Sunday, May 19, 2013

Ketidakmengertian

Hari ini saya mau nulis tentang hasil "meeting" saya dengan kak Fitria kemarin malem. Kemaren saya dan Fitria pergi ke Gor Asia - Afrika untuk "ibadah" di Sirnas Jakarta Open. Lumayan kami dapet obat mata yang lumayan menyegarkan. Fitria jatuh cinta sama dedek Abu Bakar, dan saya gemes banget sama Yantoni yang semok itu *ciwel pahanya*.

Malemnya, setelah acara habis, kami yang males banget pulang dan masih nggak ikhlas sama harga french fries + sosis yang bisa buat beli tiket kelas 2 Indonesia Open, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan malam di seputaran Blok M (tapi beneran itu harga sosis bisa buat DP-in rumah).

Sebagai orang yang nggak pernah punya pilihan lain untuk nongkrong selain Blok M, maka kami memilih 7-11 untuk sekedar ngobrol *macak anak gaul sepel*.

Setelah dapet tempat duduk di pojokan yang adem dan sepi, kami memulai rapat. Diawali dengan obrolan ringan tentang saya yang bulan depan akan go internesyenel, kantor baru Fitria, dan akhirnya kami tiba pada topik utama "rapat" malam itu. Yak, jodo --"

Jadi gini, kita semua sering melihat atau membaca keluhan pria-pria di twitter, facebook, dan media sosial lainnya tentang ketidakmengertian mereka pada perempuan. Ketidakmengertian mereka itu pada intinya mengatakan bahwa perempuan (atau dalam hal curhatan mereka adalah pacarnya) adalah makhluk yang sangat manja dan ribet. Contoh keluhan yang biasa di-twit-kan adalah seperti :

1. "Aku gendut nggak? | nggak | ah bohong kamu, gendut kan? | iya | iihhh jahat ngatain aku gendut | *bunuh diri*"

2. "Turunin aku di sini | jangan gitu dong | pokoknya turunin aku di sini | yaudah turun | oohhh jadi kamu tega nurunin aku di sini? | *ngemil baygon*"

3. "Mau makan di mana, sayang? | terserah | yaudah makan pizza aja ya? | kamu mau bikin aku gendut? | ....

... dan masih banyak contoh keluhan pria-pria di sosial media yang menggambarkan betapa menderitanya mereka bersama pacarnya yang ribet, manja, dan dandannya lama.

Mungkin kalau saya melihat langsung perempuan yang seperti conton di atas tadi, pasti saya udah pengen masukin perempuan itu ke kaleng sarden bareng ikan tuna dari Islandia. Dan saya (juga Fitria tentunya) tidak ingin menjadi salaj satu dari populasi perempuan seperti itu.

Tapi pada kenyataannya adalah jenis makhluk susah dimengerti itulah yang disukai laki-laki. Jarang sekali ada pria yang memilih perempuan yang bisa angkat galon sendiri dari warung dan mengangkatnya ke atas dispenser, juga wanita yang mau ngangkat tangga sendiri untuk memasang lampu yang mati, atau perempuan dandan dengan make up seadanya. Sangat jarang sekali, mungkin hanya ada dalam skala perbandingan 57 : 1. Jadi haruskah kami makhluk penganut paham angkat galon sendiri menunggu 1 dari 57 orang tersebut? Apakah mereka takut kalah superior? Atau apa? Entahlah.

Dalam masalah seperti ini, tentunya ini adalah bagian dari curhatan kami kaum yang kerjaannya hanya bisa mengagumi tanpa bisa mendapatkan. Kalau kata orang Jawa, "isa nyawang ra isa nyanding".

Kadang saya melihat perempuan yang -maaf- kualitas wajahnya juga rata-rata air bisa menggandeng pria yang seperti Dirly Idol, kemudian ganti lagi dengan yang seperti Sutha AFI, bulan depan pindah lagi dengan yang mirip Colton Dixon. Sungguh ini adil atau tidak saya kurang tau.

Kembali pada pria yang tidak mengerti wanita tadi. Menurut saya prek moment adalah ketika laki-laki berkata tidak mengerti wanita seperti yang tersebut di atas tapi masih juga dipacari. "Namanya juga cinta", jelas itu alasan yang paling sering dikeluarkan. Bisa diterima bila alasannya adalah cinta. Tapi kalau cinta kenapa harus mengeluh. Kalau memang cinta dan mau menerima, ya sudah terima, jangan mengeluh dengan keribetan dan kemanjaan pacarnya. Itu hanya akan membuat kaum single and ready to mingle seperti kami bertanya-tanya.

Tapi biarlah semua itu menjadi misteri sampai ada pria yang mau menjadikan wanita yang hobi ngangkat galon dan masang lampu sendiri menjadi bagian dari dirinya.

Monday, May 13, 2013

La, la, da, da, da, da

Hanya dengan melihat judul dari postingan ini saja saya langsung pengen ketawa ngakak.

Jadi, judul postingan ini adalah intro dari sebuah lagu milik Jason Mraz berjudul What Mana Say. Menurut saya (dan mungkin bagi hampir semua Mraz' fans) lagu ini memiliki kelucuan tingkat dewa api.

Entah kenapa setiap mendengar lagu, apalagi dibarengi dengan menonton video Jason yang sedang menyanyikan lagu ini, akan membuat saya sangat ingin berteriak "ASUK" tapi kemudian terbang tinggi ke langit ke tujuh. Saya nggak tau alasannya kenapa. Tapi ya gitu lah pokoknya. Mungkin bagi yang tidak terlalu suka Jason Mraz atau biasa saja pada Jason, akan bereaksi, "hah? di mana lucunya?". Tapi ya itu, saya juga nggak tau kenapa lagu ini bisa lucu. Jadi ini sudah saya copy-kan lirik lagu "ASUK" tadi. Check It Out :

La, la, da, da, da, da

Whatever mama say you best do it

Whatever mama say you best do it

Whatever mama say

You better listen to your mama

Wash your face, use some soap

Make your bed, fold your clothes

Clean your dishes, chew your food

Don't talk back and don't be rude

Take your shoes off at the door

Don't track no mud along that floor

Don't forget to take the garbage out

Don't want no excuses anymore

Call your sister, cut the grass

Think you're smart? Not so fast

Take your fingers off the remote control

Because mama's watching that

Do the dishes, feed the dog

Put out the cat and praise the Lord

It wouldn't hurt you to go to church

Any once in awhile, just get going

What mama say is what I'm gonna do

Mama said that I should settle down with a girl like you

I'm gonna work real hard, it's what I wanna do

I'm gonna give you all my lovin' and make you a mama too

Baby, that's what I'm gonna do, I'm gonna make you a mama too

La, la, da, da, da, da

Whatever mama say you best do

Whatever mama say you best do it

Whatever mama say

You better listen to your mama

I won't lean back in my chair

Will not run down the stairs

And in case of emergency

I'll wear some fresh underwear

I'll keep it callin' when it's in need of repair

I'm gonna get myself a job but I won't cut my hair

"I beg your pardon?", That's what my mama say

"Boy, don't get smart and don't talk to me that way

Who do you think you are, boy? You better behave"

She said, "I gave you life, child, I can take it away"

What mama say is what I'm gonna do

Mama said, "I should be with a girl like you"

I'm gonna work real hard, it's what I wanna do

I'm gonna give you all my lovin' and make you a mama too

Sugar, that's what I'm gonna do, I'm gonna make you a mama too

That's what I'm gonna do, I'm gonna make you a mama too

La, la, da, da, da, da

Whatever mama say you best do

Whatever mama say you best do it

Whatever mama say

You better listen to your mama

Saturday, May 11, 2013

Chocomole, Chocolate Mousse Dari Surga

Awalnya saya tahu makanan ini saat menonton video wawancara Jason Mraz dengan sebuah radio di youtube. Jason Mraz is a vegan. Saya mengetahui hal itu. Dan saya pun langsung tertarik untuk mencari resep Chocomole.

Chocomole is sugar free chocolate mousse. Dan non-lemak hewani tentunya. And raw pudding, of course.

Beberapa bulan terakhir memang saya sedang sangat menggemari raw food. Mulai dari konsumsi greensmoothie hampir setiap hari, memperbanyak sayur mentah saat makan, dan sudah beberapa bulan saya tidak mengkonsumsi susu sapi.

Seperti yang pernah saya katakan, saya bukan vegan. Pun belum ada niat menjadi vegan. Saya hanya ingin menjalani dengan lebih sehat. Sayuran mentah (dalam hal ini adalah sayuran berdaun), menurut yang saya baca dari banyak sumber, adalah jenis sumber makanan yang bisa menangkal banyak racun dari lingkungan sekitar. Terutama bagi orang-orang yang tinggal di Jakarta yang penuh dengan polusi, salah satu cara paling efisien untuk menjaga kekebalan tubuh dari racun polusi adalah dengan banyak-banyak mengkonsumsi sayuran, terutama yang mentah. Karena kandungan nutrisi pada sayuran mentah masih utuh dan belum berkurang karena proses memasak.

Nah, kembali ke Chocomole...

2 hari yang lalu, saya tidur sore hari lumayan lama. Di dalam tidur saya bermimpi dikirimi satu karung besar buah alpukat yang merupakan buah kesukaan saya. Kalau diizinkan oleh alam, saya ingin melakukan kudeta menggeser posisi durian sebagai raja dan menggantinya dengan alpukat.

Ketika bangun dari tidur, saya langsung kepikiran tentang alpukat. Sampai jam 1 malam saya tidak bisa tidur memikirkan raja buah di hati saya ini.

Semua Mraz' fans pasti akan memiliki pikiran yang sama dengan saya saat diingatkan tentang alpukat. Iya, saat makan atau melihat alpukat, saya pasti ingat Jason Mraz.

Maka tengah malam itu, saya ingat tentang Chocomole, yang notabene berbahan dasar alpukat. Maka saya cari tutorial pembuatan Chocomole di youtube dan beberapa resepnya di google. Beberapa resep yang saya dapat di youtube dan google adalah resep modifikasi.

Keesokan harinya (kemarin), sepulang kerja, saya pergi ke Pasar Minggu untuk membeli alpukat. Dengan alpukat di tangan, saya siap membuat the chocolate pudding from heaven, Chocomole.

Untuk membuat Chocomole, yang harus disiapkan adalah :

1. Satu buah alpukat dengan ukuran                 besar.

2. Fresh coconut milk
Santan segar yang kita gunakan di sini berasal dari daging kelapa muda dan airnya yang kita blend sehingga berbentuk seperti santan. Pada resep asli sebenarnya digunakan almond milk, tapi kan mahal ya, jadi untuk penghematan kita bisa gunakan santan kelapa muda. Di resepnya yang saya baca dari artikel wawancara Jason dengan CNN, Jason Mraz tidak menggunakan ini.

3. Cocoa Powder
Pada resep asli, biasanya digunakan raw organic cocoa powder, tapi sekali lagi, selain agak susah mencarinya, biasanya agak mahal. Jadi bisa menggunakan cocoa powder biasa.

4. Perasa vanilla

5. Dates

Cara membuatnya adalah blend semua bahan menjadi satu sampai lembut. Sesuaikan santan yang digunakan, jangan terlalu banyak karena akan membuatnya menjadi terlalu cair. Setelah lembut, bisa langsung dinikmati.

Kenapa saya katakan Chocomole adalah cokelat mousse dari surga? Bukan karena Jason Mraz. Bukan. Lidah saya sudah merasakan secara langsung kenikmatannya.

Chocomole memang tidak terlalu manis, karena rasa manisnya hanya berasal dari santan kelapa muda dan alpukat (mungkin di resep aslinya akan lebih tidak manis lagi). Saya dulu juga suka makanan manis, tapi sejak berbulan-bulan lalu saya membiasakan diri untuk tidak terbiasa dengan makanan atau minuman manis. Dan Chocomole sangat cocok untuk lidah saya. Dan sekali lagi, this is raw food.

Sekarang saatnya teman-teman mencoba chocolate mousse sehat dan sangat mudah dibuat ini.

Keep RAWk, God bless avocado grower, thank you Jason...

Monday, May 6, 2013

Saatnya Menjadi Bijak

Semalam, skuad Indonesia untuk piala Sudirman diumumkan oleh PBSI. Sebanyak 19 pemain pelatnas tercatat akan memperkuat pasukan Indonesia dalam ajang beregu campuran antar negara di dunia tersebut. Nama-nama pemain muda masuk dalam deretan pemain tunggal maupun ganda.

Tommy Sugiarto, Hayom Rumbaka, Lindaweni Fanetri, Aprilia Yuswandari, dan Bellaetrix Manuputy mengisi slot untuk tunggal putra dan putri. Tontowi Ahmad, Muhamad Rijal, Fran Kurniawan Teng, Liliyana Natsir serta Debby Susanto adalah para pemain utama untuk ganda campuran. Hendra Setiawan, Mohamad Ahsan, Angga Pratama, Ryan Agung, Nitya Krishinda, Meiliana Jauhari, Greysia Polii, Gebby Ristiyani Imawan, dan Tiara Rosalia akan memperkuat sektor ganda putra dan putri.

Kenapa tidak ada nama Rizky Amelia dan Pia Zebadiah? Mengapa tidak ada Adrianti Firdasari? Simon Santoso? Sony Dwi Kuncoro? Itu adalah pertanyaan yang paling banyak dilontarkan oleh banyak pecinta bulutangkis di Indonesia.

Pada awalnya, saya pun agak sedikit heran dengan tidak adanya pemain-pemain dengan peringkat tinggi seperti Sony DK dan Pia/Rizky. Tapi akhirnya, kita semua harus menerima keputusan PBSI yang lebih memiliki wewenang dan berkompeten dalam hal ini.

SDK serta Firdasari adalah pemain berpengalaman dan biasa diandalkan di turnamen beregu selama ini. Tapi cedera yang mereka alami mengakibatkan dua atlet senior andalan Indonesia ini harus absen dalam pesta bulutangkis dunia ini. Selain mereka berdua, Anneke Feinya Agustin juga harus absen karena dibekap cedera. Simon Santoso? Kita semua tahu, Simon yang tahun lalu berhasil menjadi juara di Indonesia Open Super Series Premier, sedang tidak dalam performa terbaiknya setelah absen beberapa bulan karena terkena penyakit gondok saat mengikuti tur Eropa akhir tahun lalu. Turnamen sekelas Sudirman Cup adalah turnamen bergengsi yang tidak hanya membutuhkan pengalaman dan mental atlet untuk bertanding, tapi juga kesiapan fisik. Tidak mungkin PBSI gegabah memasukkan nama Sony Dwi Kuncoro meskipun dia adalah tunggal putra dengan ranking tertinggi di Indonesia, karena keadaannya yang masih dibekap cedera. Pun dengan Simon Santoso yang dari 3 turnamen terakhir yang diikuti, belum berhasil mengembalikan kepercayaan dirinya.

Lalu bagaimana dengan Pia Zebadiah dan Rizky Amelia yang notabene adalah ganda putri dengan peringkat tertinggi? Yah, banyak orang yang menyayangkan tidak dipanggilnya Pia/Rizky untuk mengisi skuad piala Sudirman. Tapi itulah konsekuensi atas pilihan yang mereka pilih. Pilihan untuk tetap berada di luar pelatnas PBSI.

PBSI punya peraturan dan wewenang dalam hal ini. Dan hanya yang terpilih lah yang bisa berada di dalam sana. Pia/Rizky adalah yang terpilih, tapi mereka memilih untuk tidak mengambil pilihan menjadi yang terpilih. Itu konsekuensi yang harus diambil.

Sebagai pecinta bulutangkis, ada baiknya kita mulai belajar untuk menjadi orang yang berbesar hati dan tetap mendukung apa pun keputusan yang dikeluarkan oleh PBSI.

Semua orang boleh berpendapat, semua boleh punya kritik dan ketidakpuasan, tapi jangan menjadi seolah-olah lebih pintar dari pembuat keputusan. Karena nyatanya kita, sebagai pecinta bulutangkis, memang tidak lebih tahu dari PBSI.

Saya sempat heran saat tadi pagi saya iseng membaca tab mention di twitter milik salah satu staf PBSI, Bambang Rudyanto. Banyak sekali anak-anak *yang menurut dugaan saya adalah anak-anak yang masih di bawah umur* protes tentang skuad Indonesia ini. Banyak yang kemudian malah terlihat sok tahu dan seperti merasa lebih kompeten dalam hal pemilihan pemain. Padahal pihak PBSI-lah yang lebih tahu keadaan fisik dan mental pemain.

Jadi, kenapa kita tidak mencoba bersikap lebih bijaksana. Sebagai pecinta bulutangkis, tugas kita adalah tetap mendukung apa pun keputusan yang diambil. Mendukung dan mendoakan, itulah sikap bijak yang harus kita ambil.

Sekarang mari kita sama-sama berdoa untuk kesuksesan tim bulutangkis Indonesia di Sudirman Cup. Sudah saatnya piala yang dibuat di Indonesia itu kembali pulang ke Indonesia. Amin.

Friday, May 3, 2013

93 Million Miles

Flashback Friday...

"In life you're gonna go far, if you do it right you'll love where you are." - Jason Mraz

Saya duduk di sini, di atas kursi kantor menghadap meja merasakan kantor yang sepi di tinggal penghuninya makan siang. Hanya ada saya dan seorang sekuriti serta seorang office boy yang mondar-mandir gelisah menunggu pesanan makanan yang tak kunjung datang.

Ditemani lagu 93 Million Miles milik Jason Mraz yang saya putar berulang-ulang, saya mulai menuliskan ini.

Saya lahir di Lampung, di sebuah tempat terpencil di daerah Lampung bagian selatan. Diapit gunung Pesawaran, berteman pantai-pantai yang menghidupi nelayan. Daerah tempat lahir dan tempat saya menghabiskan masa kecil hingga usia 18 tahun adalah tempat berkumpulnya para pendatang dari daerah Jawa, serta beberapa keluarga dari Sumatra Utara, Maluku, Padang dan beberapa yang lain.

Hampir 6 tahun yang lalu, saya memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahiran saya untuk melanjutkan kuliah di Jakarta, setelah 3 tahun sebelumnya juga saya habiskan masa SMA di perantauan. Bukan sebenar-benarnya perantauan memang, seminggu sekali saya pulang ke rumah dan kembali ke asrama tempat saya tinggal pada Minggu sore atau Senin pagi.

Sepi, iya memang sepi. Berkali-kali saya tulis di blog saya, jauh dari rumah dan keluarga adalah hal yang paling memuakkan. Saat orang lain bercengkerama di balik selimut kala hujan bersama keluarga masing-masing, saya sibuk bercakap-cakap dengan foto-foto serta tulisan-tulisan di tembok kamar saya yang sepi. Tapi itulah hidup. Kita ditakdirkan untuk berjalan dan hanya akan berhenti saat Sang Maha Cahaya memutuskan kita harus berhenti.

Saya selalu bersyukur bahwa saya lahir dari rahim Ibu saya dan mengalir darah Bapak saya yang juga seorang perantauan. Bapak saya adalah transmigran dari Jawa Tengah yang menghabiskan masa mudanya untuk membuka hutan membuat lahan.

Sepi. Sekali lagi untuk kesekian kalinya, memang sepi. Tapi saya bersyukur diberi kesempatan melihat dunia lebih luas lagi. Saya membawa wajah keras dan pemberani milik Bapak kemana pun saya pergi. Saya membawa serta senyum dan sorot mata lembut Ibu kemana pun saya melangkah.

"Sometimes it may seem dark, the absence of the light is a necessary part." - Jason Mraz

Lagu 93 Million Miles ini mengingatkan saya pada aroma dedaunan di pagi hari, juga suara buih di pantai yang selalu kami kunjungi saat libur Idul Fitri.

Walaupun jauh, saya tetap percaya bahwa saya membawa rumah saya ke mana pun saya pergi. Saat rindu pada rumah, saya tinggal memejamkan mata, menengok dalam ke dasar hati saya, dan saya akan menemukan senyum keluarga saya di sana.

Thursday, May 2, 2013

Happy Birthday? Yes, It Is...

     Entah apa yang harus saya lakukan hari ini. Saat menulis ini, saya baru saja lepas dari kungkungan macetnya ibukota yang selalu memaksa semua warga kota untuk menjadi sahabatnya. Everything in this universe needs friend. Seperti bumi yang bersahabat dengan bulan, ombak dengan lautan, Jakarta dengan kemacetan, serta banyak perumpamaan lain yang tidak bisa ditulis satu-persatu di sini. Terimakasih kepada gravitasi yang tetap menempatkan saya di bumi ini, berpijak dan melangkah di atas tanah yang juga dipijaki oleh banyak makhluk lain. Salah satunya adalah seorang perempuan muda yang selalu menjadi alasan saya berterimakasih pada gravitasi.

     5 tahun yang lalu, tahun 2008, belum genap satu tahun saya menginjakkan kaki di tanah ini. Tidak banyak teman yang saya miliki, tidak banyak orang yang bisa saya ajak bicara. Astrologi yang telah mengikuti saya sejak lahir, memberikan takdir kepada saya untuk bertemu perempuan ini. Dan saya mulai bisa bercerita...

     The girl with the broadest shoulder. Itulah dia. Seorang perempuan yang 23 tahun lalu datang ke atas bumi ini dan dibaringkan oleh gravitasi bersama tangisan bahagia yang keluar dari bibir kecilnya. Perempuan yang 23 tahun lalu dianugerahi sebuah nama oleh orang tuanya, Fitria Kurnia Sari. Pemberian yang suci.

     Saya sendiri tidak tahu apa yang membuat saya menjadikannya sahabat saya. Mother Nature sets nature setting. She is one of that nature setting. I've spent much of my time to laugh with her, tell the random things, talk about the 'naked' things, and many many much others. Dia salah satu orang yang membuat saya merasa punya teman dekat (selain blog ini).

     Hari ini, 3 Mei 2013, perempuan muda dengan pundak lebar itu tumbuh menjadi wanita muda dengan segala harapan dan mimpinya. Berjalan penuh kepastian menuju sesuatu bernama masa depan.

     Jason Mraz said that friendship is one mind in two bodies. Yes it's true. At least I think that it's true.

     Happy birthday, my dearest lady. Let's do the stupid things while we are young, something that will make us smile about when we grow old and just can sit down on our lazy chair. Keep healthy, keep honest, keep happy and don't let your mind stops you from havin' a good time.

     Thank you for being my dearest friend, and thank you for shining your light. I hate the way I love this friendship, dear my sister in my mind. Sister by choice.

    Happy Birthday :*







*roger...roger...ganti*

Monday, April 8, 2013

I Hate Haters

     Selalu ada 'haters' di setiap pertandingan sepakbola. Itu rumus wajib yang seakan-akan tidak bisa dipisahkan dari sebuah pertandingan. Haters tetaplah haters. Mereka selalu hadir setelah pertandingan usai. Dan kehadiran mereka selalu membuat saat-saat setelah pertandingan sepakbola menjadi saat yang tidak nyaman.

     Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu ketika terjadi pertandingan lanjutan Liga Champion antara AC Milan kontra Barcelona. Pertandingan leg pertama yang digelar di San Siro, Milan, berhasil dimenangkan oleh AC Milan. Tebak apa yang terjadi? Ledekan berbau terjadi di linimasa twitter saya, bukan dari para Milanisti, melainkan dari beberapa orang yang saya tahu adalah pendukung fanatik klub Premier League, Manchester United. Kalau saja yang melayangkan hujatan tersebut adalah pendukung Milan, akan lain ceritanya dan semua pun akan maklum. Namun ketika itu datang dari pendukung klub yang tidak ada hubungannya sama sekali dalam pertandingan, apakah tidak aneh?

     Bukan hanya itu, pagi ini, linimasa saya kembali dihiasi dengan segala hal-hal menyebalkan berupa hujatan berbau ledekan kepada MU yang dini hari tadi kalah dalam derby melawan Manchester City. Kali ini oknum yang merusak dan mengotori lini masa adalah beberapa orang yang katanya die hard fans AC Milan. Oke, ini lingkaran setan yang tak mungkin berujung. Selalu ada haters yang merusak keindahan persaingan dalam sepakbola.

     Hal terkonyol yang terjadi pada suporter sepakbola fanatik di Indonesia adalah mereka rela beradu urat bahkan rela memutus pertemanan demi membela klub bola favorit mereka yang sebenarnya berada ribuan mil jauhnya dari kepulauan Indonesia. Ini benar-benar terjadi pada saya yang notabene bukanlah penggemar tim sepakbola manapun. Satu-satunya tim sepakbola di hati saya adalah timnas Indonesia, pun akhir-akhir saya tidak berani menyaksikan pertandingan timnas garuda karena beberapa alasan.

     Konyol!!! Mungkin itu kata paling tepat untuk menggambarkan perilaku 'beberapa' penggemar tim sepakbola luar negeri di Indonesia. Love is blind memang benar adanya di sini. Sekali kita cinta pada sesuatu, maka yang lain terlihat buruk dan tak pantas untuk dilihat. Saya katakan beberapa, karena saya yakin masih banyak penggemar tim sepakbola luar negeri di Indonesia  yang bijak dalam bersikap.

     Beberapa waktu lalu, ketika terjadi pertandingan terbesar di dunia antara Barcelona melawan Real Madrid, sempat terjadi sebuah kekonyolan yang sebenarnya sangat memalukan. Penggemar dari kedua klub yang kala itu menyaksikan pertandingan dalam satu lokasi, terlibat adu fisik yang diawali oleh aksi saling ledek. Penting.

     Saat itu saya menulis di twitter, "kalian selo berantem karena klub bola negara lain, itu lho Tommy Sugiarto masuk final Jerman Open. Negaramu Spanyol po?". Kemudian beberapa orang me-retweet twit saya, dan muncullah sebuah tanggapan dari seorang yang saya ketahui adalah penggemar fanatik klub bola EPL. Dia memang tidak menyebut nama saya secara langsung, namun dari aksinya yang langsung meng-unfollow saya, saya tahu itu untuk saya. Dia mengatakan bahwa orang yang tidak menonton bulutangkis bukan berarti tidak nasionalis, dan orang yang sok nasionalis di twitter sebenarnya hanya bisa sekedar me-retweet hal-hal tentang bulutangkis. Oke, ini makin konyol. Dan saya pun merasa begitu konyol dengan menuliskan hal ini di sini.

     Saya masih tertawa sampai sekarang, hanya karena sangat cinta pada sebuah tim sepakbola luar negeri yang berada jauh di antah berantah, kemudian rela beradu otot dan saling menjelekkan orang lain. Oke, haters, you guys are fcking 'awesome'.

     Seorang teman pernah berkata, kalau masalahnya selera, kenapa harus versus? Sebagai orang-orang yang "pintar", sudah seharusnya lebih bijak dalam bertindak.

     Yah, begitulah...