkan saya tetap sibuk mencari alien.

     Siang hari, setelah melewati insiden Metrika dimakan kuda, kami berpencar. Tapi memang kuda-kuda di Jogja genit-genit. Malamnya di Malioboro, pundak saya dicium dengan mesra sampai saya histeris. Maksud saya sih kalau ada rasa sama saya ya ngomong aja baik-baik, ga usah main cium di tempat umum gitu *prekkk*.

     Oke, lanjut prab!!!

     Metrika pergi sendiri menemui temannya. Saya, Fitria, Windy dan Dwi pergi ke beringin kembar Alkid sedangkan mbak Rhien dan Mia kembali ke beskem. Menurut cerita, alkid akan lebih indah saat dikunjungi malam hari. Tapi semua terbantahkan saat saya tiba di sana. Mungkin bila saya pergi ke alkid di malam hari, keindahan-keindahan itu tak akan terlihat dengan jelas. Mata kami dimanjakan dengan pemilik tulang rusuk berwajah segar yang berkeliaran di mana-mana.

     Curiousity kills the cat. Begitu pepatahnya. Dan saya datang ke alkid hanya untuk memenuhi rasa penasaran saya. Begitu pula Fitria yang penasaran dengan sensasi minum wedang ronde di Jogja. Itulah yang kami lakukan selanjutnya, minum wedang ronde di pinggir jalan yang penjualnya adalah seorang nenek bermuka jutek dan sinis tapi masih tetap bicara menggunakan bahasa Jawa halus :)

     Ada dua hal memalukan terjadi pada kami saat di alkid. Semua terjadi karena mata kami yang susah dikontrol saat bertemu kaum Adam. Tapi sebaiknya tidak usah diceritakan daripada reputasi kami gadis manis dan lugu hancur. Lagipula kata Jason Mraz di lagu You & I Both,"All things are gonna happen naturally". Mata jelalatan juga natural, bukan? Wahihihi...

     Kami kembali ke beskem sekitar pukul 5 sore setelah dijemput taksi yang sebelumnya sudah dipesankan oleh mbak Rhien. Thankie again mbak Rhien.

     Sesampainya di beskem, sudah sudah ada Nabil dan dua temannya. Kami semua ngobrol di lantai dua. Kami semua berkumpul kecuali Metrika yang nasib dan keberadaannya masih menjadi misteri. Pemisahh, mungkinkah Metrika dimakan kuda lagi? *zoom in zoom out*

     Pukul 6 sore saya dan Fitria turun ke kamar untuk mandi. Dwi sepertinya sudah mandi terlebih dahulu. Sedangkan Windy yang beralibi takut masuk angin, jangan dtayangkan kapan mandinya. Mungkin dia tayammum.

     Fitria mandi lebih dulu, sedangkan saya menunggu di kamar sambil mengutak-atik handphone sampai ketika Metrika tersenyum tanpa dosa masuk ke dalan kamar. Puja Kerang Ajaib, Memed ga jadi dimakan kudaaaaaa. Saya terharu dan langsung pengen yang-yangan :')

     Setelah mandi dan beberes, kami semua berkumpul lagi di lantai dua. Minus Hayu dan mbak Peppie. Kami ngobrol dan lupa recharging handphone masing-masing. Satu yang sangat saya suka dari tempat adalah karena ada begitu banyak colokan. Setiap melihat colokan, kebahagiaan saya seperti bertemu dengan cowok-cowok Jepang semacam Shintaro Ikeda dan Shoji Sato. Saya cinta colokan seperti saya cinta Shintaro. Awww smash aku, Mas. Smash akuuuhhhh!!!

     Ngomongin Shintaro, saya jadi ingat lagunya penyanyi panutan saya, Jason Mraz *damn, again* yang judulnya Butterfly. Itu adalah lagu tersaru yang sangat saya suka.

"Curl, your upper lip up and let me look around

Ride your tongue along and your bottom lip then bite down"

*mbayangke* Duh...

     Tuhan kenapa kau ciptakan pria-pria seksi seperti Jason Mraz, Shintaro Ikeda dan Lee Yong Dae tentunya? Juga Peter Hoeg Gade? Muhammad Hafiz Hashim? Shoji Sato? Chris Adcock? Chen Long? Tien Minh Nguyen? Juga Ricky Alverino Sidharta?

    Apa jadinya kalau Lee Yong Dae, Kim Sa Rang dan Ko Sung Hyun bikin boyband? Saya pasti nonton paling depan sambil bawa poster "Lee Yong Dae, marry me!!!". Dan curiousity benar-benar akan kills the cat bila saya belum dapat fotonya Lee Yong Dae sama pacarnya yang di kolam renang. Haduhhhh opo ikiiih?

    Pada belum tau Lee Yong Dae ya? Hih, you live in nothing hill, girls. Huh, panas ya kalau ngimongin Lee Yong Dae.

    Oke, out of focus. Sampai mana tadi?

     Setelah isya', kami dibawa oleh sebuah mobil yang dikendarai oleh Bapak Arif ke sebuah tempat tak terlalu jauh dari beskem. Di sana kami berwacana untuk ikut maiyahan atau mocopat syafaat.

     Sebentar, saya kok masih ngos-ngosan ya kepikiran Lee Yong Dae sama Shintaro Ikeda? Hosh hosh hosh...

     Sampai di sana kami tidak langsung masuk ke venue, tapi mampir ke angkringan untuk makan malam. Setelah menghabiskan segelas kopi hitam, kami bermain "sobyong". Tau kan? Sobyong itu kalau di Jakarta disebut ABC 5 Dasar. Kami bermain sobyong tanpa pernah ada ujungnya. Karena saya sendiri jarang bisa menjawab pertanyaannya.

     Oh iya, saat kami datang, di depan angkringan ada seorang pria memakai sweater abu-abu berambut pendek. Kami serempak berteriak memanggil namanya," mas  Ampuuuuuhhhh!!!". Akkkkk kemanakah rambut keriting mas Ampuh yang ampuh itu?

     Kalian kangen nggak sama mas Ampuh? Saya kok kangen banget ya. Sampai rasanya tiada terkira. Kalian kenal mas Ampuh kan? Harus kenal pokoknya :)))

     Mbak Peppie datang, kemudian Nabil pun tiba. Kam memesan makan malam yang kesemuanya ditraktir oleh mbak Peppie, sampai kemudian mas Dhedot, drummer Letto, dan mengobrol bersama kami. Mas Dhedot udah gede ya ternyata sekarang? :D

     Kemudian mas Ari juga datang. Setelah haha hihi dan menghabiskan makanan, kami semua masuk ke tempat maiyahan. Menyesal karena ternyata kami hanya kebagian satu lagu dari grup keroncong Ada Kalanya.

     Sekitar pukul 23:00, CN naik ke panggung bersama rombongan Kiai Kanjeng. Ada mas Donny aduuuhhhh.... Ada juga mbak Via dan Haya yang menyanyikan lagu Bangbang Wetan, Someone Like You dan If I ain't got you. Haya cantik dan suaranya bagus ternyata. Fyi, Haya itu adeknya mas Sabrang.

     Samar-samar terlihat mas Sabrang datang kemudian nonton bola dan dilanjutkan dengan tidur. Saya tidak terlalu memperhatikan mas Sabrang di ruangan samping karena di depan saya ada mas "Jaket Coklat" yang tentu sangat menarik perhatian saya. Ah, dasar mata keranjang kamu Sri!!!

     Semalaman saya hanya fokus pada mas Jaket Coklat. Jadi jangan pernah tanyakan tentang hasil dari maiyahan malam itu. Toh biasanya juga ada reviewnya kan? Wahihihi...

     Sekitar pukul 3 dini hari, acara selesai. Kami pamit pulang pada mbak Peppie, kemudian berjalan keluar. Di depan lagi-lagi kami histeris saat bertemu mas Ampuh. Lalu kami foto dengan mas Ampuh sambil cium tangan dan pamit pulang.

Cont~
    









Friday, November 23, 2012

Pulang Ke Kotamu (2)

Cont~

     Jalanan yang dilewati lebih banyak terlihat gelap. Kemanakah matahari yang biasa menyinari? Dengan kualitas mata yang kurang memadai, saya tidak terlalu memperhatikan jalanan. Sampai akhirnya saya terbangun setelah tidur bangun tidur bangun tidur bangun berkali-kali.

     Bis memasuki wilayah yang mirip seperti jalanan menuju rumah saya di Lampung, sepi dan banyak pohon di kanan kiri jalan.Musik di mp3 handphone saya memutar lagu Live High milik solois paling seksi di galaksi bima sakti, Jason Mraz.

"Live high

  Live mighty

  Live righteously

  And sing it out

  And just take it easy

  And celebrate the malleable    
  reality

  You see nothing is ever as it
  seems

  Yeah, this life is but the dream..."

     Reality is soooo malleable. Kalau tidak, mana mungkin kami yang penuh kenekatan ini bisa terbangun di sebuah tempat yang jaraknya tidak jauh dari tempat yang kami idamkan sejak lama, Jogjakarta.

                 *    *    *

     Day 1

     Aroma udara segar lamat-lamat tercium dari dalam bis non-ac kami. Hati saya sudah tidak sabar untuk mencium udara Jogja yang pasti terasa berbeda. Bis sempat berhenti sekitar 15 menit karena "sang pengendali kuda" pergi ke klinik di mana anak perempuannya sedang melahirkan secara operasi. Oh Glory God, perjalanan kami tertunda karena harus menunggu orang bayen. Gimana kalau bayinya kembar? :O

     Tapi terimakasih Neptunus, setelah menunggu, Bapak sopir yanh sepanjang jalan tidak berhenti menelpon pun kembali. Perjalanan pun dilanjutkan. Kami berempat adalah penumpang paling banyak suara. Mulai dari perdebatan akan turun di mana, harus mandi di mana, dan lain-lain.

     Pukul 04:30 saya kabarkan pada mbak Rhienprana bahwa kami sudah sampai di daerah Kutoarjo. Meskipun masih pukul 04:30, suasana sudah mulai terang. Kabut putih berarak di atas daun-daun yang sepertinya basah oleh embun. Saya mencari-cari Venus, rumah saya, yang biasanya muncul sebelum matahari naik. So that's why Venus biasa disebut morning star. Tapi Venus ternyata lebih cepat tidur. Nihil.

     Tiba-tiba sebuah telur mata sapi raksasa berwarna jingga dengan bentuk sempurna muncul di depan kami. Pusat tata surya muncul dengan gagah saat waktu masih menunjuk angka 5. Dia muncul dari balik dedaunan dan pepohonan hijau. Mata kami tidak berhenti menatap ke arah telur mata sapi raksasa buatan Chef paling hebat sejagad raya yang jarang kami lihat di Jakarta. Mungkin di Jakarta sering terlihat matahari dengan bentuk serupa. Tapi siapa juga yang mau menatap matahari Jakarta yang kekuatannya tembus ke dalam rumah itu.

     Alam selalu mengajari kita banyak hal. Salah satunya adalah bersyukur. Bersyukur karena hanya dengan melihat matahari terbit, kita bisa merasa begitu dekat rumah. God is good :)

     Tidak berapa lama, bis kami memasuki daerah Gamping. Kami turun di situ. Hal pertama yang kami lakukan saat menginjakkan kaki ke tanah adalah berkata,"Jogjaaaa". Setelah itu kami bengong, bingung mau kemana. Kabar terakhir mengatakan bahwa kami tidak bisa langsung ke beskem karena kunci dibawa mbak.Peppie dan beliau baru bisa datang siang atau sore hari. Maka di sinilah kami, di pasar Gamping, celingak-celinguk bingung. Kata mbak Rhien sih dari Gamping ke Kadipiro ataupun Malioboro tinggal jalan ke timur sedikit. Masalahnya, di manakah itu arah timur?

     Sebagai pengikut setia Tong Sam Chong yang biasa melakukan perjalanan ke barat, kami pun menyeberang jalan menengok ke arah yang kami yakini adalah arah timur, padahal tidak terlihat matahari bersinar dari arah tersebut. Tapi nyasar adalah prinsip hidup yang harus dijunjung tinggi. Pulang ke kosan yang sudah 5 tahun lebih saya tinggali saja masih sering nyasar, apalagi di sini. Maka setelah khawatir sesat di jalan, kami pun bertanya pada seorang ibu yang memakai masker untuk menutupi wajahnya yang mengarahkan kami untuk naik bis jalur 15 yang terparkir tidak jauh dari tempat pertama kali kami turun. Jadilah kami menyeberangi jalanan dengan mobil-mobil dan motor yang melaju dengan kecepatan aduhai.

     Singkatnya, kami pun tiba dengan selamat di kawasan Malioboro. Yak, dengan muka kucel dan belum cuci muka, serta peralatan lenong yang kami bawa dari Jakarta, masih masih sempat foto-foto di seberang Benteng Vrederburg (betul ga nulisnya? :)) ), saya pun tidak lupa untuk mengabarkan pada Bapak kalau saya sudah tiba di Jogja dan juga janjian dengan Metrika yang sudah berada di Malioboro bersama Demia yang menjemputnya dari stasiun Lempuyangan. Karena.kesempurnaan hanya milik Allah dan kekurangan adalah milik saya dan Bunda Dorce, saya pun membuat Mia berpikir keras mencari letak kami berada. Saya mengatakan bahwa kami berada di Monumen Sebelas Maret padahal kami berada di Monumen Satu Maret.

     Saat bertemu Mia mengatakan bahwa dia sampai mencari di google map letak Monumen Sebelas Maret dan memang setau saya, belum pernah ada monumen supersemar seperti yang dimaksud. Hahahaaa...

     Setelah bertemu dengan Metrika, perjalanan pun dilanjutkan sedangkan Mia langsung pulang karena belum mandi ;D

     Kami berjalan ke arah seberang,entah itu utara atau selatan. Kami sampai di masjid Gedhe. Bukan untuk beribadah, tapi untuk numpang mandi dan ganti baju. Kami sempat menonton anak-anak.SD bermain kasti. Mereka berbicara menggunakan bahasa Jawa and damn I feel like we are in FTV program :))

     Setelah itu kami melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya sarapan soto dengan kuah anta di sebuah tenda di seberang masjid. Kami berjalan dan sampailah kami di keraton. Halaman keraton ramai dengan wisatawan lokal dan mancanegara yang kebanyakan berwajah asia, mungkin China atau Korea. Sayangnya setelah dicari-cari, tidak terlihat ada Lee Yong Dae di antara mereka. Padahal kalau ada mau saya bawa terus malemnya mau saya kecapin terus.dimakan. Mmmm enak *menurut nganaaaa?*

     Untuk masuk ke dalam area keraton dikenai biaya untuk pembelian tiket dan tidak diperbolehkan untuk membawa kamera. Maka kami yang datang dengan tujuan mulia untuk berfoto pun memutuskan untuk duduk-duduk di halaman keraton sambil.mencari spot-spot cantik untuk berfoto. Walaupun tanpa spot cantik pun saya sebenarnya sudah dilahirkan dengan default setting cantik *hoeeekk*.

     Sekitar dua jam kemudian, mbak Rhien datang dan mengajak.kami pulang ke beskem. Terimakasih Tuhan, akhirnya peralatan lenong kami akan segera turun dari pundak. Satu hal yang saya kagum dari mbak Rhien adalah beliau tetap terlihat anggun meskipun berjalan di tengah panas terik dengan suhu sekitar 30°C sambil membawa helm. Resepnya apa mbak Rhien? :)

     Maka setelah naik bis 15, bis yang membawa kami tadi pagi, sampailah kami di depan sebuah rumah berpagar tinggi berwarna hijau. Saya masuk dengan perasaan bahagia. Sesampainya di sebuah pendopo luas dengan foto-foto berbingkai besar di sana-sini, kami langsung naik ke lantai dua. Di atas kami disambut seorang pria berjenggot tipis *duh, jenggot* dengan senyum merekah. Kalian tau siapa beliau? Dialah Rexy Mainaki *krik* :|

     Beliau adalah Pak Penyo. Rasa penasaran saya selama ini terganti dengan emoticon ":O". Tidak usah diceritakan seperti apa Pak Penyo yang sebenarnya, lebih baik datang langsung ke beskem dan dapatkan kejutan selanjutnya. Yang jelas, pak Penyo orangnya lucu dan ramah, seperti orang Jogja kebanyakan.

     Kami kemudian ditunjukkan untuk menempati sebuah kamar di lantai bawah dengan fasilitas ac, tempat tidur King, dan kaca yang hampir memenuhi satu sisi tembok kamar, dan bila membuka pintu, kita akan melihat pagar tinggi yang ditumbuhi rerumputan hijau dan udara yang sejuk. Jadi kalau kita mau bertanya gampang, tinggal membuka pintu dan bertanya pada rumput yang bergoyang.

     Di dalam kamar terdapat sebuah foto seorang laki-laki berambut keriting dengan seorang wanita dengan senyum manis. Mereka adalah pemilik kamar yang kami tempati. Selain foto, terdapat dua buah penghargaan di dalam bingkai panjang. Jadi, kamar siapakah yang kami tempati? Lahaciaaaaaaaaa :p

     Kami menghabiskan waktu siang hingga sore hari duduk sambil ngobrol di ruang lantai dua sambil menikmati hujan. Oh iya, sore hari ada pelangi lho. Melengkung sempurna seperti senyummu <3

     Sore harinya mbak Peppie datang. Kami pun mandi dan bersiap-siap.

     Malamnya, kami diajak berkeliling. Mia dan mbak Rhien, serta Metrika dan Hayu berangkat motor, sedangkan sisanya termasuk saya naik di mobil mbak Peppie.

     Malam itu kami diajak makan di angkringan KR. Lokasinya di kantor koran Kedaulatan Rakyat. Baru kali ini saya makan di angkringan. Ternyata suasananya homy sekali. Duduk lesehan sambil foto-foto dan mata saya tak henti bergerilya. Siapa tau ada "pelengkap" makan malam saya. If you know what I mean :)

     Makan enak, transportasi gratis, dan ditraktir pula. Maka nikmat Tuhan mana yang kau dustakan? Terimakasih traktirannya mbak Rhien :D

Cont~







Thursday, November 22, 2012

Pulang Ke Kotamu (1)

    Kamis, pukul 09.00 pagi saya bangun karena dering panggilan telpon dari Ibu saya di Lampung. Ibu menanyakan persiapan saya hari itu. Saya katakan bahwa semua sudah siap, dan Ibu pun menutup telpon setelah sebelumnya menyuruh saya sarapan.

    That was the day. D-Day. Hari-H. Hari yang saya juga teman-teman saya tunggu dengan dag dig dug setelah berbulan-bulan berencana. Jogjaaaaaa, woooohoooo here we comeeee.....

     Sebenarnya rencana pergi ke Jogja adalah satu rencana yang terlalu nekat. Memang rencana ini sudah dibicarakan pertengahan tahun yang lalu, jadi seharusnya memang tidak ada kata nekat lagi. Tapi hal klasik yang selalu menjadi kendala adalah masalah dana. Keuangan kami di pertengahan bulan memang selalu berada di titik nadir. Dengan gaji sepuluh koma (setelah tanggal sepuluh sudah koma), memang agak susah bagi kami untuk mengatur uang hore-hore di pertengahan bulan. Apalagi harga tiket kereta saat long weekend biasanya lebih kejam dari Firaun. Belum lagi, sampai dua minggu sebelum waktu keberangkatan, kami belum punya tiket dan belum tau apakah kantor kami libur atau tidak.

     Tapi setelah melalui diskusi yang tak pernah ada ujungnya, kami memutuskan untuk pergi ke Jogja. Dan karena tiket kereta ekonomi dari stasiun Senen sudah ludes dan kami buta dengan stasiun lain, maka diputuskanlah kami akan pergi menggunakan bis malam.

     Lagi-lagi kami bingung harus beli tiket di mana. Tapi sebagai karyawan-karyawan yang bekerja di kantor-kantor yang terlalu sering lupa jam kerja karyawannya, kami pun mengikuti saran Fitria yang menyuruh kami naik bis dari Ciledug dan dia yang akan mengurus tiketnya. WOEEETTT??? CILEDUG???? Adoh biyangeeeett mbokdheeee -______-"

     Rencana awal kami akan pergi berlima; saya, Dwi, Windy, Fitria dan mbak Evi. Tapi nama terakhir sangat disayangkan tidak jadi berangkat karena satu dan lain hal.

     Dan sampailah kami pada hari itu. Hari yang sudah kami tunggu-tunggu. Kami dengan tingkat kenekatan kami yang sudah mencapai titik kulminasi 100%.

     Pukul 11.00, Ibu saya kembali menelpon. Menanyakan apakah saya sudah sarapan atau belum dan dilanjutkan dengan omelan puanjaaaangggg sekali saat saya jawab bahwa saya belum sarapan. Dan Ibu bercerita bahwa Bapak baru saja membeli salak pondoh 7 kilo. Kata Bapak, nanti yang 4 kilo biar dibawa adek ke Jogja. Oh, okesip. Bapak perhatian banget. Saya langsung diam, terharu, mimbik-mimbik, dunia abu-abu, gletser mencair, ada UFO lewat, T-Rex berantem, Homo Wajakensis jadi master chef, Jason Mraz menikahi saya, saya hamil dan saya bingung. Terus caranya ngambil salak 4 kilo di Lampung itu gimanaaaaa? Saya harus pulang ke Lampung, ngambil salak, minta sangu,  terus ke Jakarta lagi, terus berangkat ke Jogja. Selo -_-"

     Setelah telpon ditutup, saya pun mencari sisa roti gandum dan susu UHT produksi PT. Ultrajaya yang saya beli malam hari saat pulang kerja, memakannya sambil mantengin live score bulutangkis China Open Super Series. Pukul 12.00 saya mandi dan siap-siap. 15 menit kemudian saya pun siap untuk berangkat.

     Saya dadah dadah ke foto Edi Subaktiar di tembok kamar saya, lalu pergi ke pinggir jalan untuk menunggu angkot 61 jurusan Pasarminggu-Pondok Labu. Dari situ saya berhenti di Balai Rakyat Pasarminggu. Saya pandangi sebentar gelanggang olahraga di seberang jalan yang sedang dalam proses renovasi. Saya ingat kata-kata mbak Susy Susanti di sebuah kesempatan yang mengatakan bahwa,"Kalau tidak ingin ada tawuran pelajar di Indonesia, buatlah gelanggang olahraga dan suruhlah anak-anak muda untuk berolahraga." Mbak Susy, aku bocahmu ;)))

     Metromini 75 yang saya tunggu pun datang. Hanya ada 3 penumpang di dalamnya, 4 dengan saya. Cuaca panas sekali saat itu, untung saja jalanan lengang. Dan hanya membutuhkan waktu +- 30 menit untuk menempuh jarak Pasarminggu - Blok M.

     Setibanya di Blok M, saya kirim sms ke Dwi dan menanyakan posisinya saat itu. Mobilnya ngetem di Mampang, begitu kata Dwi. Saya pun berjalan ke arah jalur metromini yang mengarah ke Ciledug. Sekitar setengah jam kemudian, Dwi datang dengan ransel hitam dan tas kain jinjing yang katanya berisi cemilan. Thank God, Dwi hari itu tidak memakai rok :))

     Cuaca tetap panas. Saya sempat mengecek suhu udara Jakarta di ponsel saya, 33°C. Meskipun udara panas, gerimis rintik-rintik mulai turun. Kami berdua segera naik ke metromini 69 dan mengambil tempat duduk di kursi belakang. Pukul 13.00 waktu itu. Perintah dari Fitria Suwariyo adalah kami semua harus stand by pukul 15:30 di agen bis yang entah di mana tempatnya itu. 15:30? Oke, I know it will be "molor" when you make an appoinment with Fitria.

     Metromini yang kami tumpangi pun mulai berjalan. Syukurlah jalanan hari itu tidak seperti biasanya, lengang dan lancar. Tapi Ciledug sepertinya adalah nama sebuah planet baru di luar galaksi bima sakti yang jaraknya 93 million miles from the sun, 240 thousand miles from the moon. Adoh'e ngaluk-aluk, hora umum. Dan saya, pun Dwi, tidak hapal jalanan di sana. Perintah dari Fitria yang selanjutnya adalah kami harus berhenti di rumah sakit Sari Asih yang entah di mana tempatnya. Sempat terjadi insiden diturunkan dari bis dan dioper ke bis lain di tengah jalan. Tapi akhirnya kami tiba dengan selamat di depan rumah sakit Sari Asih.

     Waktu masih menunjukkan pukul dua siang. Karena ada satu perintah lagi dari Fitria untuk membeli sesuatu di apotik, maka kami pun melangkah ke dalam rumah sakit. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari toilet. Peralatan lenong kami yang sangat banyak berhasil membuat banyak pasang mata tertuju pada kami berdua. Mungkin mereka pikir kami salah masuk rumah sakit, seharusnya masuk rumah sakit jiwa :/

     Setelah tugas mulia di toilet selesai, kami beristirahat di ruang tunggu yang kebetulan di depannya adalah apotik dengan mbak penjaga yang mukanya juteknya melebihi saya. Dan sesuatu yang akan kami beli pun ternyata tidak ada. Mungkin diumpetin mbaknya. Yaksip.

     Karena waktu keberangkatan masih lama dan dua anggota girlband lain masih belum tampak bayangannya, maka kami berjalan ke depan rumah sakit mencari sesuatu yang bisa dimasukkan ke dalam mulut. Dan akhirnya kami berhenti di depan gerobak ketoprak untuk memasukkan gerobak ke dalam mulut -_____-

     Kami pun makan sambil ngobrol ngutara nyelatan alias ngalor ngidul . Setelah selesai makan kami pun membayar. Karena kalau tidak membayar kami takut digebukin abangnya. Kami masih duduk di sana sambil menunggu Windy yang katanya sudah setengah perjalanan. Sampai akhirnya tukang ketoprak naik metromini dan meninggalkan kami berdua bengong dengan segala pertanyaan. Mau kemana si abang ini? Jangan-jangan kami dijebak? Jangan-jangan kami mau dijadikan tukang ketoprak? Atau jangan-jangan abang ini adalah James Bond yang menayamar? Atau dia agen NASA? :O

     Well, you need some random imaginations to think like this.

     Sekitar pukul 15:30 Windy datang dengan barang bawaan yang lebih We O We lagi. Ransel, tas kecil dan bantal --". Bahkan beberapa malam sebelumnya dia bilang mau bawa selimut. Demi Neptunus yang Agung, selimut? Kenapa tidak sekalian bawa kasur, guling, tenda, lampu petromak, panci, kompor parafin dan marsmellow. Lalu membuat tenda dan api unggun kemudian di kejar singa laut? Oh Spongebob...

     Saat itu menurut kami, Fitria tidak akan mungkin segera datang. Jadi kami bertiga mnyeberang dan dan berhenti di sebuah pusat perbelanjaan bernama Ra*m*ayana (maaf disensor). Windy membeli makan di warungnya pak Donald dan saya serta Dwi menunggu di depan Ra*m*a*yana (maaf sensor lagi).

     Setelah Windy kembali, obrolan ngutara nyelatan pun berlanjut. Sampai akhirnya dua buah bis berlabel "Sumber Alam" datang. Tiket kami belum datang. Kami panik. Cah panik ~

     Sekitar pukul 15:50 Fitria datang membawa kembang berkarang mawar merah dan melati putih darah dan suci *macak Chairil Anwar*. Fitri datang diantar Bapaknya. Pak Suwariyo dengan senyum ramah dari balik kacamatanya. Saking ramahnya, kami hampir saja bersalaman 3 kali.

     Pak Suwariyo mengantar kami sampai ke dalam bis dan mencarikan kursi. Setelah menempati kursi masing-masing, Bapak pun pulang. Kami pun memulai semua dengan gojekan. Gojekan yang kami maksud bukanlah bercanda pada umumnya, tapi eyel-eyelan kenceng-kencengan suara. Tapi ngeyel kalo ga foto pun kurang asik ya sepertinya :D

     Bis pun berangkat. Rasa dag dig dug bercampur rasa antusias diaduk menjadi satu.  Rasanya seperti mau ketemuan sama Edi Subaktiar <3

     Di bis, kami tidak terlalu banyak mengobrol. Hanya sesekali kalimat-kalimat nyolot diakhiri dengan ngeyel terjadi.

     Bis yang kami tumpangi adalah bis non-ac dengan tarif yang lumayan murah yaitu 90.000. Bisnya jelek tapi tempat duduknya nyaman dan tidak membuat lutut ditekuk kesana-kemari. Sehingga perjalanan kami pun terasa nyaman dan lebih banyak dihabiskan dengan tidur. Pengecualiannya adalah Dwi yang tetap terlihat segar bugar.

Cont....

    
    

    




Monday, November 12, 2012

Love for a child

There's a picture on my kitchen wall

Looks like Jesus and his friends involved

There's a party getting starting in the yard

There's a couple getting steamy in the card

Was I too young to see this with my eyes?

And by the pool that night apparently

The chemical weren't  mixed properly

You hit your head and then forgot your name

And now you woke up at bottom by the drain

And now your altitude and memory's ashamed

reff:

What about taking this

Empty cup and filling it up

With a little bit more of innocense

I haven't had enough is probably because when you're young

It's okay to be easily ignore

I'd like to believe it was all about love for a child

When the house was left in shamble

Who was there to handle all the broken bits a glass

Was it Mom who put my Dad out on his ass or the other way around

Well I'm far too old to care about that now

What about taking this

Empty cup and filling it up with a little bit more of innocense

I haven't had enough it's probably because when you're young

It's okay to be easily ignore

I'd like to believe it was all about love for a child

It's kinda nice to work the floor

Since the divorce I've been enjoying both my Chrismastes and my birthday cakes

And taking drugs and making love at far too young an age

And they never start to check my grades

What a fool I've been to start complaining now

What about taking this

Empty cup and filling it up

With a little bit more of innocense

I haven't had enough it's probably beause when you're young

It's okay to be easily ignore

I'd like to believe it was all about love for a child

It's all about LOVE...

a song by my sexy Jason Mraz