Saturday, February 9, 2013

Thank you, Chou Tien Chen!!!

     Finallyyyyy, akhirnyaaaaahhh pemirsaaah, pergelaran Djarum Superliga 2013 -yang kata orang Korea mirip IO mini- selesai juga berbarengan dengan akhir tahun Cinak.

     Dan hari ini was so gokil bero, dan saya ngetik ini sambil ngerasain migren yang alamak selalu dateng tiap abis nonton betminten. Maklum ye, ana suka lupa makan lupa minum kalo nonton bulutangkis. Dan ditambah jantung yang setengah harian mencoba angkat barbel dan kecepatan detaknya lebih dari biasanya.

     Kemaren sih untuk yang final putri udah digelar. Dan as we know, Jayaraya Jakarta berhasil membawa gelar juara setelah mengalahkan Unisys Japan dalam 5 pertandingan berdarah-darah. Tapi karena ana tidak nongton dan match terakhir dihentikan pas game ketiga, jadi greget dan deg-degannya agak kurang dibanding hari ini.

     Dibuka dengan kemenangan Tommy Sugiarto yang harus jatuh bangun *aku mengejarmu* selama 3 set untuk menaklukkan Daren Liew yang kayaknya di dua set terakhir udah nggak fokus karena takut nggak kebagian angpao. Bung Ricky Subagja yang ganteng itu (sumpah ini penting abis) bilang kalo mas Tommy bin Icuk ini ibarat mesin diesel, panasnya telat tapi kalo udah panas nggak bisa dihentikan. Dan benar saja, di set kedua dan ketiga Tommy benar-benar di atas api alias on fire.

     Partai kedua mempertandingkan antara bwf no. 10 rank, Tan Wee Kiong ame sapa dah pasangannya lupa namanya melawan pasangan paling berisik sejagad raya, Rendra Wijaya/Rian Sukmawan. Yakalo situ pada pernah liat pasangan Djarum yang satu ini, pasti tau betapa hebohnya mereka kalo di lapangan. Apalagi dengan hobi aneh mereka yang selalu tukeran sepatu sebelah-sebelah. Mereka juga harus main 3 set dan akhirnya bisa memenangkan pertandingan.

     Partai ketiga harusnya bisa jadi partai terakhir kalo aja sedulurnya Lee Yong Dae yang diimpor langsung dari Korea, si om Lee Hyun Il, bisa menang dari the most gigit-able athlete from Malaysia, Chong Wei Feng. Sayangnya si bocah Malaysia yang minta diiwel-iwel ini nggak mau ngalah sama orang tua dan malah menghajar Hyun Il oppa 2 set langsung.

     Jantung saya yang kualitasnya biasa aja ini masih harus menanggung beban berat saat pasangan ganda Musica Champion, Fran Kurniawan Teng/Hadi Saputra harus kalah dari Goh V Shem/Lim Kim Wah.

     Dan partai terakhir, partai penentuan, partai pamungkas yang lagi-lagi harus dilakukan dengan jatuh bangun dan berdarah-darah. Adalah Muhammad Arif Abdul Latief yang harus berhadapan dengan tunggal putra ketiga Musica Champion yang dibawa fresh from Taipei, Chao Tien Chen. Dek Chen ini sebelumnya perasaan ya biasa aja gitu, nggak terlalu minat buat tau siapa dia walaupun namanya sih nggak asing dan dia juga ada daftar 30 besar bwf world ranking. Tapi semua berubah saat DBL Arena yang diisi para bonek betminten pecah mendukung Chen yang fighting spirit untuk menggites si Arip ini dia tunjukkan.

     Set pertama dimenangkan dengan agak susah payah oleh Chen. Dada saya udah kembang-kempis dan pengen pipis jugak.

     Set kedua keliatan berat dan Fran Teng keliatan sipit *okesip*. Chen harus jatuh bangun kepleset-pleset menghadapi serangan Arip yang gilak jugak. Dari kedudukan 18-15, jadi 19-15, terus jadi 19-19. Jantung saya mompanya kekencengan dan pas skor 20-19 untuk Chen, DBL Arena dan saya yang berada nun jauh dari kota Surabaya napasnya di-spasi, hening sejenak. Dan ketika skor berubah jadi 21-19, sontak Chao Tien Chen menjatuhkan diri ke belakang disusul dengan berhamburannya tim Musica Champion yang menindih Chen kayak orang abis ngegolin. Saya sih ngeri Chen nggak bisa napas aja ditindih kayak gitu.

     Setelah adegan tindih-tindihan, diangkatlah itu si Chen ke udara. Dan semua pecah. Saya nangis terharu. Padahal ini bukan final Thomas Cup. Tapi karena lawannya adalah si negara ono, jadi ya berasa beda aja gitu. Indonesia boleh kalah, tapi tidak oleh Malaysia. Ini #sikat ('0')9

     Dan Chao Tien Chen, seorang putra Taipei, menjadi pahlawan penyelamat Musica Champion. Dan seketika jutaan gadis-gadis manis Indonesia termasuk ana, langsung mengidolakan temennya Vic Zhou ini.

     Pas wawancara, dek Chen bilang seneng banget sama penonton Indonesia dan merasa bahwa dia seperti orang Indonesia, dan saya terharu lagi :')

     Terimakasih Chao Tien Chen, suporter Indonesia nggak akan pernah lupa sama kamu. Dan ana janji, nanti pas Indonesia Open SSP, ana akan dukung antum, Chen *asal nggak lawan atlet Indonesia*.

     Prestasi pembuka bagi Indonesia. Walaupun yang main bukan pure Indonesia, seenggaknya ada Tommy yang membuktikan bahwa dia juga sudah setara dengan pemain-pemain top dunia.

     Jaya terus badminton Indonesia, lanjutkan prestasi yang seharusnya menjadi milik kita. Dan buat om Hendrawan, please coming home, Indonesia miss you, Om :')

Saturday, February 2, 2013

pLettonic-ing Night

     Seperti yang sudah-sudah, posting blog tentang sebuah perjalanan adalah hal yang sangat menyenangkan. Dan kali ini saya mau cerita tentang perjalanan kemarin.

    Sambil mendengarkan suara seksi milik Mr. AZ a.k.a Jason Mraz,  here we go...

     Sebenernya nggak tau apakah ini memenuhi kualifikasi sebuah perjalanan atau bukan. Tapi walaupun cuma ke Blok M tetep aja judulnya perjalanan ye nggak? Kita berjalan ke luar kamar ke arah jemuran aja namanya perjalanan. Jadi jangan heran kalau one day beta posting blog tentang perjalanan menjemur pakaian.

     Cerita berawal ketika adanya kabar kedatangan salah seorang teman pLettonic dari kotanya klub Jaya Raya Suryanaga, Rizal. Dia datang ke Jakarta untuk persiapan pergi ke Jepang. Katanya sih untuk kerja, katanya sih kerjanya nanti bikin kapal. Dan saya langsung berpikir untuk menyarankan pada kantor saya - yang apapun mau dibeli itu - untuk membeli kapal dari Rizal suatu saat nanti.

     Sebenarnya ini anak satu udah dateng ke Jakarta sejak akhir tahun lalu. Tapi yang namanya kami adalah wanita seboookk, jadi janji temu di-reschedule berulang-ulang. Dan sampailah kami pada hari kemarin *tanggal berapa dah yak kemaren?*.

     Kami janjian jam 4 sore di tempat paling mewah se-Jakarta raya, Blok M. Tapi mbak Fitri *yang abis manjat tower sutet dan pengen masuk asrama Grogol* mengajak saya dan Dwi untuk datang lebih cepat yaitu jam 2 siang. Saya yang tentunya tidak punya alasan untuk tidak setuju langsung mengiyakan, pun dengan Dwi.

     Acara niat keberangkatan saya sempat diwarnai dengan drama hujan yang tak kunjung reda. Bahkan hujan pun adalah drama :|

     Namun saya yang sebenarnya adalah reinkarnasi dari Jabang Tetuko alias Gatut Kaca, akhirnya nekat menerjang hujan rintik-rintik yang masih tersisa menuju ke tanah yang dijanjikan.

     Lagian ya emang eike nggak jalan kaki atau naik motor juga sih, dan nggak naik mobil bak terbuka juga, jadi nggak mungkin keujanan gituh.

     Singkat kata singkat cerita, sampailah saya di terminal BlokM yang sudah saya pahami setiap lekuk bagiannya. Bahkan saya lebih paham pada terminal Blok M ketimbang pada pacar saya sendiri *saya nggak punya pacar juga sih, ya Alloh mesakne ya Alloh :(( *. Dwi mengirimkan short message service yang mengabarkan bahwa dia sudah sampai dan sedang berada di mushola depan pintu masuk terminal. "Oke, Wik, gua ke sana.", begitu saya membalas sms Dwi.

     Dengan kepercayaan diri tingkat Dewa Budjana saya berjalan melewati kerumunan orang di sekitar empaiyer menuju mushola yang menurut saya adalah dekat pintu masuk terminal. Sekitar 15 menit saya berdiri di bawah pohon di depan mushola sambil memperhatikan beberapa turis Asia -yang kemungkinan adalah Cinak-, Dwi mengirim sms lagi menanyakan keberadaan saya yang kemudian saya baru sadar bahwa saya lagi-lagi kehilangan arah. Walaupun di ransel saya tergantung sebuah kompas, saya tetaplah ahli nyasar yang mungkin tahun depan akan diberi penghargaan oleh MURI. Saya salah mushola -____-"

     Akhirnya saya berjalan gontai menuju Blok M Square, duduk di tangga depan dan siap menengadahkan tangan sambil bilang,"Om bagi duit Om, belum makan vegetable salad with olive oil 7 hari Om, tolong Om." :|

     Dwi datang sekitar berlama-lama menit kemudian. Jujur saya nggak paham lagi dengan muka Dwi. Ah, SD Card di otak saya penuh sepertinya, jadi susah menghapal muka orang.

     Lagi, kami melanjutkan duduk di tangga sambil ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon sampai akhirnya alarm dari perut kami memberikan signal bahwa kami harus beringsut ngesot ke tempat lain yang ada bau-bau atau gambar makanannya sambil menunggu Pipit yang belum juga datang.

     Damn, playlist-nya muter Mr. Curiosity, saya tak nangis bentar ya...

                      (crying)

     Oke, kita lanjutkan. Karena kami memang sering lost focus, kami lupa pada alarm perut dan malah berdiri di dekat tangga dan melanjutkan ngobrol. Pipit menelpon kemudian kami naik ke upper floor dan mendapati Pipit yang duduk sendiri dengan muka juteknya. Ho'oh mukanya jutek, pantes nggak punya pacar *brb, migrasi ke Etiopia*.

     Setelah acara muter-muter nonton toko sendal dan nungguin Dwi antre ATM, datanglah sms dari tamu utama kami hari itu, Rizal, yang mengatakan bahwa dia sudah tiba. Dia bilang bahwa dia berada di belakang bis deket pager biru. Ok, got it.

     Kami langsung pergi menuju kawasan terminal sambil mencari pagar berwarna yang ternyata semuanya memang warna biru :(((

     Namun tiba-tiba ada seorang anak berjaket warna... *warna apa ya?* dengan kupluk warna abu-abu menyapa kami. Iyak, itu dia yang kami cari.

Lanjut, acara ramah-tamah dan salim-saliman, yang betewe saya bosen banget dengan acara ramah-tamah yang gitu-gitu aja. Sekali-kali kalau baru ketemu orang kenapa kita nggak kayang di depannya sambil nyebutin nama atau even goyang itik sambil saliman gitu kan lebih modern. Jangan cuma saliman terus 'hai' gitu kan bosen banget *lha situ aja sendiri sama mbokdenya situ mbak* -____-" .

     *kemudian mbayangin, kemudian ngakak faaaakkk*

     Kami langsung cuss meninggalkan tembok biru terminal Blok M menuju ke seberang jalan, Blok M Plaza. Setibanya di sana kami langsung menuju ke lantai paling dasar dan langsung mencari sebuah restoran Jepang bernama Gokana.

     Kami langsung masuk dan memilih tempat duduk yang sebenarnya nggak sesuai dengan pilihan. Aku merasa seperti dijodohkan, aku sedih :(( *dan drama pun dimulai lagi*.

     Acara pesan-memesan makanan dimulai sambil kaget-kagetan karena berisiknya waiters yang terus-terusan teriak "irasaimase" dengan suara kayak abis makan rendang TOA.

     Tidak perlu menunggu terlalu lama seperti menunggu datangnya cinta yang tak kunjung hadir, makanan yang dipesan pun tiba. Semangkuk ramen berkuah merah dan dua ekor udang tempura tersaji di depan saya. Saya mengucap doa sebelum makan dalam hati sambil mengingat wajah Shintaro Ikeda saat berdoa sebelum makan. Percaya atau tidak, berdoa sebelum makan sambil mengingat wajah Shintaro Ikeda yang sedang mengatupkan tangan di depan muka dapat menambah kenikmatan makan. Trust me, it works.

     Ketika sedang menikmati Tempura Hot Ramen yang mngepulkan asap, telpon saya berdering. Nama Windy AprisiaP tertulis di layar.

Windy : Halo, pada di mana?

Me : Gokana, Wind. Langsung sini aja.

Windy : Hah, bawah tanah?

*kemudian dunia berhenti berputar, hening selamanya*
-____________-"

     Setelah menunggu beberapa saat, datanglah Windy dengan baju lengan panjang berwarna pink dan apalah itu yang dikalungkan di lehernya.

     Sebenarnya nggak nunggu juga ya, tapi biar keliatan akrab jadi anggep aja nunggu Windy gitu *merenges*.

     Kami melanjutkan makan  sambil mengobrol. Rizal tetap diam tanpa kata, jarang ngomong. I guess dia terpesona, terlebih pada saya. Siapa juga yang nggak terpesona sama saya yang kulitnya semulus Mitani Minatsu dan memiliki wajah secantik Wang Shixian ini *dibandem watu*.

     Satu kalimat yang masih saya ingat saat saya menyuruhnya untuk tidak hanya diam adalah saat Rizal bilang, "anak Jakarta ngomongnya cepet-cepet banget, jadi nggak nangkep". Lha jangankan situ, kita sendiri aja ngobrol nggak ngerti apa yang diobrolin :((

     Setelah selesai makan dan melakukan pembayaran, kami melanjutkan petualangan. Kami naik ke lantai atas memutari setiap detil lantai pusat perbelanjaan tua ini hingga akhirnya kami sampai di tempat foto. Dan yak, kami mau photobox. Oh, photobox, long time no see, apa kabar?

     Tapi karena alasan yang tidak jelas, kami pindah ke booth sebelahnya. Setelah berdiskusi sekitar 1208735 hari, kami memutuskan untuk masuk ke box photo yang lebih pantas disebut kotak penyiksaan. 5 orang dengan ukuran badan berbeza-beza masuk ke dalam kotak kecil dan kami siap diimpor ke Cina untuk dibuat sup untuk menguatkan stamina Lin Dan.

     Sesi foto dilanjut dengan ponsel milik Fitri dan saya. Dan kami berempat sempat difoto oleh Rizal menggunakan handphone-nya. Ya mungkin nanti kalau dia udah di Jepang, sabi kali itu foto dipandang-pandang biar nggak sedih-maredih.

     Setelah ngobrol yang nggak jelas apa yang diobrolin, kami bergerak mencari tempat yang bisa dibuat nongkrong dan curhat-curhat cantik gitu.

     Dan diputuskanlah kami akan pergi ke Seven Eleven Bulungan. Oh my, just in a minute later I will be anak gahol sevel Bulungan. Neptunus, this was my first time ever. Aku anak sepel bulungan gitu loh *macak anak sevel*.

     Sekian lama saya tinggal di Jakarta dan sekian Sevel yang menjamur, semalam adalah pengalaman pertama saya ke 7-11. Jadi, kalau aku baru pertama ke sevel kalian masih mau temenan sama aku nggak? :((

     Pukul 11an malam kami memutuskan untuk pulang. Saya, Dwi dan Rizal pulang bersama. Windy bersama Pipit.

     Nah, untuk pLettonic dari daerah lain, again, sumonggo kalau mau sowan ke Jakarta. We'll welcoming you guys as we can. Cheersssss!!!

    

    

    

    

    

    

    

    

    

    

    



Friday, February 1, 2013

God Bless Irfan Haaris Bachdim

     Saya tulis ini sambil mengeringkan keringat yang tadi sempat bercucuran karena saya baru pulang dari jogging *epadahal ga keringetan juga sih*. Tapi sepertinya keringat saya nggak akan kering cause of those hotty man picture around me.

     Lalu?

     Semalam lini masa twitter kembali ramai. Hal ini terjadi ketika pemain naturalisasi Indonesia membeberkan beberapa hal yang mencengangkan. Dialah Irfan Haaris Bachdim. Irfan adalah satu dari sekian pemain sepakbola naturalisasi yang terlihat benar-benar mencintai negeri ini. Cinta negeri ini dan cinta sepak bola Indonesia.

     Masih jelas di ingatan, pada AFF Cup 2010 nama Irfan mencuat dan seketika menjadi bintang. Selain wajah blasteran Indonesia-Belanda yang menarik perhatian banyak orang terutama kaum hawa, Irfan juga memiliki skill yang mumpuni untuk memastikan dia menjadi bintang baru di sepakbola Indonesia. Sikapnya yang tertutup pada media membuatnya dinilai sombong oleh banyak kalangan pada akhirnya.

     Tapi Irfan tetaplah Irfan yang dengan rela dan ikhlas memilih untuk menjadi warga negara Indonesia. Padahal mungkin bila dia memilih Belanda sebagai negaranya, kesempatan untuk karirnya akan lebih baik. Tapi dia tidak melakukan itu, dia memilih merah putih sebagai bendera kebangsaannya. Hal tersebut dilakukan karena dia cinta Indonesia. Dia cinta negeri ini dan sepakbolanya. Kita bisa melihat tangisannya memeluk Bambang Pamungkas ketika Indonesia kalah adu penalti di final AFF Cup 2010. Dia menangis dan memeluk BePe seperti seorang adik yang memeluk kakaknya. Every Indonesian should know that he is real Indonesian.

     Dan ketika runtuhnya kepemimpinan Nurdin Halid, dan terjadi kekacauan di mana-mana pada era baru PSSI, Irfan tetap tidak sungkan memakai jersey merah putih dengan lambang garuda di dadanya. Dia tetap lantang menyanyikan Indonesia Raya meski dengan bahasa Indonesia yang tidak lancar. Dia tetap putra Indonesia yang mencintai sepakbola Indonesia di tengah carut-marut yang terjadi di sepakbola Indonesia.

     Dan puncaknya adalah tadi malam. Sekitar pukul 11 malam, Irfan Bachdim mengungkapkan jawaban dari pertanyaan semua orang akhir-akhir ini tentang rencana kepindahannya ke klub Thailand. Sebelumnya banyak orang berpikir bahwa Irfan meninggalkan klub yang membesarkan namanya di saat-saat yang tidak tepat. Tapi semua terbantahkan dengan pernyataannya semalam.

     Klub Persema Malang yang selama ini menjadi klub yang dibela Irfan tidak membayarkan gaji Irfan selama 8 bulan. What? I mean what the hell? 8 month unpaid? Di mana pikiran manajemen klub selama ini? Irfan punya keluarga, Irfan memiliki anak dan istri yang tentunya butuh makan. 8 bulan tanpa gaji adalah kebobrokan manajemen yang nyata. Who wanna do that sh*t for 8 months if he doesnt love his job. Irfan cinta sepakbola. Dia diam selama 8 bulan karena memang hanya itu yang bisa dilakukannya. Tak ada tempat atau lembaga yang bisa menolongnya. PSSI sebagai lembaga yang seharusnya melindungi atlet semacam Irfan, lebih memilih untuk sibuk dan menutup mata serta telinga ketimbang melakukan tugasnya.

     Dan yang lebih mengenaskan adalah Irfan mengalami apa yang pernah dialami Titus Bonai, dihalangi untuk pergi. Tapi ini sudah jalan Irfan, dia berhasil digaet oleh salah satu klub asal Thailand, Chonburi, yang merupakan salah satu klub besar di negeri gajah putih tersebut.

     Meskipun akan segera meninggalkan Indonesia, Irfan tetap menegaskan bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan timnas Indonesia yang sangat dicintainya. Dia membuktikan itu dengan terbang membela Indonesia di kualifikasi piala Asia 6 Februari mendatang.

     Irfan bukan satu-satunya korban dari kebobrokan di organisasi sepakbola. Banyak nama yang telah menjadi korbannya, salah satunya adalah Diego Mendieta yang harus menghembuskan nafas terakhir jauh dari negaranya karena masalah transfer gaji. Selain itu juga ada Bambang Pamungkas yang juga tidak dibayarkan gajinya selama 5 bulan. Dan akhirnya dia membuat keputusan meninggalkan klub yang sangat dicintainya. Semua ini menegaskan bahwa klub yang ada di kompetisi yang diklaim legal maupun yang ilegal sama bobroknya.

     Kemudian kemana Djohar Arifin serta La Nyala yang selama ini sibuk mengadu ego itu? Tidak sadarkah mereka bahwa ada satu nyawa warga asing yang telah menjadi korban keganasan mereka? Tidak sadarkah bahwa tim garuda tidak lagi terbang segagah dulu? Tidak sadarkah bahwa laga Indonesia kontra Malaysia tidak akan sesengit dulu lagi? Dan tidak rindukah mereka pada selebrasi Irfan Bachdim yang menari di pinggir lapangan, tarian Titus Bonai, bentangan tangan Bambang Pamungkas, selebrasi hormat Firman Utina, tidak rindukah mereka pada semua itu? Atau mereka semacam sudah mati rasa sehingga yang ada di otak hanyalah jejalan ego tanpa akhir.

     Bangsa Indonesia, sekarang mari kita mengiringi kepindahan Irfan Bachdim dengan doa, semoga Tuhan mengiringi langkahnya, dan semoga sepakbola kembali ke 'rumah' yang seharusnya.

Good luck, Bachdim...

    

    
     

Tuesday, January 29, 2013

Pantai Tulus, Surga Kecil Yang Tersembunyi

     Liburan idul fitri kemarin, seperti tahun-tahun sebelumnya saya selalu pulang ke Bumi Ruwa Jurai, Lampung. Saya sengaja cuti lebih dari seminggu karena saya memang ingin bisa lebih lama tinggal di rumah.

     Dan seperti kebiasaan setiap saya pulang, list tempat-tempat yang akan dikunjungi untuk makan siang pun disusun. Iya, tempat makan siang. Jangan bayangkan bahwa tempat yang akan dikunjungi untuk makan siang adalah sebuah restoran atau rumah makan unik. Tempat yang saya maksud adalah sawah milik tetangga, kebun kakao, atau sebuah sungai yang biasa kami sebut Kali Is. Keluarga saya bukanlah jenis keluarga yang bisa dengan mudah makan dengan lahap dalam berbagai kondisi. Terutama adalah saya dan Ibu saya yang makan tergantung pada mood.

     Maka dijadwalkanlah 2 buah hari untuk kami sekeluarga pergi ke pantai. Salah satu yang selalu menjadi pilihan dari keluarga saya adalah pantai yang sepi tanpa pengunjung, kalau bisa masuk ke hutan dan benar-benar sepi hanya ada kami.

     Setiap tahun, pantai yang tidak pernah absen kami kunjungi adalah pantai Batu Solo. Entah kenapa namanya Batu Solo. Pantai lumayan indah di pagi hari sampai sekitar pukul 12 siang. Karena di waktu-waktu tersebut, air laut masih pasang dan jernih. Kita bisa pergi ke tengah laut, naik ke atas pohon bakau dan memancing ikan. Kelebihannya adalah, kita bisa melihat langsung mulut ikan yang terbuka dan menyambar umpan yang kita berikan. Selain itu, pantai Batu Solo adalah tempat berkumpulnya jenis kera putih yang akan muncul di sore hari saat air laut mulai surut.

     Berkali-kali saya dan keluarga mendatangi pantai ini dengan membawa bekal makanan yang lebih mirip seperti korban banjir yang akan mengungsi dibanding dengan orang-orang yang akan pergi camping. Dan karena sudah berkali-kali datang, dan seharian di pantai Bapak saya hanya numpang tidur siang, maka akhirnya kami memutuskan untuk mencari pantai baru di kedua petualangan makan siang kami.

     Suami kakak saya adalah orang yang suka berpetualang keliling kemana-mana. Dan akhirnya dia mengusulkan untuk kami pergi ke pantai Tulus. Sebuah pantai di daerah kecamatan Gayau, di bagian selatan Lampung.

     Kata Gayau sendiri membuat saya berpikir bahwa ini adalah lokasi yang sangat jauh dengan jalan berlubang masuk ke hutan.

     Saya pernah sekali pergi ke daerah Gayau tersebut semasa SMP. Kalau tidak salah, ketika itu kami akan mengadakan latihan pramuka bersama dengan siswa dari beberapa SMP di daerah tersebut, sedangkan pembinanya sendiri berasal dari sebuah SMA Negeri di daerah Punduh Pedada yang juauhhhnyaaaa ngaluk-aluk beroooo *bayangin nama Punduh Pedada sumpah ane jadi eneg*.

     Waktu itu saya dan teman-teman anggota pramuka lainnya pergi menggunakan sebuah mobil pick-up bak terbuka melewati jalanan aspal yang "berjerawat" diselingi hujan lebat. Maka lengkaplah petualangan saya sebagai anggota pramuka yang mengamalkan Dasa Dharma Pramuka nomer dua.

    Dan pergilah kami sekeluarga ke pantai Tulus pada hari yang sudah ditentukan.

     Pagi hari aktivitas di rumah saya gerubak-gerubuk nggak karuan. Ibu saya riweuh dengan bekal makanan yang cukup buat makan orang se-RT, kakak perempuan saya juga bingung mencari ransel untuk tempat makanan yang rata-rata rasanya pedas level 70.

     Keponakan saya, Rangga, sibuk memasukkan baju ke dalam ransel kuningnya. Bapak saya sibuk memilih batik, iya batik. Errrrrr, ke pantai pakai batik. Oke, oke...

     Dan berangkatlah keluarga + saya yang berangkat dengan tidak mandi.

     Jarak rumah saya ke pantai Batu Solo sendiri memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan menggunakan motor melewati pangkalan Angkatan Laut di daerah Piabung, sedangkan jarak dari pantai Batu Solo ke pantai Tulus masih sekitar satu jam setengah lagi. Banyak anggota TNI yang lari pagi dengan bertelanjang dada dengan kulitnya yang cokelat dan perut yang terbagi 6 kotak membuat perjalanan agak mengasyikkan meskipun harus menahan pantat yang rasanya udah kebal karena kesemutan gara-gara 2,5 jam di atas motor.

     Saya naik motor bertiga dengan kakak saya dan suaminya. Sedangkan Ibu-Bapak saya bertiga dengan keponakan. Naik motor bertiga tanpa menggunakan helm dan berada di atas jalanan yang kacau adalah hal yang sangat tidak patut untuk ditiru.

     Setelah diwarnai insiden ban motor Bapak bocor di tengah jalan, akhirnya sampailah kami di jalan setapak yang diapit sawah. Kami melanjutkan perjalanan sambil membayangkan cara penduduk setempat mendapatkan air. Sepanjang jalan yang kami lewati yang terlihat adalah debu serta tanah pecah-pecah dan pohon bakau yang tumbuh di depan rumah. Mungkin tadinya daerah tersebut adalah rawa yang mengering.

     Setelah mendaki gunung lewati lembah, sampailah kamu pada sebuah tempat lapang yang sekitarnya ditumbuhi pepohonan mangrove. Motor diparkir di tanah lapang tersebut dan kami berjalan menembus pohon bakau. Seketika muncul pemandangan liar biasa. Garis pantai berpasir putih dengan keadaan yang sangat sepi. Yah, we are the King of the beach.

     Kami segera mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan membuka makanan. Bapak saya membuka batiknya dan langsung tidur di atas batu panjang. Ibu saya membuka bekal dan setelah mengganti baju dengan yang lebih ringkas, kami pun makan.

     Selesai makan, saya langsung masuk ke air dan membiarkan diri saya mengapung telentang tertimpa cahaya matahari. Saya tak henti-hentinya menyanyikan lagu milik Frau - Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa. Damai rasanya.

     Sekitar 2 jam saya mengapung di air laut, saya kembali ke tepi untuk makan. Makan siang di pantai adalah makan siang ternikmat.

     Tidak henti-hentinya saya bersyukur karena diperlihatkan keindahan pantai seperti pantai Tulus ini. Meskipun perjalanan yang harus ditempuh membutuhkan perjuangan panjang, tapi apa yang dilihat sungguh tiada terkira.

            

            Terimakasih, Tuhan...

    
    

    

    
    

    

    

    
    




Saturday, January 26, 2013

Semua Berawal Dari Mimpi

     Pagi di akhir pekan adalah saat yang tepat untuk? Yak betul, tidur.

     Seharusnya dengan cuaca yang adem-adem seger semriwing gini, cucok banget untuk olahraga atau sekedar cuci mata di lapangan komplek departemen pertanian. Tapi dikarenakan dompet yang bersuara memelas, maka jadilah saya anteng di atas tempat tidur.

     Apa hubungannya olahraga sama dompet? Jelas ada. Lapangan tempat saya olahraga adalah tempat berkumpulnya pedagang makanan mulai dari yang sehat sampai dengan yang mengandung pengawet dan pewarna juga banyak. Bukan anti sama makanan berpengawet, saya cuma ngeri jadi awet jomblo aja gitu *krik.

     Pagi ini saya mau cerita tentang harapan *macak Mario Teguh*. Tumben-tumbenan ye nggak saya punya tema lain selain bulutangkis. Ya ini sih masih ada hubungannya sama olahraga yang satu itu sih.

     Jadi ginik, saya adalah seorang karyawan di sebuah Oil and Gas Company yang kata orang sih kalo ngasih gaji ke orang pasti gede. Tapi itu cuma kata orang. Nyatanya, rekening saya paling gede ditransfer gaji adalah 30juta lebih. Tenang dulu, bukan, itu bukan gaji saya. Kalo gaji saya segitu mungkin saya sekarang udah banyak beli kebon di kampung. Duit segitu tadi adalah hasil salah transfer yang imbasnya adalah mundurnya Head of HR sebulan kemudian.

     Sebagai orang yang gajinya tidak seberapa, saya masih tetap punya mimpi dan tidak jarang mimpi saya (yang kebanyakan harus pake modal hepeng) terwujud tanpa disadari.

     Salah satu mimpi saya tahun lalu adalah bisa backpacking ke Jogja. Udah lamaaaaa banget saya pengen jalan-jalan ke Jogja. Sebelumnya sih udah pernah ke sana, tapi cuma buat transit dan itupun cuma muter-muter Malioboro sama ke pabrik bakpia. Turis banget sih? Iya memang. Itu adalah standar orang pergi ke Jogja.

     Saya dan teman-teman merencanakan ke Jogja sejak pertengahan tahun. Jadwal keberangkatan pada bulan November. Jadi masih ada waktu sekitar 4 atau 5 bulan untuk ngumpulin dana. Dalam tenggang waktu sekian bulan, kami yakin bisa mengumpulkan dana untuk tinggal beberapa hari di Jogja.

     Sebulan pertama, uang yang terkumpul lumayan mendingan. Tapi puncak kebangkrutan saya terjadi saat libur lebaran. Perkiraan saya adalah saya bisa menyisihkan uang THR saya yang tidak seberapa itu untuk tambahan ongkos tadi. Tapi ternyata pasak lebih sering terlalu besar untuk ukuran tiang. Selesai libur lebaran saya malah nombok. Dan putus asalah saya karena jadwal ke Jogja tinggal menghitung waktu.

     Nah kebetulan, pada Juni 2012, digelar turnamen tahunan Indonesia Open SSP. Waktu itu saya datang bareng Pipit (yaemang pasti bareng Pipit sih). Waktu itu kami membeli tiket untuk VIP. Jangan berpikir kami banyak duit mampu beli tiket VIP. Tapi kami memilih datang ke Istora di hari ketiga atau babak kedua yang di mana harga tiket masih sangat mureee. Harga tiket VIP masih dibandrol 50rb. Bandingkan dengan harga tiket final Sea Games 2011 yang harga gocap duduknya di kelas 2 di atas puncak gunung Jayawijaya.

     Dengan tiket 50rb dan bisa merasakan kursi VIP, yang ternyata sama aja jenis kursinya dan nggak boleh bawa makanan even minuman pulak *maklum mental ibuk-ibuk bawaanya pengen bawa bekel aje dikata mau piknik*. Tapi kelebihan yang paling jelas adalah menyoal pandangan mata. Duduk VIP adalah surga bagi mata. Jarak lapangan dan kursi penonton yang hanya selemparan kutang memungkinkan kami untuk histeris saat melihat jagoan-jagoan dunia tepok bulu beraksi, melupakan harga diri bangsa yang akan jatuh bila dunia internasional mengabadikan hal ini.

     Tapi menonton dalam jarak yang begitu dekat dan memungkinkan kami untuk mengira-ngira berapa telapak tangan yang dapat digunakan untuk mengukur pantat Lee Yong Dae, membuat kami ketagihan. Dan sepulangnya dari nonton hajatan bulutangkis terbesar di Indonesia yang dinobatkan sebagai yang TERBAIK di tahun 2012 oleh bwf ini, saya bertekad untuk bisa nonton lagi di perhelatan selanjutnya. Dan tidak cuma satu hari seperti tahun 2012. Maklum, saya dan Pipit biasanya cuma nonton turnamen gratisan di Gor Asia-Afrika yang kalo nonton tumplek blek sama atletnya.

     Mulailah saya menabung. Jadi, tabungan saya ada dua sekarang. Tabungan untuk ke Jogja dan tabungan untuk ke Istora.

     Beberapa hari sebelum tanggal keberangkatan, masalah muncul. Tabungan saya untuk ke Jogja hanya cukup untuk ongkos PP. Terus mau makan apa di sana? Mangan watuuuu...

     Tapi saya percaya, kalau kita punya suatu keinginan, Tuhan pasti akan mendengarkan. Tuhan punya banyak cara untuk mengabulkan mimpi saya. Dan, jreeeng, saya buka itu dompet tempat penyimpanan tabungan untuk beli tiket Indonesia Open 2013, dan alhamdulillah wa syukurillah, ternyata jumlahnya sudah cukup untuk beli tiket VIP di final dan semifinal. Maka dengan agak berat hati, saya ambil uang itu dan sisain ceban untuk pancingan.

     Dan berangkatlah kami ke Jogja...

     Bersyukur tiada henti karena kami dianugerahi teman-teman yang baik hati yang mampu mencarikan kami tempat menginap secara gratis. God Bless You All...

     Dan tadi pagi, saya baca twit dari teman saya Hayu di @hayutata tentang harapannya untuk datang ke konser Sigur Ros, Mei mendatang. Salah satu mimpi yang semoga saja terkabul.

     Saya bahagia mempunyai teman-teman yang memiliki banyak mimpi. Selain Hayu, tentu saya tidak akan pernah melupakan teman penuh mimpi saya, Windy. Mungkin gaji yang dia dapat tidak jauh beda dengan saya. Tapi apalah yang bisa dilakukan gaji kecil bila kita punya mimpi yang jauh lebih besar. Tahun lalu, Windy berhasil menghadiri konser artis kesayangannya yang tergabung dalam menejemen SMTown. Konser artis-artis Korea yang menjadi konser terbesar selama tahun 2012 itu bisa dia hadiri.

     Dan tahun ini, harapan-harapannya bisa saya baca tiap pagi di linimasa. Hampir sama seperti apa yang saya lakukan sejak akhir tahun kemarin, Windy menuliskan harapannya sambil menghitung mundur hari yang entah apa itu. Hampir sama, namun saya menulis kalimat sapaan selamat pagi pada Shintaro Ikeda setiap harinya. Shintaro Ikeda hanya perwakilan dari banyak atlet yang ini saya temui tahun ini. Maksud dari twit saya tiap pagi itu adalah agar saya bisa menonton Indonesia Open SSP 2013.

     Dan itu hanyalah satu dari banyak mimpi saya tahun ini. Semoga semua harapan yang terbang ke langit diterima oleh Tuhan dan dikabulkan oleh-Nya. Amin.

     Jadi tetaplah bermimpi, tetaplah berharap. Barengi dengan usaha dan doa serta kepercayaan bahwa semua mimpi kita akan dihijabah oleh-Nya.


Bab Sponsor

     Saya adalah bingung.
Iyak, saya bingung mau ngapain. Mau keluar cari hore-hore tapi ini adalah tanggal jompo yang mana seharusnya memang saya tetap tinggal di kamar dari pada hidup saya dua hari ke depan terhenti. Mau nyelesaiin baca buku, rasanya males banget. Mau nonton tv aras-arasen banget. Maka saya bukalah "kamar" paling hangat ini, tempat favorit saya karena di sinilah saya bisa menyalurkan hobi saya cuap-cuap yang terlalu banyak bila ditulis di twitter, dan terlalu sayang untuk ditulis di facebook. Tapi lagi-lagi, saya bingung mau nulis apa.

      Mau ngomongin bulutangkis, sebenernya sih lagi nggak ada yang bisa diomongin. Kecuali tentang lelang atlet pelatnas kemarin. Info dari koh Rudy (staf Hubungan Internasional PBSI), beberapa atlet telah menerima pinangan dari sponsor apparel yang telah mengajukan bid kemarin siang. Beberapa sponsor asing dan lokal bersaing untuk "membeli" atlet yang dilelang kemarin. Li Ning yang biasanya menjadi sponsor The Mighty Team, Cinak, berhasil menarik perhatian Simon Santoso, Debby Susanto dan Sony DK dan satu lagi siapa ya lupa. Jadi nantik merk bajunya Simon sama Chen Long sama gitu *ya terus?*.

     Sponsor lama, Yonex, juga ikut ambil bagian. Tidak lupa Victor Sport, yang produknya biasa dipake sama si Mr. You Know Who juga ngikut. Adalah Liliyana Natsir, salah satu atlet yang akhirnya menerima lamaran Victor. Kemudian ciye-ciye pun bertebaran di linimasa saat para penggila tepok bulu tau akan hal ini.

     Kenapa? Ya begitulah. Udah lama para pecinta bulutangkis yang rata-rata juga cintak matik sama Mr. You Know Who menjodohkan Butet dan elyedeh. Padahal yang dijodoh-jodohin sih nggak ngerti mungkin. Tapi khayalan para remaja beranjak dewasa yang salah satunya adalah SAYA (saya-nya harus kapital biar gua keliatan mudak) ini memang benar-benar setinggi gunung Himalaya. Jadilah pas kemaren koh Rudy ngetwit tentang Butet yang milih Victor untuk menjadi sponsornya, khayalan yang hanya bisa dilampiaskan dengan "ciye-ciye" di timeline masing-masing ini pun meledak lagi.

     Masih ingat di OG 2012 kemarin, di babak grup Owy/Butet lawan LYD/HJE, pas mereka masuk lapangan terus salaman, di twitter serempak "ciyeeee". Saya yang nonton sendirian di kamar aja sampai nunjuk ke arah tv sambil ciye-ciye juga *oke, kalo ini masuk ke level gila*. Apalagi waktu Owy/Butet akhirnya menang mudah dari Korean ini, mars ciye-ciye pun membahana mengatakan kalo elyedeh kalah karena saking cintaknya sama ci Butet. Okesip.

     Dan sekarang saya harus nengok ke kiri, ke arah tembok samping tempat tidur, di mana beberapa fotonya si cutie ini terpampang dengan gagah sambil senyum semanis madu biar makin semangat nulisnya *sumpah ini penting abis*.

     Melihat lelang pemain kemarin, saya makin yakin dengan keseriusan pengurus PBSI yang baru ini. Sponsor pemain yang biasanya dilakukan secara kolektif (sebelumnya sponsor atlet adalah Yonex), di periode ini dirubah besar-besaran. Produk-produk yang tidak pernah terlihat terlibat di bulutangkis dan tidak pernah mengadakan turnamen bulutangkis ikut ambil bagian dalam dalam kesempatan ini. Sebut saja teh botol Sosro dan perusahaan jamu Sidomuncul.

     Jadi nantik di bajunya atlet kita ada tulisan Sidomuncul atau Sosro gitu ye? Hahahahaaahaa...

     Tim Cinak aja di jersey bagian depannya ada tulisan FedEx. Dan kalau kita lihat juga nggak cuma FedEx, ada beberapa merk lain di baju mereka. Nah nanti di jersey anak-anak pelatnas juga nggak sepi lagi. Selama ini kan cuma ada lambang Yonex sama lambang merah-putih aja, nanti mungkin di celana ada tulisan "apapun makanannya, minumnya teh botol Sosro", atau ada fotonya alamarhum mbah Marijan di baju mereka :D

     Dan dengan adanya sponsor individual ini, tentunya uang yang akan mereka terima juga akan bertambah. Selain uang saku dari PBSI, gaji dari sponsor juga akan memenuhi tabungan mereka.

     Sebagai pelatnas paling mandiri di Indonesia, PBSI setidaknya berusaha menjamin kehidupan para atlet di masa tua nanti. Jadi tidak ada lagi mantan atlet yang hidupnya kekurangan di masa tuanya setelah tidak lagi mampu membela Indonesia. Karena ya semua orang tau, tidak ada jaminan dari negara bagi para atlet di hari tuanya.

     Untung saja, atlet di era Susi Susanti ke sini, sudah mampu hidup berkecupan. Karena mungkin selain gaji materi yang mereka dapatkan dari bulutangkis jauh lebih banyak dibanding atlet di era sebelumnya, mereka juga mampu mengelolanya.

     Susi Susanti dan suaminya, Alan Budikusuma, berhasil mendirikan Astec yang bergerak di bidang produk-produk olahraga serta beberapa usaha lain yang terbukti sukses. Haryanto Arby berhasil dengan Flypower-nya yang logonya banyak kita lihat di jersey atlet PB Djarum dan beberapa atlet PB Jaya Raya. Dan kedua merk milik mantan-mantan pencetak emas tersebut sebentar lagi akan kita lihat dipakai para atlet pelatnas.

     Begitu pula dengan "golden boy" Indonesia, Taufik Hidayat, yang sepertinya memiliki materi yang cukup untuk hidup anak-cucunya :D

     Jadi, ini bisa disebut kerjasama dari atlet untuk atlet.

     Bintang dari Victor Sport sendiri sekarang adalah Lee Yong Dae, yang tahun lalu juga menjadi Man Of The Year-nya Victor. Siapa tau aja gitu ya, tahun ini atau tahun depan akan ada iklan Victor yang menampilkan Lee Yong Dae dan Liliyana Natsir sebagai bintangnya. Ciyeeeee....

     Si Mr. Mangap-aje-seksi ini pasti seneng kalo nanti syuting iklan Victor bareng Butet *ini apa ya?*.

     Nah, senin besok nih katanya akan ada lelang tahap II untuk 60 atlet yang kemaren belum dapet sponsor. Dan mungkin untuk produk-produk kayak Sosro tadi ya. Soalnya yang kemaren itu baru lelang untuk apparel doang kayaknya.

     Semoga aja semakin banyak produk-produk yang berminat untuk menjadi sponsor atlet bulutangkis kita ya. Biar bulutangkis juga tetap bisa jadi olahraga yang paling paling mandiri di negeri ini. Bukan maksud memandang sebelah mata pada olahraga yang lain, tapi kan memang kenyataannya begitu.

     Di saat pelatnas dari cabor lain sibuk mempersiapkan atletnya menyambut Sea Games 2013 di Myanmar, bulutangkis anteng adem ayem aja karena ya memang tiap hari mereka udah di pelatnas. Kalaupun di rasa skuad di pelatnas kurang, tinggal panggil atlet pro yang ada di luar pelatnas. Toh kualitas mereka juga sama dengan yang ada di dalam. Karena turnamen yang diikuti pun sama, hanya beda tempat latihan saja.

     Maka nggak heran kalau di Sea Games 2011 lalu, bulutangkis berhasil jadi JUARA UMUM. Iya kita juara umum. Dan pemain yang turun bukan hanya atlet pelatnas saja. Simon Santoso yang kala itu berhasil menyabet emas perseorangan dan berhasil mengantarkan tim putra juara, mengaku, bahwa tidak ada persiapan khusus untuk menyambut Sea Games. Mereka masih tetap ikut turnamen seperti biasanya.

     Terus karena sekarang udah maghrib jadi kita sudahi saja dulu cuap-cuap sore ini. Dadaaaahhhh...

Monday, January 21, 2013

In The Middle Of The Traffic

     Postingan ini ditulis di atas metromini 62 jurusan Pasarminggu - Manggarai. Karena bosen dari tadi nggak gerak-gerak juga ini bis, hujan juga nggak berhenti netes di kaca jendela, dan tentunya macet yang menjadi sahabat setia warga Jakarta.

     Otakku memang nggak pernah jauh dari bulutangkis. Dan hampir semua postingan di "tempat sampah" ini juga nggak jauh-jauh dari olahraga yang satu itu. Dan di tengah kemacetan dan hujan yang turun ini aku tiba-tiba ingat the bulutangkis prince yang foto-fotonya berjejer di tembok kamarku. Iyak, siapa lagi kalo bukan si anu alias Lee Yong Dae.

     Sering banget aku mimpiin manusia yang satu ini saking seringnya kebayang-bayang muka dan senyumnya. Dan yang bikin mimpiku lebih mirip drama Korea adalah karena mimpinya selalu roaming. You know what? Iyak, mimpi ane pake bahasa Korea. Canggih banget bisa bahasa Korea? Oohh tentu tidak. Aku sama sekali nggak ngarti itu sama bahasa yang kalo diucapin bikin mulut monyong-monyong asik. Taunya cuma anneyong haseo doang *ini bener apa kagak nulisnya sebodo' amat*.

     Jangan heran kalo aku bisa lancar cas cis cus pake bahasa ginseng itu di mimpi. Namanya juga mimpi. Ane mah mimpinya lintas negara, benua dan tentunya bahasa. Tergantung siapa yang ada di dalem mimpi.

     Pernah waktu itu aku lancar ngomong bahasa Jepang pas mimpi ketemu Shintaro Ikeda. Terus juga jago begete pake bahasa enggres waktu mimpiin Jason Mraz. Kenapa bisa begitu? Ya namanya juga mimpi.

     Jadi kenapa malah ngomongin mimpi? Ya namanya juga pemimpi :D

     Sebenernya aku bingung ini mau nulis tentang apa. Tapi dari pada bingung death style a.k.a mati gaya di atas metromini gara-gara macet, ya mending kita coba mengajak jemari kita menari di atas keypad handphone yang sering bikin typo kelas tinggi ini.

     Denger-denger sih hari ini lagi ada rapat pleno di Cipayung. Denger-denger juga lagi ada bid tender untuk sponsor atlet pelatnas hari ini. Denger-denger lho ini. Kita mah tunggu beritanya aja besok.

     Menurut salah satu staf PBSI yang tadi sempet ngetwit, anggaran PBSI kurang lebih 91 milyat dan semuanya usaha sendiri tanpa subsidi pemerintah *beraaasss kali di subsidi*. Mungkin tetep ada sih ya dana APBN dari pemerintah tapi jumlahnya jelas tidak akan memenuhi standar. Denger-denger dari gosip sih, dana APBN terbesar dikucurkan untuk PSSI. Gosip lho ini, jangan buru-buru dilaporin pulisi, entar ane dituduh yang tidak-tidak. Waktu itu sih pernah baca di portal berita online tentang hal ini. Ya wajarlah ya kalo banyak orang berebut kursi di PSSI, kucuran dananya gede ye nggak?

     Ini terlalu serius kayaknya -_-"

     Ane sih cenderung nggak pengen tau tentang dana dari pemerintah atau apapun. Toh walaupun dana tersebut nggak sebesar kucuran buat lembaga nyang onoh, Indonesia Open SSP 2012 tetap dinobatkan sebagai the best in the world 2012. Bangga dong kita? Sebagai warga Indonesia dan sebagai orang yang ikut berpartisipasi sebagai penonton yang hampir kehabisan suara dan masuk angin karena dari subuh sampe tengah malem cuma makan sekali doang itupun se-bekal berdua, ane tetap bangga dan merasa bahagia. Semoga tahun 2013 ini, Indonesia Open SSP tetap jadi yang terbaik di dunia.

     Padahal sih mungkin segi stadion yang kita gunakan masih kalah jauh dari negara-negara lain kayak Cinak atau negerinya Datok Lee Chong Wei sekalipun. Tapi bisa diakui, dari mulai masuk ke area Istora, suasana kalo kita lagi punya hajatan besar kerasa banget. Ada shuttle cock segede bis patas ac *oke, ini lebay*, dan pager masuk istora yang kalo pas kita masuk rasanya kayak masuk ke dunia yang isinya bulutangkis doang.

     Aku sama Pipit sih waktu itu dareng lewat belakang karena harus parkir motor jadi nggak ngerasain lewat pintu yang bisa membawa kita ke dunia lain. Tapi ya lumayan karena pas waktu itu kami dateng pagi, jam setengahan 7 udah keliling Istora dan baru ada bapak-bapak pulisi (atau tentara) yang badannya eerrrr itu lagi pada duduk-duduk santai.

     Dan bonus dateng pagi adalah bisa liat atlet-atlet Cinak yang pada dateng dengan berjalan kaki. Iyak jalan kaki. Li Xuerui si peraih medali OG itu jalan kaki sendirian dari hotel ke Istora. Nggak ngeri diculik ilmuwan buat diteliti apa ya tuh bocah?

     Saking senengnya liat atlet-atlet Cinak pagi-pagi, sampe lupa itu namanya si manis Chai Biao. Baru inget namanya pas udah di dalem.

Ini by the way ane udah mau sampe kantor, jadi dadah dulu kita nyak. bubaaaayyyy..







photo source : google