Tuesday, June 18, 2013

The Story of #NgIstora (part 2)

     Sambil input bill voucher taxi, mari kita melanjutkan cerita yang tertunda ini.

     Sebelum acara besar Djarum Indonesia Open Super Series Premier digelar, saya dan Pipit udah duluan nyolong start dateng ke Istora bersama dengan orang-orang lain yang juga terlalu selo seperti kami, seperti yang saya ceritakan di dua postingan sebelum ini. Indonesia Open kali ini adalah pertama kalinya di dunia, sebuah gelaran Super Series diadakan selama 7 hari penuh. Saya sendiri datang pada hari keempat atau babak kedua, pada hari Kamis. Saya pikir, di babak kedua masih banyak pemain top dunia yang akan saya saksikan. Tapi ternyata Chen Long harus bobok manis lebih cepat karena dikalahkan Tommy Sugiarto di babak pertama, Wang Zhengming yang kalah rubber game dari Lee Chong Wei dan Jan O Jorgensen harus pulang karena dikalahkan pemain non-unggulan asal Jepang, Kazumasa Sakai, yang pada akhirnya bisa mencapai perempat final, juga Taufik Hidayat yang benar-benar menyelesaikan akhir dari karirnya di babak pertama setelah takluk dari pemain India.

   Hari itu, pagi sekali saya berangkat ke Blok M. Iya, harusnya saya bisa langsung ke Senayan dengan naik Transjakarta. Tapi karena saya janjian dengan Dwi, yang rumahnya di negeri Abu Nawas, dan kalo mau ke Jakarta mesti naik buroq yang kecepatannya menggunakan ukuran tahun cahaya biar ga kena macet, jadilah saya pergi ke Blok M dulu. Sekitar jam 7 saya tiba di terminal Blok M. Keadaan di basement sepi, hanya ada beberapa orang duduk di kursi tunggu yang berjejer di dekat loket bis Transjakarta. Dan sialnya, saya dapat tempat duduk di sebelah bapak-bapak yang baunyaaaaaaaa alamak :|

     Setelah satu jam berdiskusi lewat sms, akhirnya Dwi memutuskan untuk turun dari bis dan naik kopaja ac yang lewat di jalur Transjakarta agar lebih cepat sampai ke Senayan. Saya pun langsung berangkat ke Istora yang bila kita naik Transjakarta dari terminal Blok M, hanya perlu waktu tidak sampai 10 menit.

     Saya sampai di Istora dengan tersenyum bahagia sambil menghirup aroma Istora yang sangat lekat di kepala.

     Pertandingan dimulai pukul 10:00. Sebelumnya diperdengarkan BWF anthem yang bikin merinding itu, kemudian soundtrack Indonesia Open 2013 yang sampai terbawa mimpi 2 malam ini.

     Pertandingan pertama adalah antara Rusia, Ivan Sozonov serta pasangan jerapahnya, Vladimir Ivanov melawan pasangan Inggris di court 3, di court 2 Ashwini/Kona vs Mateusak/Zieba, dan kakak Boonsak iwel-iwelnya akuh melawan idolanya Dwi, Sho Sasaki di court 1. Saya fokus pada celananya kakak Boonsak yang kegedean dan digulung di bagian perut serta muka kalemnya yang menggemaskan. Sedangkan Dwi nggak ngedip liat celananya Sasaki yang ketat dan betis serta pahanya yang kayak gedebong pisang. Saya tau, Dwi pasti jatuh cinta pada pandangan pertama, karena saat baru datang kami sempat bertemu tapi Sasaki cuek, mungkin karena ada saya. Kalo nggak pasti mereka udah pelukan mesra XD

     Pertandingan dimenangkan oleh kak Boonsak iwel-iwel. Saya ga terlalu fokus pada pertandingan lain, sampai pertandingan di court 1 mempertandingkan antara Alvent Yulianto/Markis Kido melawan pasangan andalan Malaysia yang akhir-akhir ini nggak bisa diandalkan, Koo/Tan. Sebenarnya kasian liat mukanya Tan yang memelas gitu, dan badan mereka sebenarnya minta dipeluk banget, tapi salah siapa mereka lahir di negara ono. Walaupun orang nggak bisa milih untuk lahir di mana, tapi kalo mereka tetep aja salah (--,)

     Pertandingan lain yang seru adalah antara Hayom Rumbaka melawan Takuma Ueda yang juga iwel-iwelnya akoh. Sepanjang pertandingan, saya dan Dwi tidak bisa mengedipkan mata melihat betapa imutnya Ueda. Mungkin setelah Shintaro, Ueda lah yang layak menjadi gantinya. Walaupun Shintaro Ikeda tak akan pernah tergantikan di hatiku selamanya *haiyah*. Ocehan ngawur tidak henti kami ucapkan sepanjang pertandingan. Dan saat angka terakhir di game ketiga diperoleh oleh Hayom, Takuma Ueda seketika tertidur tengkurap di lapangan dengan badan basah penuh keringat. Sedangkan saya seketika ingin nemplok di punggung basah Ueda. Dan Dwi langsung pengen bawa pulang Ueda buat dijadiin mainan di kamar kalo lagi bosen. Pokoknya bebas, Wik. Bebaaassss --"

     Pertandingan menggemparkan juga terjadi saat Cai Yun/Fu Haifeng melawan pasangan muda mantan anggota pelatnas, Gideon Markus Fernaldi dan Andrei Adistia. Sekali lagi, pesona Cai/Fu yang kebapakan sanggup membuat hati saya berdebar-debar.

     Oh iya, sempet ada kejadian lampu pecah di samping court 1 yang notabene adalah tv court. Lampu pecah ketika ada pertandingan antara Busanan Ongbumrungpan melawan Carolina Marin. Pecahan lampu tidak hanya jatuh sekali, tapi berkali-kali sehingga pertandingan terpaksa harus dihentikan beberapa kali pula. Inget Final Destination, btw.

     Sempat kecewa berat sebenarnya saat SDK harus menyerah dari pemain India dalam permainan 2 set langsung. Sony yang tahun lalu di babak kedua berhasil mengalahkan bintang Denmatk, Peter Hoeg Gade dalam 3 set dan sempat membuat saya terharu, tahun ini tampak tampil mengecewakan. Wajah Sony memang datar dan selalu menyunggingkan senyum dalam keadaan kalah ataupun menang. Mungkin dia kalah karena saudara kembarnya, Wang Yihan, sudah kalah di babak pertama *ini penting, SDK memang kembar dengan Yihan*.

     Di saat yang sama, Alamsyah Yunus juga harus mengalami kekalahan menghadapi Mark Zwiebler dari Jerman. Saya yakin, kekalahan Alam kali ini bukan karena skill atau stamina yang kurang, tapi karena bajunya kedodoran. Seperti yang saya tulis sebelumnya, setiap melihat Alamsyah saya pasti pengen ngakak sak pol'e. Dan entah kenapa malam itu Alam harus pake baju kegedean. Mungkin emaknya lupa bawa bajunya ke tukang jahit jadi terpaksalah dia pake baju yang mungkin lebih cocok dipake Mad Pieler Kolding.

     Selain bajunya yang kedodoran, Alamsyah juga sempat bingung saat mbak-mbak spg ngasih sekantong baju ke dia. Alamsyah sempat berhenti di tengah jalan ketika mbak spg menyerahkan kantong baju tersebut. Entah karena dia nggak pernah nonton saat pemain Indonesia bertanding atau memang dia loadingnya kluwer alias lama. Tapi tetap saja, saya dan Dwi ngakak di kursi penonton melihat muka bingung Alamsyah. Mungkin dia pikir, sekantong kaos tersebut dikasih buat dia untuk dibagikan ke tetangganya di rumah -____-"

     Semeriah apapun hari itu, saya tetap menyesali nasib Jan O Jorgensen yang harus kalah terlalu cepat. Padahal saya udah bikin tulisan di kertas A3 dengan tulisan, "Jan, tag mig hjem". Tapi saya juga bersyukur karena saya masih bisa bertemu dengannya walau hanya beberapa menit saja. Karena dalam beberapa menit itu saya bisa merasakan tangannya di punggung dan pundak saya. Duh, tapi Tuhan, saya mau lebih :">

     Dan lagi-lagi, match paling meriah dan hampir membuat pecah Istora adalah pertandingan atlet berkulit porselen, siapa lagi kalau bukan Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae. Malam itu LYD/KSH melawan pasangan dari Chinese Taipei yang di babak pertama mengalahkan Angga/Rian. pIstora berubah pecah dan suara jejeritan berbagai macam terdengar di mana-mana. Istora hancur berantakan, bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelip, suasana chaos. Wanita-wanita lupa diri, termasuk saya yang langsung merasa seperti belum makan selama 746 tahun. Saya pengen gigit biceps-nya Ko Sung Hyun dan pengen mijitin betisnya Lee Yong Dae. Saya juga pengen anu itu ah sudahlah *tahan napas*.

     Saya di sana sampai pertandingan terakhir dimainkan. Pertandingan terakhir mempertemukan antara Datok Lee Chong Wei dan pemain India yang mengalahkan Taufik Hidayat, Sai Praneeth HS. Partai tersebut sebenarnya tidak terlalu seru. Namun saya terlalu bahagia bisa menyaksikan langsung pertandingan seorang legenda hidup Malaysia yang juga menjadi salah satu pemain terbaik yang dimiliki dunia bulutangkis. Datok Lee Chong Wei mungkin menjadi satu-satunya pemain Malaysia yang tetap dipuji dan dihormati oleh Indonesia. Selain skill yang mumpuni dan prestasi yang tidak usah ditanya lagi, sederhana dan rendah hati adalah poin tambahan yang menjadikan Datok Lee Chong Wei sangat dicintai di Indonesia.

     Ketika pemain Malaysia lain bertanding, saat tidak melawan Indonesia pun, penonton tetap akan meneriakkan sorakan bengis pada mereka. Semua negara yang dilawan Malaysia adalah kawan. Namun tidak dengan Lee Chong Wei. Semua penonton hormat dan memberikan standing applause ketika sang Datok selesai bermain. Prestasi dan kerendahan hati memang menjadi air bagi 'api' yang selalu ada di antara Malaysia dan Indonesia. Terimakasih, Datok.

     Hari itu, menjadi hari yang tak akan terlupakan bagi saya. Memang bukan pertama kalinya saya menyaksikan pertandingan bulutangkis dunia, tapi hari itu adalah hari yang sangat bersejarah dan tak akan terlupakan.

     Dan Istora menjadi salah satu dari beberapa tempat penghilang stress. Karena di sana saya bisa teriak semau saya, sekencang-kencangnya dengan kata-kata apa saja.

              "to be continue"

    
    
    

    

Monday, June 17, 2013

The Story of #NgIstora (part 1)

Bismillahirrohmanirrohiiim...

     Mari kita mulai cerita ini dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai.

     Sebenarnya cerita #NgIstora ini sudah saya posting di blog sebelum ini. Tapi saya jadikan blog ini menjadi part 1, karena saya rasa blog sebelumnya adalah postingan yang lebih pribadi, cerita tentang pertemuan saya dengan suami saya, Jan Ostergaard Jorgensen *oke, abaikan*.

     Saya akan mulai cerita saya ini -yang entah ada yang mau baca atau tidak- dengan cerita lanjutan pertemuan saya dengan Jan. Tenaaaang, saya nggak akan nyeritain si "viking", karena memang sampai hari terakhir kemarin, Jan sudah tidak muncul di hadapan saya. Sebagai penganten baru saya merasa gagal (,--)/||

     Seperti cerita sebelumnya, hari Minggu tanggal 9 Juni saya pergi ke Istora Senayan untuk nonton sesi latihan para atlet, baik atlet Indonesia maupun atlet-atlet luar negeri. Sebagai orang yang norak (iya, saya norak kalo liat atlet bulutangkis), saya tetap menjaga diri agar tidak heboh saat melihat atlet-atlet yang berada di lapangan. Harka diri bangsa Indonesia dipertaruhkan.

     Beberapa saat setelah tim Denmark pergi, yang pada saat itu saya hanya fokus pada Jan, saya kembali masuk ke dalam arena Istora untuk kembali menonton. Sebelum keluar, saya sudah melihat tim ganda putra-putri dari negara alien, China. Layaknya pasukan Mao Tse Tung yang sedang berlatih perang, aura bahaya tercium di mana-mana. Tampak pada saat itu Cai Yun (yang sempat saya kira adalah Chen Long) mengenakan kaos putih, Fu Haifeng, Liu Xiolong, Qiu Zihan, Zhang Nan, Chai Biao, Hong Wei, dan seorang pria bersuara jeleger yang nyebut namanya aja saya males banget yaitu Xu Chen :|

     Di lapangan dekat pintu masuk juga tampak pemain putri dari semua sektor termasuk sang juara Olimpiade London, yang tahun lalu sempat foto sama saya dan Pipit, yak Li Xuerui. Fyi, dia bisa juara Olimpiade karena abis foto sama kami berdua. Atlet yang abis foto atau ketemu dengan saya dan Pipit pasti punya 2 pilihan, kalo nggak langsung juara ya langsung kalahan. Banyak yang sudah membuktikan. Tapi nggak usah tak sebutin, ndak dikira sombong yo ra? Nanti malah banyak yang pengen poto bareng saya biar juara (--,)

     Yang paling menonjol dari tim ganda China menurut saya adalah Chai Biao. Tinggi, putih kemerahan, rambut jambul asik, dan ganteng. Bao Chunlai yang udah wara-wiri di tipi juga menurut saya masih kalah ehem dari Chai Biao. Tapi yang paling nyeret ati saya buat ngeliatin adalah Cai Yun/Fu Haifeng. Sebagai pasangan yang diimpor langsung dari negeri petir, yang kalo smes bisa matahin kakinya David Beckham, mereka tetaplah mempesona. Walaupun udah om-om, tapi tetep aduhai. Saya sebenarnya selama kesel ngeliat mukanya Cai Yun gara-gara ngeliat mukanya pas set pertama final Olimpiade Beijing 2008. Tapi yang namanya orang yang ngaku pecinta bulutangkis, mau kesel gimana pun, kalo liat langsung juga tetep aja terpesona. Dan bibirnya paman Fu Haifeng tetaplah bibir manis yang kalo mingkem khas banget.

     Di sana juga terlihat mantan tunggal putra top dunia yang baru pensiun beberapa bulan lalu. Siapa lagi kalo bukan koko Chen Jin wo ai ni. Paginya, waktu nyegat Jan sih saya udah ketemu. Malah ketemu Chen Jin lebih dulu sebelum ketemu Jan. Tapi saya nggak pengen foto bareng walaupun Chen Jin udah pasang muka ramah dan sempet beberapa detik sapa-sapaan sama Jan.

      Pipit saat itu ngebet pengen foto sama Chai Biao. Saya juga pengen foto sama Cai Yun/Fu Haifeng sebenernya, tapi takut diculik. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk keluar Istora dan "nyegat alien" di depan pintu di mana sudah berkumpul anak-anak abege yang pastiny seumuran kami yang masih abege juga ini *kemudian nyobek ktp*. Sampai di depan pintu ada mas SDK yang lagi diajak foto oleh beberapa anak yang SEBAYA dengan kami berdua (penting), sebelum akhirnya mas SDK masuk dan berbarislah itu pasukan alien dari dalam. Saya ngelongok di depan pintu disuruh manggil Chai Biao sama Pipit. Entahlah, kenapa saya harus mau.
Ketika dada Chai Biao persis di depan muka saya, saya panggil namanya pelan,
"Chai Biao..."

" So... so..." jawabnya sambil berjalan. Kemudian jamaah hening, termasuk saya yang nggak ngerti apa itu arti dari "so so". Maka tersebutlah kisah "Chai Biao So So". Dan di situlah saya pertama kali melihat dan menyadari kalo Zhang Nan ternyata ehem juga dan saya rela dibaca pulang ke negeri China *lalu digaplok Zhao Yunlei*

     Kami lalu melupakan kejadian Chai Biao So So beserta rombongan yang masuk ke warming up hall, karena ada banyak atlet lokal yang tidak kalah ehem seliweran masuk ke dalam. Dan yang ini pas dipanggil nggak jawab "so so" tentunya. Datang Hayom yang sempat membuat Pipit gemeter karena foto bareng kemudian lupa kalo saya juga pengen foto bareng :/
Kemudian ada kak Icad yang sempat senyum sambil makan apaan tau, lalu ada ko Hendra yang sempat ditarik ke sana-sini dimintain foto bareng, juga Ahsan, Shendy Puspa, Bellaetrix, Lindaweny, Debby Susanto, Riyanto Subagja, Owi, Fran, Hafiz/Putra dan Alamsyah Yunus. Entah kenapa semenjak ketemu di Sirnas Jakarta dengan Alamsyah, pas ketemu lagi malah pengen ngakak XD
Dan entah kenapa itu bocah ada di mana-mana --"

     Kami juga sempat foto dengan sang legenda ganda putra peraih medali emas olimpiade Atalanta, Rexy Mainaki.

     Dan gong dari seliwerannya atlet Indonesia tadi adalah ketika Liliyana Natsir, cici gantengnya akuh dateng sambil senyum. Anak-anak yang berkumpul di depan yang kebanyakan adalah perempuan berteriak histeris. Dan salah satu dari mereka yang hanya bisa ngelus dada sambil istighfar, yaitu saya :|

     Liliyana adalah perempuan, dan kebanyakan dari jamaah al foto bareng atletiyah adalah perempuan, tapi kenapa histerisnya kayak liat Siwon shirtless (yang btw saya nggak paham Siwon mukanya yang mana).

     Saya dan Pipit masuk lagi. Menikmati aksi para atlet kebanggaan Indonesia berlatih. Tapi masih ada tersisa 4 tunggal putra China yaitu Chen Long, Du Pengyu, Wang Zhengming, dan Chen Yuekun. Dan entahlah itu si Bellaetrix Manuputty kesambet apa minta foto bareng sama Chen Long terus loncat kegirangan pas udah selesai. Dan ngomong-ngomong itu Chen Long kalo mau sama saya juga saya ikhlas. Tapi saya juga ikhlas kalo si atlet manekin, Wang Zhengming, mau saya ajak pulang buat pajangan di kosan :")

      Satu atau dua jam kemudian, muncul beberapa atlet bule dari Polandia yang namanya huruf konsonan semua. Mereka sekitar 4 orang, datang sambil celingak-celinguk nggak dapet lapangan. Akhirnya mereka duduk di pojokan lapangan di samping Putra Eka Roma yang lagi ngompres lengan.

     Saya dan Pipit keluar menjalankan kewajiban sambil numpang charge hp yang sudah sakaratul maut. Beberapa menit kemudian saat hp saya siuman, saya baca twit dari @smesnyangkut yang melaporkan datangnya pangeran dengan bibir monyong asik. Kami langsung berlari mencari pintu. Saat berhasil menemukan pintu dan melihat ke arah lapangan kami langsung susah menguasai diri.
"aaaaaaakkkkk ituuuuu", teriak Pipit.
"Allooohuakbaaaar", saya langsung pengen adzan.

     Empat orang dengan kulit bak porselen mengayunkan raket dengan muka yang ah. Iya, itu yang di lapangan adalah pangerannya bulutangkis. Iya, itu Ko Sung Hyun sama pasangannya. Iya, itu Lee Yong Dae aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk *matik*

     Kami duduk di tempat dengan posisi paling nyaman dan pas dengan posisi Lee Yong Dae. Cewek-cewek pasang muka mupeng, termasuk Pipit yang anteng nempelin senyum sok manis kayak bakal dilirik hahahahaaa. Tapi ya mau gimana ya? Sebagai wanita normal, kami harus pasang muka mupeng semupeng-mupengnya kalo liat "es buah" yang seger gitu. Entahlah, atlet pria Korea memang rata-rata minta disruput. Bikin haus dan lapar.

     Saya akhirnya memilih untuk fokus. Fokus ngiler ngeliatin biceps yang gigit-able. Dan saya baru sadar ternyata sebelum tim Korea masuk, tim Malaysia lebih dulu latihan setelah tim Indonesia selesai. Terus mas-mas Polandski tadi latian di mana? Entahlah, biar Tuhan yang tahu. Di tim Malaysia terlihat Datok Lee Chong Wei, Koo/Tan dan beberapa orang lain yang saya nggak paham namanya. Karang aku ki pahame mung telu :/

     Kita tinggalkan Malaysia dan fokus pada pahanya Lee Yong Dae, eh pada skill Lee Yong Dae maksudnya.

     Si Oppa ini kayaknya tau banget diliatin manusia bermuka mupeng di tribun. Gerakannya minta dipanggil banget. Padahal yang dipinggir lapangan sini emang udah ngampet banget pengen manggil tapi takut diusir bapak sekuriti. Yang bisa kami lakukan adalah ngikutin kemana pun dia gerak. Bahkan saat dia pindah lapangan pun, jamaah ikut pindah.

     Dan saat mereka mau pulang, jamaah mupengiyah sudah menunggu di samping bis. Mereka keluar satu-persatu. Dan saat semua hening, terakhir, berjalanlah itu makhluk porselen diiringi histeria yang menggema aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk

      

          *to be continue*

  

    

Sunday, June 9, 2013

Jan, Will You Marry Me?

I feel like a pengantin baru. Dan rasa-rasanya saya akan tidur sambil tersenyum malam ini.

Pagi tadi, sekitar pukul 06:10 saya berangkat ke Istora Senayan dengan penuh harapan. Saya menaiki bis transjakarta sambil mencari cara untuk memuaskan hasrat yang saya pendam beberapa waktu terakhir. Pagi tadi, saya bertekad dalam hati bahwa saya harus bertemu dengan shuttler tampan yang baru-baru ini ingin saya nikahi, Jan Ostergaard Jorgensen.

Betul, setelah mendambakan calon suami seperti Shintaro Ikeda, baru-baru ini saya menjadi sangat jatuh cinta pada tubuh ber-tattoo milik Jan. Saya jatuh cinta pada pandangan tattoo pertama. Saya pikir tattoo yang ada di tubuh Jan adalah rajah tubuh paling seksi nomor dua setelah milik Jason Mraz. Iya, saya suka beberapa tattoo yang melengkapi badan beberapa pria. Jan dan Jason dua di antaranya.

Tekad saya sudah bulat. Saya berangkat dari rumah sendiri dan akan bertemu dengan Fitria di sana.

Saya turun di halte Gelora Bung Karno. Suasana di kawasan sangat penuh dengan warna merah karena ada ratusan orang berkumpul di pintu masuk. Saya hilang. Namun beberapa saat kemudian saya berhasil meloloskan diri dan sampai di Istora.

Keadaan begitu sepi di Istora. Hanya ada beberapa tukang bangunan yang bekerja dan sebuah bis berwarna putih terparkir. Saya naik ke atas dan menelusuri setiap pintu, berharap ada yang tidak dikunci dan saya bisa masuk ke dalam. Tapi ternyata nihil. Namun seorang cleaning service memberi tahu saya bahwa "orang bule" yang sedang berlatih. Saya pun langsung berlari ke bawah mencari pintu sesuai arahan bapak cleaning service. Setelah menemukan pintu yang dimaksud, saya langsung masuk dan mata saya langsung menemukan sosok berkaos biru yang sedang mengakhiri latihannya dengan memunguti shuttlecock di lapangan.

Saya ingin berteriak kencang dan berlari ke arena memeluk sosok berkaos biru tersebut. Tapi demi harkat dan martabat negara dan daripada saya dituduh perusuh, saya duduk sambil mata saya tak lepas dari si baju biru tersebut. Dada saya berdebar-debar dan saya seperti mau meledak. Andaikan ada Fitria, saya pasti tidak segelisah itu.

Tim China mulai memasuki lapangan menggantikan tim Denmark yang sedang mengeringkan keringat di pinggir arena. Beberapa menit kemudian, si baju biru yang duduk di pinggir lapangan membuka baju birunya. Dan tersibaklah wajah Jim Morisson di lengan kanan atasnya. Mata saya silinder, dan saya tidak mampu melihat wajah orang dalam jarak 5-10 meter. Tapi pemilik tattoo vokalis The Doors di lengan kanan atas itu sudah ada di mimpi dan khayalan saya setiap hari. Jadi, dalam jarak yang jauh pun, ketika dia membuka bajunya, saya seolah bisa membaca tattoo "Time Will Tell" di dada kanannya. Dan tattoo di dada kanan adalah pesona bagi pemiliknya. Seakan-akan setiap melihat tattoo itu, saya ingin bersandar di sana. Melepas segala penat dan menceritakan segala hal yang membebani pikiran saya.

Pemilik tattoo Jim Morisson teesebut tak lain adalah Jan. Dia mengenakan jaketnya dan mengikat tali sepatu, bersiap-siap meninggalkan tempat latihan pagi itu. Hati saya yang sedari pagi sudah digerakkan oleh cinta segera memerintahkan pada kaki untuk segera melangkah ke luar arena menuju ke manapun tempat yang bisa mempertemukan saya dengan Jan O. Jorgensen.

Saya sempat melihat muka heran beberapa orang yang duduk di samping saya. Tapi saya tetap meloncati kursi-kursi penonton dan berlari ke arah pintu keluar atlet.

Keadaan di pintu keluar atlet sepi. Hanya ada 2 orang pria muda membawa kamera yang sepertinya juga sedang menunggu beberapa atlet yang akan keluar. Saya berlari mendekati mereka dan disambut dengan muka heran. "Mas, tolong fotoin saya sama Jan ya nanti." kata saya sambil menyerahkan handphone android versi jeblok milik saya yang kalau dipakai selama 5 menit baterenya langsung habis. " Wooh, fansnya Jan juga, ya?" tanya salah seorang dari mereka yang memegang handphone saya. Saya tidak menjawab pertanyaan itu karena dari dalam dua orang pria dan wanita berperawakan tinggi dengan rambut coklat dan berkulit putih kemerahan berjalan ke arah saya dan dua laki-laki yang ternyata juga sedang menunggu orang yang sama dengan saya. Dengan jantung yang seakan mau loncat dan perasaan ingin memeluk, saya berjalan ke arah Jan yang menyambut saya dengan senyuman.

"Jan..."

"Okay", jawab Jan sok tau sambil langsung berdiri di samping saya dan merangkulkan tangan kirinya ke bagian atas punggung saya. Entah kenapa dia langsung menjawab "okay", padahal saya belum melanjutkan kalimat saya. Bisa saja saya bertanya, "Jan, will you marry me?", atau"Jan, can you hug me now?" atau malah "Jan, let's make a baby". Mungkin karena ikatan cinta yang kuat di antara kami, dia bisa membaca isi hati saya sebelum selesai saya ucapkan hahahaha, oke ini ngaco. Tapi kalau Jan mau mengisi hati saya, pintu selalu terbuka lebar setiap saat :D

Setelah satu jepretan kamera selesai, dia melepaskan tangan dari punggung atas saya.

"Thank you, Jan. By the way, I love your tattoos.", saya mengucapkan terimakasih sambil terbata-bata antara grogi dan takut bahasa Inggris saya kacau.

"Aah thank you. Okay, bye." Jawabnya sambil tersenyum menepuk pundak kanan saya kemudian berlalu.

Dunia saya berhenti sampai ketika 2 laki-laki penolong saya menyerahkan handphone sambil berkata, "sialan, kita nunggu daritadi malah dia pergi." Saya mengucap terimakasih sambil berlalu pergi dan menahan tawa. Bis putih yang membawa Jan bergerak pergi. Saya tersenyum pada bagian belakang bis sebelum akhirnya menghilang. Saya kembali ke dalam arena sambil menahan rasa ingin kayang di tengah lapangan saking bahagianya.

Tanggal 3 Juni kemarin, saat ulang tahun saya, saya pernah mem-posting sesuatu di blog ini dan berkata bahwa saya tidak mempunyai doa di hari ulang tahun. Tapi ternyata seperti apapun manusia berkata dia tidak punya hajat apapun, tetap saja di dalam hati menyimpan sebuah keinginan. Yah, sebelum tidur di penghujung hari tanggal 2 Juni, saya berbisik pada Tuhan bahwa saya ingin bertemu dengan Jan O. Jorgensen. Dan Tuhan menjawab doa saya hari ini. Bukan hanya bertemu dari kejauhan. Tapi saya bisa merasakan tangannya memegang punggung dan menepuk pundak kanan saya. Semoga dia merasakan detak jantung saya yang membisikkan cinta *aseeeeeeek* :D

Dan postingan ini memang sangat norak. Tapi saya memang sedang bahagia dan sangat bersyukur dengan apa yang dilakukan Tuhan hari ini. Tuhan tidak tidur, Dia mencatat apapun yang kita minta kemudian memberikannya dengan cara yang indah.

Malam ini saya akan tidur sambil merasakan rangkulan tangan Jan di punggung saya. Semoga mimpi indah, Jan. Jangan mabuk-mabukan ya. Kesehatanmu lho X)))))


Sunday, June 2, 2013

Thank You...

3 Juni 2013.

Hari ini ulang tahun saya. Lagu Mr. Curiosity milik Jason Mraz berputar-putar di kepala saya sepanjang hari.
"It's my birthday and I can not find no cause for celebration", begitu kata Jason Mraz di lagu tersebut. Dan saya semacam tidak memiliki ide untuk mereyakan hari yang bagu banyak orang lain adalah hari istimewa. Bahkan doa special di hari istimewa ini pun saya tidak punya. Entahlah...

Doa dari banyak orang mengalir untuk saya hari ini. Walau tidak satu pun hadir dari keluarga saya. Tapi keluarga saya memang tidak mengenal hari ulang tahun. Jadi saya maklum akan hal itu. Karena bahkan saya sendiri pun sampai sekarang tidak tau kapan tepatnya hari ulang tahun orang tua saya.

Jadi, biarlah saya melewati hari ulang tahun saya dengan biasa saja, tanpa perayaan, tanpa doa dan harapan, tanpa apapun. Karena saya memang tidak punya harapan untuk diucapkan hari ini. Saya sudah berdoa dan berharap setiap hari. Jadi bila memang Dia berkehendak, tanpa menunggu tanggal 3 Juni pun harapan saya akan terkabul.

Thank you for always being with me, dear Nature's Son...

Thursday, May 30, 2013

Menunggu? Siapa takut...

Namaste...

     Saya ingin menuliskan apa yang ada di pikiran saya tentang topik yang beberapa waktu terakhir sedang hangat di grup pLettonic Indonesia. Saya akan menulis dengan kapasitas saya sebagai seorang pLettonic. Ya sebut saja saya pLettonic. Meskipun mungkin definisi pLettonic bagi orang berbeda-beda. Termasuk saya.

     Saya mengikuti Letto, grup band asal Jogja yang saya tahu setelah Sheila On 7, sejak mereka muncul di sebuah album kompilasi dengan membawa lagu berjudul I'll Find A Way.

Sejak saat itu saya mulai menyimak lagu-lagu Letto terutama setelah mngeluarkan album pertama mereka yang bertajuk "Truth, Cry and Lie". Truth, Cry and Lie adalah album favorit saya. Kenapa saya suka album pertama mereka? Karena lagu-lagu yang ada di album tersebut banyak menggunakan bahasa Inggris. Saya bukan orang yang pandai cas cis cus dengan bahasa Inggris. Pun saya tidak seluruhnya mengerti arti maupun isi dari lagu-lagu bahasa Inggris di album tersebut. Tapi dari empat album yang ada, Truth, Cry and Lie tetap album terbaik Letto menurut saya.

     Ketika album pertama dan kedua keluar di pasaran, saya masih berada di Lampung. Saya pindah datang ke Jakarta untuk kuliah tahun 2007. Entah saya tidak terlalu ingat pastinya kapan album kedua keluar.

     Saya pLettonic dengan definisi saya sendiri. Saya bukan seperti teman-teman pLettonic yang ada di grup pLettonic Indonesia yang bisa memuji Letto dengan kata-kata puitis setiap hari. Tapi bukankah orang yang menyukai dan menghargai karya Letto serta membeli albumnya yang asli adalah pLettonic? Koreksi kalau saya salah.

     Menjadi pLettonic pun bagi saya tidak harus selalu setuju dengan pendapat personil Letto di wilayah selain musik. 'Cause we are only human. So they are.

     Saya merasa sangat beruntung menjadi satu dari banyak orang yang mengikuti "pertumbuhan" album Lethologica dari awal hingga muncul di pasaran. Dan saya juga beruntung karena telah diberi kesempatan menjadi satu dari beberapa orang yang diijinkan memberi pendapat dengan diperdengarkan beberapa lagu di album Lethologica sebelum launching. Ya, kami diberi kesempatan mendengar lagu-lagu yang belum pernah didengar publik meskipun waktu itu kami tidak meminta atau menanyakan kapan album yang ditunggu tersebut akan keluar. Karena saya (kami) pada waktu itu sangat percaya album Letto pasti akan hadir bila memang sudah siap. Untuk apa terburu-buru, toh kita masih bisa mendengarkan dan menikmati banyak lagu dari album sebelumnya. Lagipula, kita semua "jatuh cinta" pada lagu-lagu Letto sejak dulu, kan? Sejak Letto masih dengan "T" satu.

     Pernah suatu ketika seseorang pernah mengatakan bahwa saat ini seperti ada "kotak-kotak" dalam pLettonic. Saya dan beberapa teman pLettonic menyadari itu. Tapi saya (dan saya yakin yang lain juga demikian) tidak pernah ingin menciptakan gap dalam berteman. Tapi mungkin akan lebih nyaman berhubungan dengan orang yang bisa kita mengerti. Dan ketika membaca postingan teman-teman di grup pLettonic Indonesia yang menanyakan perihal yang sama setiap harinya walaupun sebenarnya pertanyaan tentang album kelima tersebut sudah pernah dijawab tidak hanya sekali, membuat saya bertanya, "apakah mereka termasuk orang-orang yang tidak bisa saya mengerti?".

     Mungkin bila saya yang ditanya tentang kapan album Letto akan keluar, I will give a question instead of an answer, terus kalau album kelima Letto sudah keluar, mau ngapain? Beli cd asli? Atau malah akan seperti pahlawan membagi link download gratis?  Tanpa harus bertanya setiap hari kapan album itu muncul pun saya akan beli. Saya yakin teman-teman pun akan begitu.

     Saya ingat kalimat emas di songlit Ruang Rindu karya Andi Eriawan, "Semakin berharga sesuatu, semakin layak untuk ditunggu". Bila memang kita menganggap album kelima ini sangat berharga, kenapa tidak berusaha bersabar seperti yang sudah-sudah? Atau pada waktu itu memang belum ikut menunggu? If you know what I mean :)

     Saya sering membaca kalimat-kalimat puitis yang di-post teman-teman dengan menyisipkan kata, "Cinta... Bersabarlah". Jadi apa susahnya menerapkan "Cinta... Bersabarlah" tersebut dalam kehidupan nyata.

     Menunggu memang hal yang sangat membosankan, begitu orang berkata. Tapi kita pun pernah menunggu album-album sebelumnya keluar dalam rentang waktu yang lebih lama, dan tanpa banyak mengulang pertanyaan yang sama setiap hari. Sepertinya lebih membosankan membaca pertanyaan yang sudah pernah dijawab berulang kali yang ditanyakan setiap hari, ketimbang menunggu yang katanya membosankan itu.

     Saya yakin, teman-teman Letto sedang bekerja keras untuk menghasilkan album kelima ini. Jadi, apa salahnya kita menunggu dengan sabar tanpa harus menganggu konsentrasi mereka dengan menanyakan hal yang sama setiap hari. Kecuali bila kita memang menginginkan album baru Letto seperti musik mainstream yang akhir-akhir ini ada di Indonesia.

     Bila ingin mengambil contoh, musisi besar sekelas Jason Mraz memberi jarak yang panjang pada album yang dibuatnya. Alasannya adalah proses. Dia tidak ingin lagu yang dibuat adalah lagu yang hanya sekedar diinginkan oleh pasar. Tapi lagu yang benar-benar bisa menginspirasi. Ketika mengeluarkan album keduanya yang berjudul MR. AZ pada tahun 2004, dia memilih kembali bernyanyi dari kafe ke kafe dan mengeluarkan album ketiga pada tahun 2008 (We Sing, We Dance, We Steal Thing), dan me-launching album selanjutnya pada tahun 2012 (Love is a four letter word). Lama? Iya, sangat lama. Penggemarnya pasti menunggu dengan tidak sabar. Tapi saya yakin mereka tidak menanyakan hal yang sama setiap hari. Karena sekali lagi, masih ada lagu-lagu dari album sebelumnya yang masih bisa dinyanyikan.

     Jadi, mari kita menunggu album kelima Letto tanpa membuat mereka bosan dengan pertanyaan yang sama setiap hari. Waktu itu akan datang pada saat yang tepat dan bila memang sudah waktunya. Sambil menunggu, mari kita menikmati U&I, No One Talk About Love Tonight, Truth, Cry and Lie, atau I'll Find A Way. Lagu-lagu tersebut masih sangat bisa untuk dinikmati. Kecuali bila kita adalah orang yang baru suka lagu-lagu di album keempat. Again, if you know what I mean :)

"Let's forget we're running out of time" - Jason Mraz

Wednesday, May 29, 2013

(',')

-So hard to be a good person when everyone is so stupid-

Calm down, deep breath...

     I always try to hold my feeling out to be tough here, in this "lovely" office. Working with people with people with under-professional attitude is really big temptation. A temptation to write a resignation letter. But I don't. I am not that person who lost to a bad condition.

     I never think to work in under-professional attitude. I always try my best. But doing my best among people who can't, is such like drinking a bottle of poison mixed with wine. You will get the best taste of wine, but after that you'll die.

     I don't need to tell someone, here, in my office. I prefer to never trust no anybody here. Because being in this office is like you get in to the bus, you better to trust no one than something so mean to you finally gone.

     As I said, so hard to be a good person when everyone is so STUPID.

Thursday, May 23, 2013

Terimakasih Pahlawan Sudirman Cup

Indonesia, Indonesia, Indonesia...

Siang ini, saya menjadi satu dari jutaan manusia Indonesia yang beruntung menjadi saksi perjuangan para pahlawan bulutangkis Indonesia berjuang mati-matian melawan tim tangguh, China. Final kepagian, begitulah banyak orang menyebutnya. Laga yang sepertinya lebih pantas terjadi di partai final ini sejatinya adalah laga perempat final.

Indonesia yang pada penyisihan berada satu grup dengan China harus kembali menerima undian yang kembali mempertemukan Indonesia dan China. Berat memang, tapi kita, Indonesia, bukanlah tim pengecut yang kalah sebelum bertanding. China memang kuat, tapi kita punya harapan.

Dan hari ini, putra-putri terbaik bangsa menunjukkan kegigihan dan semangat pantang menyerah melawan China.

Dimulai dari Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang harus berjuang jatuh bangun menggempur pertahanan pasangan ganda campuran nomor satu dunia, Xu Chen/Ma Jin. Lewat permainan dramatis dan menegangkan, pasangan Indonesia, juara All England dua kali, ini mampu membuat wajah kepala pelatih China, The Mighty Li Yongbo, ketar-ketir dan gemetar. Beberapa kali Li Yongbo disorot kamera dengan wajah penuh kekhawatiran. Tim kita? Dengan wajah ceria dan penuh harap bersorak di bench pemain, pun terlihat Rexy Mainaki yang tersenyum sumringah tanpa beban. Indonesia unggul 1-0.

Partai kedua mempertandingkan partai tunggal putra antara Tommy Sugiarto melawan pemain nomor dua dunia, Chen Long. Tommy yang belum pernah menang melawan Chen Long, akhirnya harus kembali mengakui keunggulan pemain muda China tersebut dengan kekalahan dua set langsung.

Angin segar sempat kembali hadir ketika ganda putra muda harapan Indonesia, Angga Pratama/Ryan Agung Saputro, secara gemilang mampu mengalahkan pasangan smes dari "neraka" yang juga merupakan peraih medali emas olimpiade dalam pertarungan tiga set. Siapa yang tidak tau Cai Yun dan Fu Haifeng? Siapa yang tidak ketar-ketir ketika harus berhadapan dengan mereka? Ganda yang pernah menjadi "musuh bebuyutan" Markis Kido dan Hendra Setiawan ini masih menjadi momok menakutkan bagi lawan. Dan dengan perjuangan tanpa kenal henti, Angga dan Ryan mampu menumbangkan mereka.

Sehari sebelumnya, Ryan sempat berkata, "walau harus batuk darah sekalipun, yang terpenting adalah menyumbang poin untuk Indonesia", dan dia membuktikannya. Melalui serobotan dan blok-blok maut, mereka mampu menumbangkan pasangan yang di atas kertas jelas lebih diunggulkan, baik dari skill maupun pengalaman.

China akhirnya mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 setelah Li Xuerui, peraih medali emas olimpiade London berhasil membuat Lindaweni Fanetri bertekuk lutut.

Pada partai penentuan, China menurunkan pasangan ganda putri ranking pertama dunia, sekaligus pasangan ganda putri yang sangat susah dikalahkan, Wang Xiaoli/Yu Yang. Indonesia sendiri menurunkan pasangan dadakan yaitu Liliyana Natsir dan Nitya Krishinda Maheswari. Pasangan Indonesia tidak mampu berbuat banyak dan akhirnya menyerah pada angka 21-12. Di game kedua, perolehan angka ketat hingga angka 19-19, namun dewi keberuntungan memang tidak berada di pihak Indonesia, Indonesia harus menyerah pada skor akhir 3-2 dan mengakhiri tradisi selalu masuk fase semifinal.

Ketika pertandingan berakhir, sontak kalimat-kalimat pujian bertebaran di dunia maya, terutama twitter. Saya yang biasanya langsung meneteskan air mata atau setidaknya tidak bernafsu untuk melakukan apa pun bila Indonesia menelan kekalahan, kali ini merasakan hal yang berbeda. 3 hari saya tidak bernafsu untuk makan saat Owi/Butet kalah di perebutan medali perunggu olimpiade London. Tapi kali ini lain. Indonesia kalah, dan saya tersenyum bangga.

Yah, kebanggaan yang amat dalam saya rasakan sore tadi. Saya yakin bukan hanya saya merasakan hal tersebut, ribuan orang lain yang mengaku rakyat Indonesia dan menyaksikan perjuangan mereka pasti akan merasakan sesuatu yang tak terdefinisi artinya.

Kita kalah hari ini. Kita kalah terhormat dengan kepala tegak karena usaha dan perjuangan yang telah dilakukan. Mereka, para atlet yang telah meneteskan keringat hingga kehilangan tenaga patut dihargai perjuangannya. Seperti apa pun hasil yang didapat, kebanggaan tetap menjadi milik kita yang berusaha.

Ini adalah titik awal kembalinya bulutangkis Indonesia ke jalan yang seharusnya. We are back to the right track. Kita berada di jalan di mana kita seharusnya berada. Kita berada pada jalur juara.

Terimakasih pahlawan, putra-putri terbaik bangsa. Kalian adalah ujung tombak kebanggaan yang dimiliki Indonesia. Biarkan orang mencerca dan menghina prestasi kita, kita sudah berada pada jalur yang sesungguhnya. Tuhan ada, Tuhan mendampingi kemana pun kita berjalan. God Bless Indonesia...


































"Do you know team work, Li Yongbo?"